Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

Ayatullah Behjat: Menjaga Kesucian Sejak Kecil, Menempuh Jalan Ridha Ilahi

Published

on

Ayatullah Behjat dikenang karena kesederhanaan, kedalaman spiritual, dan keteladanannya dalam menjaga akhlak serta hubungan dengan Allah.
Ayatullah Behjat dikenang karena kesederhanaan, kedalaman spiritual, dan keteladanannya dalam menjaga akhlak serta hubungan dengan Allah. (Foto: Mehrnews)

Ahlulbait Indonesia, 16 Mei 2026 — Nama Ayatullah Muhammad Taqi Behjat dikenang bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi karena cara hidupnya yang sederhana dan sangat terjaga. Banyak orang datang kepadanya untuk mencari jawaban agama, tetapi tidak sedikit yang justru pulang dengan kesan tentang ketenangan dan kehati-hatian beliau dalam menjalani hidup sehari-hari.

Landasan kehidupan Ayatullah Behjat bertumpu pada dua hal yang terus beliau tekankan sepanjang hidupnya, yaitu takwa kepada Allah dan menjaga kesucian jiwa sejak masa kecil. Orang-orang terdekatnya menyebut bahwa perhatian beliau terhadap dosa dan kebersihan batin sudah terlihat sejak usia sangat muda.

Baca juga: Biografi Filsuf Muslim, Ayatullah Murtadha Muthahhari

Menurut keluarganya, sekitar usia 12 tahun beliau telah menunjukkan kedalaman ruhani yang tidak biasa bagi anak seusianya. Beliau dikenal sangat menjaga diri, sedikit bicara, dan memiliki perhatian besar terhadap keadaan batin manusia. Sejak masa remaja, hidupnya diarahkan untuk ilmu dan penyucian jiwa.

Beliau lahir di kota Fuman, Iran. Setelah menempuh pendidikan dasar agama, perjalanannya berlanjut ke pusat-pusat keilmuan Syiah. Di sana beliau belajar kepada tokoh-tokoh besar seperti Mirza Naini, Syekh Muhammad Husain Gharaawi Isfahani, dan terutama Sayyid Ali Qadhi Thabathaba’i yang sangat memengaruhi kehidupan spiritualnya.

Menjalani Ibadah sebagai Jalan Hidup

Ayatullah Bahkat ketika masih muda. (Mehrnews)

Ayatullah Bahkat ketika masih muda. (Mehrnews)

Meski dikenal memiliki pengalaman-pengalaman ruhani yang tinggi, Ayatullah Behjat tidak suka membicarakan hal-hal semacam itu. Beliau beberapa kali mengingatkan bahwa tujuan ibadah bukan mencari karamah atau pengalaman gaib, melainkan mendekat diri kepada Allah.

Salah satu ucapannya yang paling dikenal berbunyi,

“Jika seseorang mencari gandum, maka sekam pun akan mengikutinya.”

Maksud ucapan itu sederhana. Jika seseorang sungguh-sungguh mencari Allah, hal-hal lain akan datang dengan sendirinya tanpa perlu dikejar.

Baca juga: Biografi Singkat Imam Khomeini

Kesehariannya dipenuhi disiplin yang ketat. Waktu-waktu pendek yang bagi banyak orang dianggap sepele sering beliau isi dengan zikir. Bahkan ketika berjalan mengambil buku atau berpindah tempat duduk, bibirnya tetap bergerak pelan membaca doa atau dzikir pendek.

Beliau tidak menyukai banyak kegiatan yang dianggap menghabiskan waktu tanpa manfaat. Menonton televisi terlalu lama atau membaca hal-hal yang tidak perlu dianggapnya sebagai bentuk kelalaian yang perlahan menghabiskan umur manusia.

Tidurnya juga sangat sedikit. Pada malam-malam tertentu beliau memilih beristirahat sambil duduk agar tidak terlalu lelap dan lebih mudah bangun untuk salat malam.

Namun kezuhudan itu tidak membuatnya keras terhadap orang lain. Justru orang-orang di sekitarnya mengenal beliau sebagai pribadi yang lembut dan penuh perhatian.

Shalat memiliki tempat paling penting dalam hidupnya. Jamaah Masjid Fatimiyah di Qom sering menyaksikan beliau menangis saat membaca ayat-ayat tertentu dalam shalat. Kadang suaranya berhenti beberapa saat karena menahan tangis. Suasana masjid pun berubah hening.

Baca juga: Buya Hamka: Biografi Sang Pembaharu

Bagi Ayatullah Behjat, shalat bukan rutinitas harian yang dijalankan karena kewajiban. Shalat adalah tempat seseorang berbicara dengan Allah dan kembali menata hatinya.

