Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

Iran dalam Pemikiran Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei

Published

on

Pemimpin Revolusi Islam Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei menyampaikan pesan terkait nota kesepahaman Iran-Amerika Serikat, menegaskan pentingnya menjaga prinsip, hak-hak bangsa Iran, dan Front Perlawanan di tengah terbukanya ruang diplomasi.
Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei dalam konteks pembahasan Tasnim mengenai konsep Iran sebagai kesatuan teritorial, identitas nasional-Islam, dan kekuatan politik.

Media ABI, 8 November 2026 — Dalam pemikiran Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Iran dapat dipahami melalui tiga dimensi utama: sebagai kesatuan teritorial yang membutuhkan keamanan dan kemampuan pertahanan, sebagai masyarakat nasional-Islam dengan identitas historis dan budaya, serta sebagai entitas politik yang bergerak menuju kemajuan.

Artikel Tasnim News berjudul “Iran dar Andisheh-ye Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei” (“Iran dalam Pemikiran Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei”), yang terbit pada 8 November 2026, membahas posisi Iran dalam pemikiran Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei berdasarkan berbagai pernyataan dan pandangannya mengenai Iran serta berbagai dimensinya.

Baca juga: Serangan Yaman Hantam KAFD dan Gedung Aramco di Riyadh

Menurut kajian tersebut, Iran memang dikenal pada peta dunia sebagai sebuah wilayah geografis. Namun, wilayah itu telah melewati perjalanan sejarah selama berabad-abad hingga berkembang menjadi identitas bagi masyarakat yang hidup di dalamnya. Meskipun mengalami berbagai kerusakan, konflik, serta pasang surut militer dan politik, identitas tersebut dinilai mampu bertahan dan terus berkembang. Iran juga digambarkan sebagai pusat kebudayaan dan identitas yang selama berabad-abad menghadapi kolonialisme dan kekuatan hegemonik. Batas-batas wilayahnya mengalami sejumlah perubahan penting dalam beberapa abad terakhir, tetapi kebudayaan yang hidup di dalamnya disebut terus menguat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, menurut kajian tersebut, Iran tetap memiliki kesinambungan budaya meskipun mengalami berbagai pemerintahan dan perubahan intelektual yang luas, mulai dari Iran kuno, masuknya Islam, invasi Mongol, era Safawi hingga periode setelahnya. “Rasionalitas” masyarakat Iran dalam berbagai bentuknya disebut tetap terjaga dari keterputusan dan keterpecahan sejarah. Kajian itu menyebut pemerintahan Pahlavi sebagai satu-satunya pengecualian serius terhadap kesinambungan tersebut. Menurut kajian Tasnim, pemerintahan Pahlavi berupaya mengubah secara mendasar fondasi budaya dan intelektual masyarakat Iran. Upaya tersebut disebut menghadapi perlawanan rakyat Iran dan pada akhirnya melahirkan salah satu gerakan politik-keagamaan terbesar pada abad ke-20.

Pembentukan Republik Islam Iran di bawah kepeloporan ulama Syiah, menurut kajian tersebut, menunjukkan adanya keselarasan yang kuat di antara berbagai unsur identitas masyarakat Iran. Keselarasan itu kemudian dikaitkan dengan kemampuan Iran mempertahankan integritas teritorialnya. Kajian tersebut menilai bahwa kemampuan mempertahankan integritas wilayah Iran selama setengah abad terakhir merupakan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak serangan Rusia terhadap Iran pada 1804 dan terlepasnya Ganja serta kawasan Kaukasus dari Iran. Menurut kajian itu, tidak ada pemerintahan sebelumnya yang mampu mempertahankan Iran dengan tingkat kekuatan seperti yang dicapai dalam periode tersebut.

Baca juga: Rezaei kepada AS: Kalian Sudah Kalah Perang

Karena itu, pandangan para pemimpin Revolusi Islam mengenai “Iran” dan posisi konsep tersebut sebagai entitas geografis, budaya, dan identitas dinilai memiliki arti penting. Dengan hadirnya pemimpin ketiga Revolusi Islam, pertanyaan yang kemudian diajukan adalah bagaimana posisi Iran dalam pemikirannya dan kebijakan apa yang akan ditempuh terhadap berbagai dimensinya.

