Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC Tetapkan Syarat Buka Kembali Selat Hormuz

Published

on

Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebi saat berbicara dalam pertemuan dengan para pengelola media di Provinsi Markazi, Iran, 9 September 2026.
Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebi saat berbicara dalam pertemuan dengan para pengelola media di Provinsi Markazi, Iran, 9 September 2026.

Media ABI, 9 September 2026 – Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan kembali dibuka tanpa sejumlah persyaratan. Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, mengatakan penghentian perang dan ancaman baru menjadi salah satu tuntutan utama Iran untuk mengembalikan stabilitas kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan Mohebi dalam pertemuan dengan para pengelola media di Provinsi Markazi, Rabu siang, 9 September 2026. Fars News Agency melaporkan pernyataan itu pada hari yang sama.

Mohebi menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik strategis dalam konflik. Sebelum perang, sekitar 15 juta barel minyak dan 5 juta barel produk minyak disebut melintasi jalur tersebut setiap hari. Menurutnya, volume itu kini turun tajam dan dampaknya mulai terasa pada rantai pasok global.

Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, 820 Tentara Terluka dan 18 Tewas

“Geografi bukan hanya tempat perang, tetapi telah menjadi alat perang,” kata Mohebi.

Tekanan yang ditimbulkan konflik, menurut Mohebi, tidak berhenti pada lalu lintas energi. Rantai pasok global juga disebut ikut terdampak, mulai dari pupuk kimia dan bahan pangan hingga chip elektronik. Dia menilai konflik telah menyentuh berbagai kebutuhan vital dunia.

Mohebi kemudian memaparkan kondisi yang disebutnya sebagai dampak perang terhadap Amerika Serikat. Menurutnya, Washington sebelumnya memiliki cadangan minyak 415 juta barel, tetapi jumlah tersebut kini turun menjadi 298 juta barel.

Amerika, kata Mohebi, tidak dapat menurunkan cadangannya hingga di bawah 150 juta barel karena keterbatasan teknis untuk mengambil minyak dari gua-gua garam. Dia juga menyebut pasokan solar mengalami penurunan tajam, sementara tekanan terhadap transportasi truk meningkat dengan aktivitas yang mencapai 400 juta mil.

Menurut Mohebi, Amerika tidak memiliki kemampuan untuk menanggung tekanan tersebut.

Baca juga: Setelah 14 Bulan, Rekaman Rudal Iran Hantam Kilang Haifa Akhirnya Dirilis

Di tengah kondisi itu, Iran menyampaikan tuntutannya. Selain penghentian penuh perang dan penghentian ancaman baru, Iran menuntut penarikan tentara Israel dari Lebanon serta berakhirnya blokade terhadap Yaman.

Iran juga meminta pembebasan aset senilai 24 miliar dolar AS yang disebut dibekukan serta penghentian segala bentuk intervensi terhadap kemampuan nuklir dan rudal Iran.

Mohebi menegaskan kemampuan tersebut merupakan milik Iran. Dia mengatakan kemampuan nuklir Iran, berdasarkan fatwa Pemimpin Iran, tidak pernah diarahkan untuk membangun senjata atom dan tidak akan diarahkan ke tujuan tersebut.

Pernyataan mengenai Selat Hormuz itu disampaikan Mohebi saat menjelaskan perubahan karakter perang yang menurutnya kini berlangsung di berbagai arena. Selain teknologi dan perang persepsi, faktor geografis disebut kembali menentukan jalannya konflik.

Bagi Iran, posisi Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan jalur pelayaran dan perdagangan minyak. Menurut Mohebi, perkembangan konflik telah menjadikan geografi bagian dari kalkulasi perang sekaligus alat untuk memberikan tekanan terhadap lawan.

Dengan posisi tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz dikaitkan langsung dengan tuntutan Iran untuk mengakhiri perang dan memulihkan stabilitas kawasan. []

Baca juga: Rudal Balistik IRGC Hantam Fasilitas F-35, F-16, dan F-15 di Pangkalan AS