Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rincian Operasi Paling Berisiko Pilot Iran Saat Menyerang Pusat Komando CENTCOM di Al Udeid

Published

on

Angkatan Udara Iran membeberkan misi rahasia Sukhoi-24 yang menembus pertahanan berlapis untuk menyerang pusat komando AS di Al Udeid.
Angkatan Udara Iran membeberkan misi rahasia Sukhoi-24 yang menembus pertahanan berlapis untuk menyerang pusat komando AS di Al Udeid.

Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – Angkatan Udara Republik Islam Iran untuk pertama kalinya mengungkap rincian operasi udara paling berisiko selama perang 40 hari, ketika dua pesawat tempur Sukhoi-24 diterbangkan untuk menyerang pusat komando militer Amerika Serikat (CENTCOM) di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Wakil Koordinator Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Pilot Masoud Ja’fari, mengatakan operasi tersebut sejak awal dikategorikan sebagai salah satu misi paling sulit yang pernah dirancang karena menyasar pusat komando udara Amerika di kawasan yang dilindungi sistem pertahanan berlapis.

Baca juga: Reuters: Peringatan Iran kepada Negara Arab Buat AS Urungkan Serangan

Dalam wawancara dengan Televisi Pemerintah Shabekeh Khabar pada Kamis (6/8/2026), Ja’fari menjelaskan bahwa operasi itu semula tidak dipublikasikan karena dianggap sebagai bagian dari tugas institusional Angkatan Udara Iran. Menurutnya, pengungkapan baru dilakukan setelah perang berakhir agar operasi tersebut tercatat dalam sejarah militer Iran.

Menurut Ja’fari, misi terhadap Al Udeid dipercayakan kepada dua pesawat Sukhoi-24 yang lepas landas dari Pangkalan Udara Syahid Douran di Shiraz. Sasaran mereka adalah pusat komando udara Amerika di kawasan yang berada di salah satu pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah.

Ia menjelaskan bahwa pangkalan tersebut dilindungi sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD, sementara pesawat tempur Amerika Serikat dan Qatar melakukan patroli tempur udara (Combat Air Patrol/CAP) secara terus-menerus. Kondisi itu membuat para pilot Iran menyadari sejak awal bahwa mereka akan menghadapi salah satu operasi dengan tingkat risiko tertinggi.

Untuk menghindari deteksi radar, kedua pesawat diterbangkan melintasi Teluk Persia pada ketinggian kurang dari 100 kaki atau sekitar 30 meter di atas permukaan laut. Ja’fari mengatakan penerbangan serendah itu merupakan bagian paling rumit dari operasi karena setelah memasuki wilayah perairan terbuka, pesawat tidak lagi dapat memanfaatkan kontur pegunungan maupun lembah sebagai perlindungan alami dari radar musuh.

Baca juga: WP: Trump Murka kepada Hegseth di Camp David akibat Salah Perhitungan Perang Iran

Beberapa hari setelah operasi berlangsung, sebuah radar over-the-horizon (OTH) berjangkauan sekitar 5.000 kilometer di Al Udeid dilaporkan menjadi sasaran serangan. Ja’fari mengklaim radar strategis tersebut memiliki cakupan pengawasan yang sangat luas hingga mencakup sebagian besar kawasan dan wilayah utara Iran.

Ja’fari juga menyoroti kesenjangan teknologi kedua pihak. Menurutnya, Iran mengandalkan pesawat tempur generasi ketiga, sedangkan Amerika mengoperasikan pesawat generasi 4+, 4++, hingga generasi kelima. Namun, perbedaan teknologi itu, katanya, tidak menghalangi para pilot menyelesaikan misi yang telah ditugaskan.

Mengenai awak pesawat, Ja’fari mengatakan satu pilot yang diidentifikasi sebagai Syahid Kazemi telah gugur dan jenazahnya telah dipulangkan ke Iran. Sementara itu, nasib tiga pilot lainnya masih belum diketahui secara pasti. Ia menyebut Kementerian Luar Negeri, lembaga intelijen militer, dan Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran masih melakukan berbagai upaya untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Ja’fari mengungkapkan bahwa Angkatan Udara Iran telah bertahun-tahun memantau pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan, termasuk Al Udeid, Arifjan, Erbil, Harir, dan Al Dhafra. Menurutnya, pemantauan tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik di masa depan.

Baca juga: Korea Utara: Poros Konfrontasi AS di Asia Harus Dibendung

Ia juga mengatakan bahwa pengalaman panjang menghadapi sanksi membuat para pilot Iran terbiasa menjalankan operasi tanpa bergantung pada GPS maupun sistem navigasi INS. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan pembacaan peta, navigasi konvensional, serta menjaga keheningan elektronik dengan tidak memancarkan sinyal radio selama penerbangan sehingga peluang terdeteksi menjadi lebih kecil.

Menutup wawancara, Ja’fari menyampaikan apresiasi kepada keluarga para pilot dan masyarakat Iran. Ia menilai dukungan publik selama perang tidak hanya memperkuat moral pasukan, tetapi juga menggagalkan berbagai upaya yang ditujukan untuk menciptakan instabilitas di dalam negeri. []

Baca juga: Israel Gagal Bunuh Komandan Baru Brigade Al-Qassam di Gaza