Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Di Tengah Duka Nasional Iran, Serangan Baru AS Guncang Bandar Abbas

Published

on

CENTCOM

Ahlulbait Indonesia, 8 Juli 2026 – Ketika jutaan rakyat Iran masih mengiringi prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran selatan. Operasi tersebut berlangsung di tengah masa berkabung nasional dan ketika prosesi pemakaman masih menuju puncaknya di Kota Masyhad.

Reuters (7 Juli 2026) melaporkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyerang lebih dari 80 sasaran yang diklaim berkaitan dengan kemampuan militer Iran, meliputi sistem pertahanan udara, pusat komando, fasilitas rudal antikapal, lokasi peluncuran pesawat nirawak, serta aset Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di sekitar Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di kawasan Bandar Abbas dan wilayah pesisir sekitarnya. Hingga berita ini ditulis, Reuters belum mengonfirmasi bahwa Pelabuhan Shahid Haghani menjadi sasaran langsung, sementara informasi tersebut masih berasal dari sejumlah media Iran.

Baca juga: Puluhan Pesawat Tempur dan Pengebom AS Tinggalkan Asia Barat

Teheran mengecam operasi tersebut sebagai pelanggaran terhadap komitmen penghentian permusuhan. The Guardian pada (8 Juli 2026) menilai serangan terbaru itu memperbesar risiko gagalnya proses deeskalasi yang sebelumnya mulai terbentuk. Pada saat yang sama, Associated Press pada (8 Juli 2026) melaporkan prosesi penghormatan kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei berlangsung di Najaf dan Karbala sebelum jenazah diterbangkan ke Masyhad untuk dimakamkan pada 9 Juli 2026 di dekat kompleks suci Imam Ali ar-Ridha a.s.

Beberapa jam setelah serangan Amerika, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Aksi balasan tersebut menandai kembalinya konfrontasi terbuka setelah upaya gencatan senjata yang dibangun beberapa pekan sebelumnya.

Perkembangan ini melampaui dimensi militer. Operasi Washington secara efektif menghentikan momentum politik yang sebelumnya dibangun melalui gencatan senjata dan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan perundingan lanjutan. Menurut Reuters, kerangka tersebut dirancang untuk menghentikan aksi militer, menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dan membuka kembali ruang diplomasi.

Baca juga: Trump Ultimatum Iran: Damai Lewat Kesepakatan atau Hadapi Opsi Militer

Iran menilai serangan militer dan pencabutan kelonggaran sanksi ekspor minyak sebagai pelanggaran kesepakatan. Sebaliknya, Amerika Serikat menyatakan Iran lebih dahulu melanggar gencatan senjata melalui serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Terlepas dari perbedaan narasi tersebut, satu hal menjadi jelas: ketika rudal kembali diluncurkan, kepercayaan yang menopang proses damai ikut runtuh. Gencatan senjata kehilangan daya ikat politiknya, diplomasi berganti dengan logika kekuatan, dan Timur Tengah kembali memasuki fase konflik yang mengancam stabilitas kawasan serta keamanan energi global. []

Baca juga: Jenderal Qaani: Prosesi Pemakaman Syahid Ayatullah Ali Khamenei di Irak Perkuat Solidaritas Iran-Irak