Video
Trump Kalah di Beijing? Fakta di Balik Pertemuan Xi–Trump | Analisis Geopolitik Muhajir
Jakarta, 19 Mei 2026 – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing memicu berbagai spekulasi mengenai arah hubungan kedua negara di tengah meningkatnya rivalitas global. Mulai dari isu Iran, Taiwan, hingga keamanan jalur energi dunia di Selat Hormuz, pertemuan tersebut dinilai mencerminkan semakin kuatnya posisi tawar Beijing dalam menghadapi Washington.
Simak juga: Persatuan Umat Islam Di Tengah Krisis Global
Analisis tersebut disampaikan jurnalis Muhajir dalam Podcast Ahlulbait Indonesia yang tayang pada Senin, 19 Mei 2026. Dalam pembahasannya, Muhajir menyoroti sejumlah aspek yang dinilai luput dari perhatian banyak media internasional, terutama terkait hasil konkret yang dibawa Trump setelah pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Menurut Muhajir, salah satu pesan paling tegas yang muncul dari pertemuan itu adalah sikap China terhadap Taiwan. Xi Jinping kembali menegaskan bahwa Taiwan merupakan kepentingan inti China yang tidak dapat dinegosiasikan. Posisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Beijing tidak memberikan ruang bagi tekanan politik Amerika Serikat terkait isu kedaulatan nasionalnya.
Selain Taiwan, pembahasan juga menyinggung posisi Iran dalam dinamika hubungan AS-China. Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi salah satu mitra strategis penting bagi Teheran, baik dalam sektor energi maupun kerja sama ekonomi jangka panjang. Kondisi tersebut membuat setiap upaya Washington untuk menekan Iran berpotensi berhadapan dengan kepentingan geopolitik Beijing.
Simak juga: Pendeta Kristen Ini Bela Palestina!
Muhajir juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz dalam percaturan global. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Setiap ketegangan yang melibatkan Iran dapat berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan minyak internasional dan kepentingan ekonomi negara-negara besar, termasuk China dan Amerika Serikat.
Dalam perspektif yang lebih luas, pertemuan Xi dan Trump dinilai menjadi cerminan perubahan lanskap kekuatan global. Jika sebelumnya Amerika Serikat mendominasi hampir seluruh agenda geopolitik internasional, kini China tampil sebagai kekuatan yang semakin percaya diri dalam mempertahankan kepentingan strategisnya.
Melalui analisis tersebut, Muhajir mengajak publik melihat hubungan Washington dan Beijing tidak hanya sebagai persaingan ekonomi atau perdagangan, tetapi juga sebagai kontestasi pengaruh politik, keamanan, teknologi, dan energi yang akan membentuk arah tatanan dunia pada dekade mendatang.
Simak juga: Iran di Atas Angin! AS Terpojok di Meja Perundingan Islamabad?
Pembahasan dalam podcast ini mencakup pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping, posisi Iran dalam negosiasi AS-China, isu Taiwan sebagai garis merah Beijing, arti strategis Selat Hormuz bagi perdagangan global, serta perkembangan terbaru rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan China.
Analisis ini sekaligus membuka ruang diskusi mengenai apakah dunia sedang memasuki fase baru pergeseran keseimbangan kekuatan internasional dan sejauh mana Amerika Serikat mampu mempertahankan pengaruhnya di tengah meningkatnya daya tawar China. []
Simak juga: Amerika Seret Indonesia? Iran, Selat Malaka, dan Ancaman Perang Besar







