Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

The Guardian: Diplomasi Trump terhadap Iran Sebagai Taman Kanak-kanak

Published

on

Donald Trump menjadi sorotan analisis The Guardian yang menilai pendekatannya terhadap Iran sebagai diplomasi taman kanak-kanak. (Foto: Farsnews Agency)
Donald Trump menjadi sorotan analisis The Guardian yang menilai pendekatannya terhadap Iran sebagai diplomasi taman kanak-kanak. (Foto: Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – Harian Inggris The Guardian menilai pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran diwarnai kebingungan dan inkonsistensi. Dalam analisisnya, surat kabar itu menyebut pola ancaman yang berulang lalu diikuti pembatalan keputusan menunjukkan apa yang disebut sebagai diplomasi taman kanak-kanak.

Menurut laporan The Guardian yang dikutip Fars News pada Kamis (6/8/2026), sejak dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Trump berulang kali mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Teheran, namun dalam waktu singkat berkali-kali menarik kembali pernyataannya.

Baca juga: Ansarullah Luncurkan Rudal Balistik, Ledakan Hebat Guncang Tanker Saudi di Teluk Aden

Laporan itu menyebut pada 23 Juli Trump mengatakan Iran belum merasakan “cukup penderitaan” dan menyatakan tengah mempertimbangkan serangan yang lebih besar dari sebelumnya. Empat hari kemudian, ancaman tersebut dibatalkan.

Pada 31 Juli, Trump kembali menyatakan Amerika akan melancarkan “serangan yang sangat keras” terhadap Iran dan mengklaim Teheran pada akhirnya tidak akan mampu bertahan. Namun sehari kemudian, pernyataan itu kembali ditarik.

The Guardian menilai pola serupa telah berlangsung sejak pecahnya perang. Pada 21 Maret, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran apabila Teheran tidak membuka Selat Hormuz. Ancaman itu berulang kali ditunda. Pada 7 April, Trump menulis bahwa “malam ini sebuah peradaban akan musnah”, tetapi beberapa jam kemudian menjauh dari pernyataan tersebut. Pola yang sama kembali muncul pada 17 dan 18 Mei ketika Trump lebih dulu memperingatkan bahwa “waktu Iran hampir habis”, sebelum sehari kemudian mengumumkan penghentian rencana serangan atas permintaan para pemimpin negara-negara Teluk.

Trump Gagal Ambil Keputusan Sulit

Menurut The Guardian, pola tersebut bukan merupakan strategi yang dirancang secara matang, melainkan cerminan ketidakpastian politik. Surat kabar itu menilai Trump meyakini pendekatan tersebut dapat mengakhiri perang yang dimulai Amerika Serikat dan Israel, tetapi justru berdampak pada menurunnya popularitas domestik Trump serta melemahnya pengaruh Washington di Timur Tengah.

Laporan itu menyebut Trump dinilai kesulitan mengambil keputusan strategis dan kerap dipengaruhi oleh pihak terakhir yang ditemuinya. Setelah bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 21 Juli, misalnya, Trump kembali melontarkan ancaman militer terhadap Iran setelah Netanyahu menawarkan tiga pilihan, yaitu mencapai kesepakatan, melanjutkan tekanan ekonomi dan blokade, atau melancarkan serangan besar.

Namun ketika Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada 1 Agustus menyerukan deeskalasi, Trump kembali menarik ancamannya.

Baca juga: Krisis di Puncak Militer Israel, Angkatan Bersenjata Tolak Perintah Menteri Pertahanan

Teori “Madman” Nixon

The Guardian membandingkan pola komunikasi Trump dengan “Madman Theory” yang pernah digunakan Presiden Amerika Richard Nixon, yaitu strategi membangun citra sebagai pemimpin yang sulit diprediksi agar lawan memilih mundur.

Namun menurut penulis artikel tersebut, Trump berbeda dengan Nixon. Apabila Nixon menggunakan pendekatan itu sebagai bagian dari strategi politik yang terukur, Trump dinilai justru menjadikan ketidakpastian sebagai pola kebijakan.

Laporan itu juga menyoroti perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Amerika dan Partai Republik mengenai perang Iran. Wakil Presiden JD Vance disebut termasuk tokoh yang menentang berlanjutnya konflik dan memperingatkan meningkatnya penolakan kelompok konservatif terhadap kebijakan Israel.

Di sisi lain, Jared Kushner, Steve Witkoff, dan JD Vance dilaporkan mendukung pengurangan eskalasi karena khawatir perang berkepanjangan akan mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan risiko terhadap pasukan Amerika. Sejumlah media Israel menyebut pendekatan tersebut setidaknya dipertahankan hingga pemilu sela Amerika.

Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memperingatkan bahwa perang telah menguras persediaan rudal pencegat dan sistem pertahanan udara Amerika sehingga berpotensi mengancam keamanan pasukan negara itu.

Baca juga: CNN: CENTCOM Kehabisan Ide Hadapi Iran, Cari Strategi Baru Tekan Teheran

Perang juga memicu meningkatnya penolakan di kalangan Partai Republik. Sejumlah senator, termasuk Bill Cassidy dan Ted Cruz, mengkritik kesepakatan terbaru antara Amerika dan Iran serta menyebutnya sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.

Menurut hasil jajak pendapat yang dikutip laporan tersebut, hanya sekitar sepertiga pendukung gerakan MAGA yang masih mendukung kelanjutan perang dengan mempertimbangkan besarnya beban ekonomi.

Menutup laporannya, The Guardian menyatakan penanganan krisis sebesar ini memerlukan kepemimpinan yang tegas dan kemampuan mengambil keputusan secara konsisten. Menurut surat kabar tersebut, kondisi itu tidak terlihat dalam pemerintahan Trump sehingga pendekatan Washington terhadap Iran layak disebut sebagai “diplomasi taman kanak-kanak”. []

Baca juga: Iran Tegas Menolak Klaim Trump: “Tidak Ada Perundingan dengan AS”