Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ayatullah Rashad: Pernikahan Imam Ali dan Sayyidah Fatimah Bukan Peristiwa Biasa

Published

on

Ayatullah Ali Akbar Rashad menyebut pernikahan Imam Ali (as) dan Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) sebagai peristiwa besar. (Foto: Mehrnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 18 Mei 2026 — Ayatullah Ali Akbar Rashad menegaskan bahwa pernikahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s, dan Sayidah Fatimah az-Zahra s.a, bukan hanya peristiwa keluarga dalam sejarah Islam, melainkan peristiwa besar yang jejaknya membentang sepanjang sejarah umat manusia.

Baca juga: Perisai, Rumah Sewaan, dan Keluarga yang Mengubah Cara Pandang tentang Pernikahan

Menurut Ayatullah Rashad, berkah terbesar dari pernikahan tersebut adalah terjaganya agama dan terbukanya jalan keselamatan bagi manusia.

Hal itu disampaikannya dalam ceramah pada 1 Dzulhijjah (18/5/2026), bertepatan dengan hari pernikahan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib a.s, dan Sayidah Fatimah az-Zahra s.a,. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai kejadian historis biasa.

“Peristiwa ini berada di dalam jantung tatanan penciptaan dan memiliki dimensi ontologis,” ujarnya sebagaimana dilansir Mehr News Agency.

Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu menjelaskan bahwa salah satu buah terbesar dari pernikahan tersebut adalah terjaganya syariat sepanjang sejarah. Menurutnya, sejarah Syiah, bahkan dunia Islam secara lebih luas, memiliki keterkaitan mendalam dengan keturunan yang lahir dari keluarga Imam Ali dan Sayyidah Fatimah.

Banyak penjaga agama, ulama, dan pewaris ilmu, lanjutnya, berasal dari kalangan sadat yang nasabnya bersambung kepada Rasulullah saw.

“Para mufasir awal Al-Qur’an, fakih-fakih besar, dan para perawi hadis terkemuka muncul dari garis keturunan ini,” katanya.

Ayatullah Rashad menambahkan bahwa banyak warisan ilmu dan makrifat yang sampai kepada umat manusia diwariskan melalui keluarga Ahlulbait a.s, beserta murid-murid mereka kepada generasi-generasi berikutnya.

Baca juga: Muslimah ABI Pasuruan Angkat Keteladanan Sayyidah Fatimah dalam Talk Show Hari Ibu

Dalam penjelasannya, Ayatullah Rashad juga mengangkat konsep “dua cabang hikmah”. Rasulullah SAW, menurutnya, meninggalkan kitab dan hikmah secara bersamaan. Salah satunya adalah hikmah kenabian, sedangkan cabang lainnya merupakan hikmah Ilahi yang diwariskan melalui Imam Ali a.s,, Sayidah Fatimah s.a,, dan keturunan mereka.

Pengasuh Kompleks Hauzah Imam Ridha a.s, itu menegaskan bahwa pernikahan Ali dan Fatimah jauh melampaui ikatan keluarga biasa. Pernikahan tersebut merupakan ikatan eksistensial dan historis yang pengaruhnya menjangkau perjalanan umat manusia.

Ayatullah Rashad menyebut buah dari pernikahan yang diberkahi itu sebagai “Kautsar” atau limpahan kebaikan yang terus mengalir dalam sejarah. Kelanjutan dari Kautsar tersebut, katanya, akan menjadi jalan keselamatan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Baca juga: Peringati Milad Fatimah Zahra dan Imam Ali, ABI Samarinda Khitan 25 Anak

Pada bagian akhir pidatonya, Ayatullah Rashad menyebut awal bulan Dzulhijjah sebagai momentum penghambaan, tahajud, dan keberkahan spiritual. Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada Imam Mahdi a.j, dan seluruh pecinta Ahlul Bait a.s, atas datangnya hari yang penuh berkah tersebut.

Ayatullah Rashad kemudian memohon kepada Allah Swt agar umat Islam diberikan taufik untuk menapaki jalan para wali Allah dan mewujudkan cita-cita para Imam Maksum a.s,. Ia berharap gerakan keagamaan tersebut melahirkan pengaruh besar yang bertahan dalam sejarah manusia. []

Baca juga: Detik-detik Pernikahan Imam Ali dan Sayyidah Fathimah