Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

98 Hari Sebelum Syahid, Surat Ali Larijani kepada Istri dan Hal yang Tak Sempat Dibalas

Published

on

Ali Larijani menulis untuk satu orang, istrinya, Farideh. Surat itu bertanggal 18 Azar 1404 kalender Persia, bertepatan dengan 8 Desember 2025, 98 hari sebelum syahid. (Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia | 17 April 2026 — Surat itu singkat, tanpa ambisi untuk menjadi sesuatu yang besar. Namun justru di situlah bobotnya.

Ali Larijani menulis untuk satu orang, istrinya, Farideh. Surat itu bertanggal 18 Azar 1404 kalender Persia, bertepatan dengan 8 Desember 2025, 98 hari sebelum syahid. Teks ini baru dipublikasikan oleh Fars News Agency, tanpa pengantar panjang atau penjelasan berlapis. Teks ini berdiri sendiri, dan dari sana, wajah yang jarang tampak dari seorang tokoh publik mulai muncul.

Larijani membuka dengan ucapan selamat atas kelahiran Sayyidah Fatimah az-Zahra (as), sebuah pembuka yang tenang dan akrab. Namun arah tulisan perlahan bergeser. Nada formal mereda, digantikan suara yang lebih dekat dan jujur.

Di titik itu, Larijani tidak lagi berbicara sebagai pejabat. Ia menulis sebagai seorang suami yang melihat kembali perjalanan hidupnya. Dalam kalimat sederhana, Larijani mengakui tidak akan pernah mampu membalas seluruh pengorbanan istrinya. Peran itu bukan hanya mengurus keluarga, tetapi juga menanggung konsekuensi dari hidup yang terus terseret tugas negara.

Lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam, kehidupan normal hampir tidak pernah benar-benar hadir. Waktu habis, ruang pribadi menyempit, dan hari-hari bergerak mengikuti tuntutan tanpa jeda. Situasi itu menjadi semakin berat dalam konteks perang yang dipicu Israel dan Amerika Serikat. Jarak dengan keluarga memanjang, sementara kekhawatiran tidak pernah benar-benar pergi.

Tulisan itu kemudian kembali ke satu hal yang lebih sunyi, ketabahan. Larijani menempatkan Farideh di titik itu. Bukan hanya sebagai pendamping, melainkan penyangga yang menjaga keseimbangan. Dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan pandangan jauh ke depan, beban yang berat tetap dapat dijalani tanpa kehilangan arah. Larijani menyebut istrinya berilmu, berakhlak, salehah, dan penuh pengorbanan. Ia berhenti di sana. Tidak semua hal membutuhkan penjelasan.

Menjelang akhir, arah tulisan meluas dengan tenang. Dari ruang keluarga, tulisan itu melebar ke lingkup yang lebih luas. Larijani meminta agar para istri dan anak-anak syuhada tetap diperhatikan, terutama dalam situasi perang. Jika ada kebutuhan, bantuan diupayakan.

Surat itu ditutup tanpa dramatisasi. Tidak ada kalimat besar, tidak ada upaya untuk meninggalkan kesan yang dibuat-buat. Hanya hormat dan kasih yang disampaikan secukupnya, seperti seseorang yang ingin memastikan hal penting tidak tertinggal.

Kini, setelah Larijani tiada, surat itu menemukan jalannya sendiri. Di tengah pernyataan resmi, pidato politik, dan berbagai analisis, teks sederhana ini justru memperlihatkan sesuatu yang jarang muncul. Bukan sisi yang dibangun untuk publik, melainkan sisi yang lebih dekat, lebih manusiawi.

Sebuah surat untuk satu orang, yang pada akhirnya dibaca oleh banyak orang.

Surat untuk Farideh, ditulis sebelum syahid, berisi penghormatan dan pengakuan atas pengorbanan keluarga

Surat untuk Farideh, ditulis sebelum syahid, berisi penghormatan dan pengakuan atas pengorbanan keluarga

Berikut seks surat tersebut:

Bismihi Taala

Istriku tercinta, Farideh

Saya mengucapkan selamat atas hari-hari penuh berkah kelahiran Sayyidah dua alam, Fatimah az-Zahra (as).

Apa yang dapat saya katakan. Lidah saya tak mampu menjangkau seluruh pengorbanan dan kebijaksanaan Anda dalam mengelola keluarga, juga kesabaran dan dedikasi yang Anda curahkan demi kepentingan bangsa.

Saya tahu, tak akan pernah mampu membalas seluruh jerih payah Anda. Harapan saya hanya tertuju pada karunia Ilahi, agar dalam perhitungan-Nya, kekurangan-kekurangan saya ditutupi.

Lebih dari empat dekade sejak Revolusi Islam berlalu, hampir tak ada hari yang memberi ruang bagi kehidupan yang wajar bagi kita. Terlebih di masa kini, ketika perang yang kejam dilancarkan oleh rezim Zionis dan Amerika. Kekhawatiran yang Anda tanggung, serta jarak saya dari keluarga, kian menambah berat keadaan. Namun ketabahan, kesabaran, dan pandangan jauh ke depan yang Anda miliki telah membuat semua itu lebih ringan untuk dijalani. Atas semua pengorbanan, kebijaksanaan, dan akhlak mulia itu, saya menyimpan penghargaan yang dalam.

Anda memiliki tempat di hati saya. Kedudukan Anda di sisi saya tiada bandingnya. Saya selalu berbangga memiliki istri yang berilmu, berakhlak, salehah, dan penuh pengorbanan. Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Besar atas anugerah yang bercahaya, lahir dan batin, yang diberikan kepada saya melalui diri Anda. Saya dan anak-anak mencium tangan penuh kasih Anda, dan menempatkannya dengan penuh hormat.

Jika berkesempatan, mohon untuk menengok para istri syuhada dan anak-anak mereka, terutama dalam masa perang ini. Sampaikan salam saya kepada mereka. Jika terdapat keperluan, agar diupayakan untuk membantu.

Hormat saya,
Ali Larijani