Daerah
Departemen PSDM DPW ABI DKI Jakarta Gelar Pelatihan Budidaya Maggot BSF

Jakarta, 16 Agustus 2026 — Persoalan sampah organik di Jakarta tidak hanya membutuhkan solusi dari pemerintah. Masyarakat juga dapat mengambil peran melalui pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Semangat itulah yang diusung Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) DKI Jakarta melalui pelatihan Budidaya Maggot BSF dari Rumah, Minggu (16/8/2026).
Pelatihan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 13.00-15.00 WIB tersebut ditujukan untuk membekali kader ABI se-Jakarta dengan keterampilan mengolah sampah organik rumah tangga menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF), atau yang lebih dikenal sebagai maggot.
Program tersebut dinilai relevan dengan persoalan sampah di Jakarta. Setiap hari, Jakarta menghasilkan sekitar 7.700-8.000 ton sampah. Sekitar 43 persen di antaranya merupakan sisa makanan yang sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Melalui budidaya maggot BSF, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai media pakan larva sekaligus mengurangi volume limbah yang harus dibuang ke TPA. Maggot yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak dan ikan.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip circular economy, yakni mengubah sesuatu yang semula dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Pelatihan menghadirkan Noor Fatin, profesional di bidang budidaya maggot BSF, sebagai narasumber. Peserta berasal dari sejumlah unsur DPD ABI di Jakarta, yakni Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara, serta jajaran DPW ABI DKI Jakarta.
Namun, pelatihan tersebut tidak dirancang berhenti pada peningkatan keterampilan peserta. Para kader yang mengikuti pelatihan diharapkan dapat menjadi penggerak sekaligus fasilitator di wilayah masing-masing.
Dengan demikian, mereka nantinya dapat memberikan pelatihan lanjutan kepada anggota ABI maupun masyarakat di lingkungan sekitar DPD. Pola tersebut diharapkan membuat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat menyebar hingga tingkat akar rumput.
Untuk mendukung penerapan hasil pelatihan, peserta juga memperoleh sejumlah fasilitas. Di antaranya ebook panduan teknis budidaya maggot BSF, rekaman video pelatihan yang dapat dipelajari kembali, serta rekomendasi tempat pembelian berbagai perlengkapan budidaya maggot.
Wakil Ketua Departemen PSDM DPW ABI DKI Jakarta, Safri Ichsan, mengatakan antusiasme peserta menunjukkan mulai tumbuhnya kesadaran kader terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah organik.
“Alhamdulillah, pelatihan ini berjalan lancar dan direspons sangat antusias oleh kader-kader dari seluruh DPD se-Jakarta. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah organik sudah mulai tumbuh di kalangan kader ABI,” ujar Safri.
Menurutnya, pelatihan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan transfer pengetahuan teknis. Lebih jauh, program itu diharapkan melahirkan kader yang mampu mengembangkan pengetahuan tersebut di tengah masyarakat.
“Kami tidak ingin ilmu ini berhenti di peserta yang hadir hari ini saja. Harapan kami, mereka bisa menjadi fasilitator yang menularkan keterampilan budidaya Maggot BSF ini ke anggota ABI dan masyarakat sekitar, sehingga dampaknya benar-benar terasa di lingkungan masing-masing DPD,” katanya.
Safri menambahkan, pengelolaan sampah dengan budidaya maggot juga memiliki potensi ekonomi. Dengan modal yang relatif terjangkau, kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif usaha sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Selain menyelesaikan masalah sampah dari akarnya, kegiatan seperti ini juga membuka peluang usaha mandiri bagi kader, dengan modal yang relatif kecil tapi manfaatnya besar, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” ujarnya.
Departemen PSDM DPW ABI DKI Jakarta berharap pelatihan budidaya maggot BSF dapat menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong kader untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan lingkungan.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader, tidak hanya dalam aspek organisasi, tetapi juga melalui keterampilan praktis yang dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing.

