Internasional
Trump Pulang Tanpa Dukungan Beijing, China Berdiri di Belakang Iran

Ahlulbait Indonesia | 16 Mei 2026 — Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump membangun front tekanan global terhadap Iran berakhir tanpa hasil di Beijing. Presiden China Xi Jinping menolak desakan penghentian impor minyak Iran dan memperingatkan Washington agar tidak memperluas manuver geopolitiknya di Taiwan maupun jalur strategis energi dunia.
Baca juga: Di Beijing Trump Menarik Tangan dan Xi Menarik Masa Depan
Analisis yang dipublikasikan Fars News Agency pada Sabtu (16/5/2026) menunjukkan bahwa pertemuan Trump dan Xi menandai semakin terbukanya rivalitas strategis antara dua kekuatan terbesar dunia. Persaingan keduanya kini tidak lagi terbatas pada perang dagang dan teknologi, tetapi telah meluas ke isu energi, keamanan maritim, dan perebutan pengaruh geopolitik global.
Salah satu agenda utama Washington dalam pertemuan tersebut adalah mendorong Beijing menghentikan pembelian minyak dari Iran. Namun Xi Jinping menolak usulan itu dan menegaskan bahwa hubungan energi dengan Teheran merupakan bagian dari kepentingan strategis nasional China.
Laporan Reuters berjudul “Trump Discussed Sanctioned Chinese Oil Refiners with Xi, Considering Lifting Bans” yang terbit pada 15 Mei 2026 menyebut pembahasan mengenai kilang minyak China yang terkena sanksi Amerika turut menjadi bagian penting dalam dialog kedua pemimpin.
Penolakan Beijing dipandang sebagai pukulan serius bagi strategi Gedung Putih yang tengah berupaya membangun tekanan ekonomi kolektif terhadap Iran melalui jalur diplomasi internasional.
Di sektor keamanan kawasan, China juga mengambil posisi yang bertolak belakang dengan Amerika Serikat. Beijing menolak pendekatan militer untuk mengamankan jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk dan menekankan bahwa eskalasi di Selat Hormuz harus diselesaikan melalui mekanisme politik dan diplomatik.
Baca juga: Startup China Sulap Sanksi AS Jadi Poster Rekrutmen
Sikap tersebut sejalan dengan laporan The Guardian berjudul “Trump Leaves China Without Breakthroughs on Iran, Taiwan or AI” yang dipublikasikan pada 15 Mei 2026.
Pada saat yang sama, Beijing menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam sebagian skema kesepakatan potensial antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait aspek teknis program nuklir Iran. Langkah itu dipandang sebagai sinyal meningkatnya ambisi diplomatik China dalam arsitektur keamanan Timur Tengah.
Meski tetap mempertahankan hubungan strategis dengan Teheran, Beijing tidak menutup peluang memperbesar impor minyak Amerika Serikat guna menggantikan sebagian pasokan Venezuela. China memandang langkah tersebut sebagai kalkulasi ekonomi dan diversifikasi energi, bukan perubahan orientasi geopolitik terhadap Iran.
Laporan The Washington Post berjudul “In Pageantry and Politics, China Summit Yields Xi’s Goal, Equal Footing with U.S.” yang terbit pada 15 Mei 2026 menilai pertemuan tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Xi Jinping untuk menegaskan posisi China sebagai kekuatan global yang setara dengan Amerika Serikat.
Isu Taiwan menjadi salah satu bagian paling sensitif dalam dialog kedua pemimpin. Xi Jinping menyampaikan peringatan langsung kepada Washington mengenai konsekuensi campur tangan Amerika di Taiwan dan kembali menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan kepentingan inti China yang tidak dapat dinegosiasikan.
Dalam salah satu pernyataan paling tajam selama pertemuan, Xi bahkan menggambarkan Amerika Serikat sebagai negara yang sedang mengalami kemunduran. Sejumlah pengamat menilai retorika itu mencerminkan semakin pudarnya pendekatan lama Beijing yang dikenal dengan strategi “kebangkitan damai”, menuju sikap geopolitik yang lebih terbuka dalam menantang dominasi Washington.
Trump kemudian menyalahkan pemerintahan Joe Biden atas melemahnya posisi Amerika Serikat dalam persaingan global melawan China.
Baca juga: Al Mayadeen: Klaim AS soal Perubahan Sikap China terhadap Iran Tidak Berdasar
Di tengah dinamika tersebut, keputusan Iran memberikan kemudahan lintasan bagi kapal-kapal China sebelum kunjungan Trump berlangsung turut dinilai memperlemah proyek koalisi maritim Amerika di kawasan.
Laporan Reuters berjudul “Iran Allowing Transit of Chinese Vessels in Strait of Hormuz, Fars News Reports” yang dipublikasikan pada 14 Mei 2026 menyebut langkah Teheran itu memperkuat ruang gerak Beijing untuk mempertahankan hubungan strategis dengan Iran tanpa harus tunduk pada tekanan Washington.
Secara keseluruhan, hasil kunjungan Trump ke Beijing memperlihatkan bahwa rivalitas Amerika Serikat dan China kini bergerak menuju fase konfrontasi geopolitik yang lebih keras. Iran, Taiwan, energi global, dan jalur perdagangan internasional telah berubah menjadi arena utama perebutan pengaruh antara dua kekuatan terbesar dunia. []
Baca juga: Pengawal Trump Terlibat Bentrok dengan Aparat Keamanan China di Beijing






