Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Komikus Malang: Iran Patahkan Stigma Negara Religius yang Tertinggal

Published

on

Diskusi hangat di warung kopi Malang mempertemukan aktivis ABI dan budayawan, membedah Iran sebagai negara religius yang justru maju dan menantang stigma global. (Dok. ABI)

Malang, Kamis 20 April 2026 — Malam itu, perbincangan hangat di sebuah warung kopi di salah satu sudut Kota Malang menjadi ruang bertemunya gagasan dan silaturahim. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kota Malang Ustadz Segaf Assegaf, bersama Muhammad dari Divisi Pemberdayaan Ekonomi (PE) DPD ABI Kota Malang, bertemu dengan budayawan Malang, Aji Prasetyo.

Pertemuan santai di sela ngopi malam itu berkembang menjadi pembahasan serius mengenai Iran, negara yang menurut Aji selama ini kerap dipahami secara keliru oleh banyak pihak.

Aji Prasetyo dikenal sebagai komikus yang tak hanya aktif berkarya melalui panel-panel visual, tetapi juga kerap melontarkan pemikiran kritis tentang sejarah, budaya, dan dinamika global. Dalam diskusi tersebut, ia mengakui pernah mengikuti pandangan umum bahwa negara religius identik dengan keterbelakangan.

“Dulu ada anggapan—yang saya pikir cukup masuk akal—bahwa negara yang terlalu religius biasanya masyarakatnya tertinggal, baik pola pikir maupun ekonominya. Namun belakangan saya sadar, Iran adalah pengecualian,” ujar Aji.

Menurutnya, Iran justru menunjukkan bahwa identitas religius dapat berjalan beriringan dengan kemajuan intelektual dan kemandirian nasional.

Lebih jauh, Aji menyoroti bahwa dalam konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, institusi pendidikan Iran kerap menjadi sasaran serangan. Ia menilai hal tersebut bukan sesuatu yang kebetulan.

“Lihat saja selama perang kali ini, kenapa sekolah dan kampus di Iran jadi salah satu sasaran favorit rudal-rudal Amerika? Karena bagi Amerika, kecerdasan rakyat Iran adalah ancaman,” tegasnya.

Pandangan tersebut mendapat respons dari Segaf Abdillah. Menurut Ketua DPD ABI Kota Malang itu, keistimewaan Iran tidak bisa dilepaskan dari fondasi sistem politik yang dianut negara tersebut.

“Yang membuat Iran berbeda dari yang lain adalah Iran menerapkan Sistem Otoritas Kepemimpinan Islam, Wilayat al-Faqih, sebagai dasar konstitusi negara yang melalui referendum mendapat penerimaan mayoritas rakyat. Sistem ini diimplementasikan secara demokratis dalam berbagai sektor sehingga meraih pencapaian keunggulan di berbagai bidang,” jelas Ustadz Segaf.

Diskusi malam itu berlangsung akrab namun sarat substansi. Percakapan di ruang sederhana seperti warung kopi membuktikan bahwa tempat informal pun dapat menjadi arena bertemunya ide, refleksi, dan pembacaan kritis atas isu-isu global.

Bagi Aji Prasetyo, momen semacam itu justru menjadi sumber inspirasi penting: mengolah realitas, menantang asumsi lama, dan menghidupkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terlalu lama dibiarkan tidur. [HMP Kota Malang]