Tiga Dimensi Iran

Kajian tersebut menyebut bahwa hingga awal Oktober 2026, kata kunci “Iran” telah digunakan sebanyak 105 kali oleh Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei. Dalam berbagai pernyataan itu, ia berupaya menggambarkan dan menjelaskan pandangannya mengenai Iran. Penelaahan terhadap teks-teks tersebut menunjukkan munculnya sejumlah konsep yang mengelilingi gagasan tentang Iran. Jika berbagai konsep itu dikelompokkan secara sistematis, kajian Tasnim membaginya ke dalam tiga dimensi utama.

Pertama, Iran sebagai kesatuan teritorial yang membutuhkan keamanan dan memiliki kemampuan pertahanan. Kedua, Iran sebagai masyarakat nasional-Islam sekaligus identitas historis dan budaya. Ketiga, Iran sebagai entitas politik yang berada dalam jalur kemajuan.

Ketiga dimensi tersebut memiliki hubungan yang erat dan bersama-sama membentuk keseluruhan konsep “Iran” dalam pemikiran Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei. Menurut kajian itu, ketiganya bekerja secara terpadu. Ketiadaan salah satu unsur tersebut dapat mengurangi makna konsep Iran yang dimaksud dan bahkan berdampak terhadap eksistensi Iran.

Lebih jauh, kajian tersebut menempatkan Iran dalam fase baru kehidupannya sebagai kekuatan global dan salah satu pembentuk tatanan internasional baru. Dalam fase tersebut, Iran disebut memiliki misi dan fungsi khusus yang telah dijelaskan oleh Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei pada periode awal kepemimpinannya. Karena itu, gagasan tersebut dinilai perlu menjadi salah satu dokumen strategis penting yang diperhatikan para pembuat kebijakan dan pejabat senior negara.

Karakteristik Iran Masa Depan

Berdasarkan berbagai pernyataan yang dikaji Tasnim, gambaran tentang Iran ideal atau Iran masa depan mencakup sejumlah unsur yang saling berkaitan. Dalam aspek identitas nasional, Iran ditempatkan sebagai perpaduan identitas Iran dan Islam yang bertumpu pada kesinambungan sejarah, budaya, dan misi historisnya. Identitas tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam memahami posisi Iran.

Dalam bidang keamanan dan pertahanan, Iran masa depan digambarkan sebagai negara dengan kesiapan pertahanan yang kuat dan kemampuan militer yang memadai untuk menghadapi berbagai ancaman. Kajian tersebut juga menekankan perubahan orientasi pertahanan menuju kemampuan yang lebih ofensif. Pada bidang ekonomi, karakteristik yang ditekankan mencakup penguatan produksi dalam negeri, dukungan terhadap lapangan kerja, serta pengembangan semangat jihad ekonomi. Pembangunan ekonomi ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam memperkuat kapasitas nasional.

Baca juga: Financial Times: Iran Berpotensi Muncul sebagai Kekuatan Dominan di Teluk

Dalam kebijakan regional, Iran diposisikan sebagai negara yang mempertahankan Poros Perlawanan sekaligus menghadapi kehadiran dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan. Dimensi regional ini menjadi bagian dari orientasi politik Iran dalam menghadapi dinamika lingkungan strategisnya. Pada tingkat global, Iran digambarkan sebagai negara yang mengedepankan kemandirian dan memainkan peran dalam pembentukan tatanan dunia baru. Dengan posisi tersebut, Iran tidak hanya dipandang sebagai aktor regional, tetapi juga sebagai salah satu kekuatan yang berupaya mengambil bagian dalam perubahan struktur internasional.

Sementara itu, rakyat ditempatkan sebagai salah satu unsur utama dalam keseluruhan konsep tersebut. Sumber daya manusia dan kapasitas sosial masyarakat dipandang sebagai kekuatan yang menggerakkan misi historis Iran. Dengan demikian, posisi rakyat tidak berdiri di luar konsep negara, melainkan menjadi bagian dari kekuatan yang menopang perjalanan Iran.

Jika seluruh unsur tersebut disatukan, “Iran” dalam kerangka pemikiran yang dipaparkan Tasnim tidak ditempatkan semata-mata sebagai sebuah wilayah geografis. Konsep tersebut mencakup kesatuan wilayah, keamanan, identitas nasional-Islam, kesinambungan sejarah dan budaya, kekuatan ekonomi, posisi politik, serta peran masyarakat. Dalam kerangka yang lebih luas, seluruh unsur itu ditempatkan dalam visi tentang Iran sebagai kekuatan global yang memiliki misi historis dan peran dalam pembentukan tatanan internasional baru. []

Baca juga: Al-Mashat: Tanduk Setan Menargetkan Rumah dan Pasar seperti Zionis