Kecintaannya kepada Ahlul Bait terlihat dalam kebiasaannya berziarah. Selama puluhan tahun beliau rutin pergi ke Mashhad untuk berziarah kepada Imam Ridha. Dalam satu tahun, beliau bisa tinggal sekitar dua setengah bulan di kota itu.

Rutinitasnya selama di Mashhad hampir tidak berubah. Beliau bangun jauh sebelum adzan Subuh, beribadah beberapa waktu, lalu berjalan menuju haram sebelum fajar menyingsing. Putranya pernah menceritakan bahwa sepulang dari haram, wajah Ayatullah Behjat sering tampak lebih segar dan bersemangat.

Di Qom, beliau juga hampir setiap hari datang ke Haram Sayyidah Masumah. Di sana beliau duduk lama membaca doa ziarah dan Doa Jami’ah Kabirah dengan suara pelan.

Baca juga: Biografi Singkat Ayatullah Muhammad Taqi Bahjat

Kedekatan dengan Umat dan Kehidupan Keluarga

Meski dikenal sebagai seorang arif, Ayatullah Behjat tidak hidup jauh dari persoalan umat Islam. Beliau mengikuti perkembangan dunia Islam dan sering terlihat sangat sedih ketika mendengar kabar penderitaan kaum Muslimin.

Kadang kesedihan itu memengaruhi kondisi fisiknya. Orang-orang dekatnya menyebut bahwa setelah mendengar berita tentang musibah besar yang menimpa umat Islam, tenaga beliau saat mengajar bisa berkurang.

Beliau sering mengatakan bahwa manusia modern hidup di zaman yang penuh godaan dan kekacauan. Karena itu, beliau banyak menekankan doa untuk kemunculan Imam Zaman sebagai harapan bagi lahirnya keadilan.

Di rumah, sisi lain kepribadiannya terlihat lebih jelas. Beliau senang duduk makan lebih lama bersama keluarga agar ada kesempatan berbincang dengan anak-anak dan cucunya. Suasana hangat seperti itu sengaja dijaga.

Beliau juga sangat menjaga ucapan. Dalam mendidik anak, beliau tidak menyukai kata-kata kasar. Dengan nada bercanda beliau pernah berkata,

“Kalau ingin berkata kasar, katakan saja ‘biji delima’.”

Ucapan itu sederhana, tetapi memperlihatkan bagaimana beliau menjaga kebersihan lisan bahkan dalam hal-hal kecil.

Dalam urusan harta, kehidupannya sangat sederhana. Sebagai seorang marja, banyak dana syariah berada di bawah tanggung jawabnya. Namun beliau hampir tidak mengambil bagian untuk dirinya sendiri. Sebagian besar diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Keluarganya pernah bercerita bahwa ada masa ketika persediaan beras di rumah hampir habis karena bantuan yang datang lebih dahulu dibagikan kepada orang lain.

Baca juga: Biografi al-Habib Husein al-Habsyi Bangil

Warisan Ilmu dan Keteladanan

Di bidang ilmu, Ayatullah Behjat tetap dikenal sebagai salah satu ulama besar fikih dan ushul pada zamannya. Bertahun-tahun beliau mengajar di Najaf dan Qom serta mendidik banyak murid.

Karya-karyanya seperti Jami’ul-Masa’il, Mabahitsul Ushul, dan catatan atas Dzakhiratul ‘Ibad menunjukkan ketelitian ilmiahnya.

Meski begitu, beliau tidak menyukai ketenaran. Perlu waktu lama sampai akhirnya beliau bersedia menerbitkan risalah amaliyah dan menerima posisi marja’iyah secara terbuka.

Pada 17 Mei 2009, Ayatullah Behjat wafat di Qom pada usia 93 tahun akibat serangan jantung. Berita wafatnya cepat menyebar dan ribuan orang memadati prosesi pemakamannya.

Bagi banyak orang, kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang ulama, tetapi kehilangan sosok yang selama puluhan tahun mengingatkan bahwa agama tidak cukup dijaga dengan ilmu semata. Agama juga harus hidup dalam perilaku sehari-hari.

Makam beliau di Haram Sayyidah Masumah hingga hari ini masih ramai diziarahi orang-orang yang mengenangnya sebagai ulama yang hidup sederhana, berhati lembut, dan menjaga hubungannya dengan Allah secara sungguh-sungguh.

Kehidupan Ayatullah Behjat memperlihatkan bahwa jalan spiritual tidak selalu dibangun dengan hal-hal besar. Kadang jalan itu tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus, seperti menjaga lisan, menghormati waktu, membantu orang lain, dan berusaha menjauh dari dosa sejak usia muda. []

Baca juga: Pemimpin Baru Iran antara Spiritualitas dan Politik: Siapa Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei?

Continue Reading