Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

ABI dan KH Nasrulloh Afandi Merawat Kebersamaan di Tengah Perbedaan Mazhab

Published

on

Suasana silaturahmi ABI dengan KH Nasrulloh Affandi di kompleks Pesantren Balekambang, Jepara, Rabu (15/4/2026), yang menjadi ruang dialog lintas mazhab dan penguatan kebersamaan umat. (Dok. ABI)

Jepara, 16 April 2026 — Silaturahmi Ahlulbait Indonesia (ABI) ke kediaman KH Nasrulloh Afandi di kompleks Pondok Pesantren Balekambang, Jepara, Rabu malam, 15 April 2026, menjadi ruang dialog lintas mazhab di tengah sensitivitas isu keagamaan. Pertemuan ini menegaskan pentingnya persatuan umat sebagai fondasi stabilitas sosial sekaligus membuka ruang komunikasi antar Mazhab Islam.

Rombongan ABI dipimpin pengurus DPD ABI Jepara, Ketua Abdul Nasir, Bendahara Nur Alim, dan Divisi Humas Mohammad Ali. Turut mendampingi Ustadz Miqdad Turkan, pengasuh Pesantren Darut Taqrib Jepara, serta Muhlisin Turkan dari Humas, Media, dan Penerangan (HMP) DPP ABI.

Sejumlah tokoh dan pengurus pesantren juga hadir, antara lain Sayyid Haidar Al-Edrus, Haji Hasan, dan Gus Ahmad Zabidi dari Pesantren Putri Bintul Huda.

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang perkenalan dan dialog antara organisasi muslim Syiah dan tokoh ulama dari latar belakang Nahdlatul Ulama.

“Perbedaan tetap ada, namun kebersamaan harus dijaga. Perbedaan adalah realitas yang akan selalu ada, tetapi banyak hal yang bisa dikerjakan bersama untuk kebaikan umat dan bangsa,” ujar Miqdad Turkan mengawali perkenalan.

Dalam pertemuan tersebut, KH Nasrulloh Afandi menempatkan isu perbedaan dalam kerangka maqashid syariah, yakni tujuan utama syariat Islam yang menekankan kemaslahatan bagi seluruh manusia.

Ia mengawali penjelasannya dengan merujuk pada pandangan Imam Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat. “Syariat Islam diturunkan untuk menjaga kemaslahatan manusia,” ujarnya, mengutip kaidah ‘anzilat asy-syari’ah al-islamiyyah li ri’ayah mashalih al-‘ibad‘.

“Islam diturunkan untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk kelompok tertentu, apa pun suku, budaya, dan latar belakangnya,” lanjutnya.

Pada titik ini, perbedaan tidak lagi menjadi masalah utama, melainkan cara menyikapinya yang menentukan apakah menjadi jembatan atau justru jurang.

Menurutnya, pengalaman saat bertugas di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, khususnya dalam bidang kerukunan umat beragama, membentuk pendekatan yang lebih dialogis. Ia kerap mengunjungi berbagai daerah untuk menjaga harmoni sosial.

Nasrullah juga mencontohkan praktik toleransi di Oman, di mana masyarakat dari berbagai mazhab, termasuk Ibadi, Sunni, dan Syiah, tetap hidup berdampingan tanpa menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik.

“Di sana perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru menjadi bagian dari kehidupan bersama,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa respons terhadap perbedaan sering kali dipengaruhi tingkat pemahaman.

“Orang yang kurang pemahaman cenderung mudah menyalahkan pihak lain. Semua ingin diseragamkan sesuai keyakinannya, padahal itu tidak realistis,” katanya.

KH Nasrullah juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru dalam menyikapi perbedaan serta menghindari pelabelan yang dapat memperkeruh hubungan antarumat.

Menurutnya, dalam praktik sosial, penilaian terhadap kelompok keagamaan tidak selalu murni teologis, melainkan kerap dipengaruhi dinamika yang lebih luas.

Sosok Gus Nasrul dan Tradisi Keilmuan Pesantren

KH Nasrulloh Afandi, Ketua Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), dikenal dengan sapaan Gus Nasrul. Selain aktif berdakwah di berbagai daerah, ia juga kerap menyampaikan kritik konstruktif terhadap dinamika internal organisasi keagamaan.

Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat menjadi kunci utama menjaga kekuatan umat.

“Belakangan ini banyak yang berada di struktur organisasi membuat protokoler dan menjaga jarak dengan masyarakat. Itu kurang tepat,” ujarnya.

Ia menilai sikap tersebut berpotensi melemahkan hubungan antara organisasi keagamaan dan akar rumput.

Gus Nasrul memiliki latar belakang pesantren yang kuat. Pendidikan dasar ilmu kitab kuning, termasuk nahwu, sharaf, dan fikih, diperoleh langsung dari ayahnya, almarhum KH Afandi Abdul Muin, ulama kharismatik dari Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu yang dikenal luas dalam penguasaan ilmu klasik.

Jejak keilmuan tersebut terhubung erat dengan tradisi besar Nahdlatul Ulama. KH Afandi Abdul Muin dikenal memiliki kedekatan dengan KH Abdurrahman Wahid, serta merupakan bagian dari jaringan pesantren Tebuireng dan Tambakberas yang diasuh para tokoh pendiri NU.

Kini, Gus Nasrul mengabdikan diri di Pondok Pesantren Balekambang, Nalumsari, Jepara, salah satu pesantren tertua di Indonesia yang telah berdiri lebih dari 140 tahun.

Penutup

Dalam konteks tersebut, silaturahmi ini tidak hanya menjadi pertemuan formal, tetapi mencerminkan upaya membangun jembatan di tengah perbedaan. Di tengah dinamika keagamaan yang kerap mengeras, pendekatan dialog menunjukkan bahwa ruang kebersamaan tetap tersedia bagi pihak-pihak yang memilih untuk saling memahami.

Pada akhirnya, persatuan tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk tetap bersama di tengah perbedaan.[]