Internasional
IRGC: Iran Akan Menjadi Kekuatan Adidaya Dunia

Media ABI, 25 Oktober 2026 – Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, meyakini Iran akan meraih kemenangan mutlak dalam perang akhir zaman dan menjadi kekuatan adidaya dunia. Menurutnya, konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan hanya pertarungan militer, melainkan juga menyangkut identitas, agama, kebudayaan, dan peradaban Iran.
Baca juga: Menlu AS Ajak Warga Kuba Bekerja Sama dengan CIA
Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Keempat tentang Kedudukan Salat bagi Angkatan Bersenjata di Provinsi Qazvin, Sabtu (24/10/2026). Menurut laporan Kantor Berita IRNA, Mohebi mengatakan, “Dengan izin Allah, nasib kita dalam perang akhir zaman ini adalah kemenangan mutlak. Insyaallah, kita akan menjadi kekuatan adidaya dunia.”
Mohebi memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi berdampak pada bangsa-bangsa lain, tidak hanya Iran. Untuk menghadapi situasi yang berkembang, ia menyerukan persatuan nasional dan penguatan kemampuan dalam negeri.
Konfrontasi dengan AS dan Israel Melampaui Medan Militer
Mohebi menyebut identitas Iran dan Islam sebagai salah satu poros utama konfrontasi dengan AS dan Israel. Menurutnya, kedua negara itu berupaya melemahkan dan memecah belah Iran, mengikis identitas serta kebudayaannya, lalu menggantinya dengan nilai-nilai yang mereka kehendaki. Dalam konteks ini, Mohebi juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai Iran dan perang peradaban.
Pertarungan tersebut, lanjut Mohebi, menyentuh nilai, keyakinan, kebudayaan, serta cara bangsa Iran memandang dirinya dan masa depannya. Karena itu, mempertahankan negara berarti menjaga perbatasan dan kekuatan militer sekaligus melindungi identitas sejarah, keyakinan agama, dan kebudayaan bangsa.
Mohebi menggambarkan peradaban Iran-Islam sebagai warisan sejarah ribuan tahun yang berkembang dengan dimensi baru setelah hadirnya Islam. Pelemahan peradaban tersebut, menurutnya, merupakan ancaman terhadap jati diri bangsa Iran. Menjaga nilai-nilai budaya dan agama pun menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.
Baca juga: Wall Street Journal: Maskapai Penerbangan Ramai-Ramai Menghindari Wilayah Udara Arab Saudi
Salat dan Ketahanan Masyarakat
Dalam pemaparannya, Mohebi menempatkan salat sebagai fondasi pembentukan identitas spiritual dan akhlak. Salat, menurutnya, memperkuat hubungan manusia dengan Allah, menumbuhkan kebajikan, serta membangun keteguhan dalam menghadapi kesulitan. Nilai-nilai tersebut juga berperan dalam memperkuat ketahanan masyarakat dan membentuk tanggung jawab kepemimpinan.
Untuk menjelaskan kedudukan salat dan doa, Mohebi merujuk kisah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, perubahan arah kiblat yang berkaitan dengan Bani Salamah, serta Surah Al-Ma’arij. Berbagai rujukan itu menggarisbawahi pentingnya ibadah yang tercermin dalam akhlak, integritas, dan pelaksanaan tanggung jawab, bukan berhenti pada ritual.
Mohebi juga menyoroti dimensi lahiriah dan batiniah salat. Dalam kehidupan berbangsa, nilai-nilai spiritual dipandang sebagai salah satu penopang ketahanan masyarakat dalam menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
Baca juga: The Guardian: Israel Gunakan Taser Buatan AS untuk Menyiksa Tahanan Palestina
Keteguhan Rakyat dan Tanggung Jawab Nasional
Mohebi menegaskan bahwa keteguhan spiritual diperlukan oleh semua lapisan masyarakat, termasuk pejabat dan komandan. Kedisiplinan beribadah, seperti salat malam dan ibadah sunah, menurutnya, berkaitan dengan kesiapan menghadapi tantangan dan menjalankan tanggung jawab. Untuk menekankan peran ibadah malam dalam membangun keteguhan, Mohebi merujuk Surah Al-Muzzammil.
Dalam kaitan dengan tanggung jawab nasional, Mohebi menyerukan agar Republik Islam Iran dijaga. Mempertahankan negara, menurut pandangannya, merupakan tindakan yang baik, sedangkan upaya melemahkannya adalah sesuatu yang keliru. Seruan tersebut disertai penekanan pada pentingnya persatuan di tengah konfrontasi yang berlangsung.
Pada kesempatan itu, Mohebi mengenang para syuhada Revolusi Islam, Perang Pertahanan Suci, dan Perang Ketiga yang Dipaksakan, termasuk Syahid Sayyid Ali Khamenei, para ilmuwan, serta korban lainnya dalam serangan AS-Israel. Pengorbanan mereka menjadi bagian dari penghormatan yang disampaikan Mohebi, yang juga mengungkapkan harapan akan pertolongan Allah dan keteguhan rakyat Iran.
Menutup pernyataannya, Mohebi menyerukan persatuan nasional dan tanggung jawab bersama untuk menjaga keutuhan wilayah, kemerdekaan, kebudayaan, identitas, dan peradaban Iran. Ketahanan bangsa, tegasnya, tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada persatuan dan kemampuan menjaga jati diri. []
Baca juga: Profesor UEA Sebut Israel Rezim Paling Dibenci, Siapa Peringkat Kedua?







