Daerah
Tim ABI Responsif Berangkat ke NTT Bantu Korban Gempa M 7,7

JAKARTA, 21 Agustus 2026 — Tim Ahlulbait Indonesia (ABI) Responsif berangkat menuju Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Tim tersebut akan menyalurkan bantuan sekaligus melakukan assessment langsung untuk mengetahui kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah terdampak.
Keberangkatan tim dilakukan setelah ABI Responsif membuka donasi secara daring dan melakukan assessment awal selama beberapa hari terakhir. Proses tersebut dilakukan dengan berkoordinasi bersama DPW ABI NTT dan jaringan masyarakat Ahlul Bait yang berada di wilayah terdampak untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat.
Ketua ABI Responsif, Husein Syahid, mengatakan koordinasi dengan pihak di NTT juga mencakup dukungan teknis bagi tim yang akan tiba di lokasi, mulai dari informasi mengenai tempat, kendaraan, hingga rekomendasi lokasi pengadaan kebutuhan logistik.
“Selain masalah informasi, DPW dan teman-teman di sana juga bersedia untuk men-support kita kaitannya dengan informasi bahkan hal-hal pendukung lainnya seperti tempat, kemudian kendaraan dan hal-hal yang lain, rekomendasi-rekomendasi tempat belanja dan lain sebagainya,” ujar Husein.
Menurut Husein, keberangkatan tim membutuhkan waktu karena harus menyesuaikan dengan jadwal transportasi yang tersedia. Tim memilih jalur laut dari Surabaya menuju Labuan Bajo.
Tim dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Kamis (20/8/2026) pukul 20.00 WIB dan diperkirakan tiba di Labuan Bajo pada Sabtu (22/8/2026) pukul 12.35.
Untuk tahap awal, ABI Responsif mengirimkan empat orang anggota tim advance. Tim tersebut akan membawa dan mengelola bantuan yang telah terkumpul melalui donasi, sekaligus melakukan assessment lanjutan secara langsung di lapangan.
Husein mengatakan assessment menjadi bagian penting dari misi tersebut karena kondisi di wilayah terdampak masih dinamis. Gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama membuat situasi dan kebutuhan masyarakat dapat berubah.
“Tim advance ini akan melakukan pengelolaan donasi yang sudah terkumpul beberapa hari ini. Di saat yang sama mereka juga akan melakukan assessment lanjutan secara berkala, real time di lapangan,” kata Husein.
Tim advance juga akan terus mengevaluasi kondisi bencana untuk menentukan apakah diperlukan tambahan personel pada tahap berikutnya. Keputusan tersebut, kata Husein, akan ditentukan berdasarkan perkembangan situasi setelah tim berada di lapangan.
Dari Labuan Bajo, tim selanjutnya akan bergerak menuju sejumlah titik yang ditentukan berdasarkan data terbaru mengenai kondisi masyarakat terdampak. Bantuan akan disalurkan secara bertahap, sementara kebutuhan logistik akan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.
Tim juga direncanakan menyisir wilayah dari Labuan Bajo ke arah barat hingga Nagekeo. Namun, rute dan titik penanganan tetap akan menyesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Pembina ABI Responsif, Ust. Zahir Yahya, mengatakan keberangkatan tim merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana. Menurutnya, kepedulian terhadap korban tidak hanya ditunjukkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui kehadiran dan keterlibatan langsung untuk membantu meringankan kesulitan mereka.
“Yang pertama menunjukkan solidaritas kita kepada para korban, kedua melakukan segala sesuatu yang bisa meringankan kesulitan mereka,” ujar Ust. Zahir.
Ust. Zahir mengatakan bantuan kemanusiaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, baik tenaga, pikiran maupun materi. Ia menilai empati menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan kemanusiaan karena masyarakat yang berada jauh dari lokasi bencana juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan kepedulian terhadap para korban.
“Kalau yang di sana diuji secara fisik, yang jauh dari sana diuji kemanusiaannya,” katanya.
Karena itu, Ust. Zahir meminta anggota tim yang berangkat untuk mengutamakan kepentingan masyarakat terdampak dan menjalankan tugas dengan niat kemanusiaan. Ia juga mengingatkan agar dokumentasi selama kegiatan di lapangan digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana dan kebutuhan masyarakat, bukan untuk memamerkan kegiatan bantuan.
“Pastikan semuanya bukan dalam rangka memamerkan sesuatu, tetapi murni untuk bisa memberikan informasi,” ujar Ust. Zahir.
Berdasarkan pembaruan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa M 7,7 tersebut telah menyebabkan puluhan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah NTT. BNPB juga mencatat bantuan dalam jumlah besar telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
Di tengah proses penanganan bencana yang masih berlangsung, Tim ABI Responsif diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat melalui bantuan yang dibawa serta informasi langsung mengenai kondisi di lapangan. Hasil assessment tim advance nantinya akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.


