Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rezaei: Strategi AS “Perang dan Negosiasi” Berakhir, Iran Kini Masuk Fase Ofensif

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 18 Juli 2026 – Mengutip Mehr News yang terbit pada Sabtu (18/7), penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyatakan strategi Amerika Serikat yang memadukan tekanan militer dan negosiasi terhadap Iran telah berakhir. Ia memperingatkan, jika Washington kembali melanjutkan perang dalam dua hingga tiga hari ke depan, Iran tidak lagi membatasi respons pada pembalasan yang setara, melainkan memasuki fase ofensif dengan sasaran pasukan dan fasilitas militer Amerika di kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei dalam wawancara dengan Televisi Pemerintah Iran pada Jumat (17/7) malam di Teheran. Ia menilai Kesepahaman Islamabad secara hukum maupun praktik sudah tidak berlaku. Rezaei mengatakan telah memperingatkan sejak pertengahan Juli bahwa Presiden Donald Trump akan membatalkan kesepakatan tersebut, sebagaimana Amerika Serikat keluar dari JCPOA. Menurutnya, substansi kesepahaman itu telah habis karena seluruh prasyarat yang diajukan Washington justru dilanggar oleh pemerintah Amerika sendiri.

Ia mengatakan pelanggaran dimulai dari tidak dijalankannya secara penuh gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel dari Lebanon, kemudian berlanjut dengan pembentukan jalur pelayaran di Selat Hormuz di luar mekanisme yang disepakati dengan Iran. Rezaei juga menyebut Amerika menyerang wilayah pesisir Iran, Bandara Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan fasilitas penyulingan air, yang melanggar komitmen untuk menghormati kedaulatan serta integritas wilayah Iran.

Rezaei juga menilai janji fasilitas pendanaan senilai US$12 miliar tidak pernah direalisasikan. Menurutnya, skema tersebut berubah dari pinjaman menjadi pembatasan impor pangan dan bahan baku, bahkan hanya dapat digunakan untuk membeli produk Amerika, sehingga tidak memberikan manfaat nyata bagi Iran.

Menurut Rezaei, sejak awal Washington tidak berniat menjalankan kesepahaman, melainkan menjadikannya bagian dari strategi “perang dan negosiasi” untuk memaksa Iran menerima tuntutannya. Ia mengatakan mekanisme penyelesaian sengketa yang dimediasi Perdana Menteri Pakistan dan Emir Qatar tidak pernah dimanfaatkan Amerika karena berpotensi membuktikan pelanggaran yang dilakukan Washington sendiri.

Rezaei menjelaskan perundingan di Islamabad yang berlangsung sekitar 20 jam hanya membahas isu nuklir. Namun, selama gencatan senjata dua pekan, Amerika disebut justru memperketat blokade maritim, memperkuat persediaan senjata, menambah pesawat pengisian bahan bakar di udara, dan mengerahkan kapal perang tambahan sebelum meminta perpanjangan gencatan senjata. Iran menolak permintaan tersebut, sementara Amerika memperpanjangnya secara sepihak sebelum akhirnya meninggalkan kesepahaman.

Menilai perkembangan terakhir di medan perang, Rezaei menyebut Amerika telah memperluas serangan ke Khuzestan, Bushehr, Hormozgan, dan Sistan-Baluchestan, termasuk menyasar pangkalan militer, rumah sakit, dan jembatan strategis. Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran telah membalas melalui serangkaian serangan yang akan terus ditingkatkan.

Rezaei memperkirakan Washington kini berupaya meraih keuntungan politik melalui opsi baru, seperti menyerang Pulau Khark, kembali menghantam fasilitas nuklir Iran, atau menduduki sebagian wilayah Iran guna memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan. Namun, menurutnya, strategi tersebut tidak lagi efektif karena fase “perang dan negosiasi” telah berakhir.

Rezaei mengatakan pada tahap awal konflik Amerika menargetkan pendudukan Iran, menggulingkan Republik Islam, dan membagi negara itu menjadi lima kawasan, termasuk wilayah kaya energi yang membentang dari Khuzestan hingga Bushehr dan Bandar Abbas. Namun, setelah tujuan tersebut dinilai tidak realistis, Washington disebut mengalihkan perang eksistensial menjadi perang politik melalui tekanan diplomatik dan negosiasi.

Sebagai respons, Rezaei mengatakan Iran kini memasuki fase yang disebutnya sebagai “revolusi nasional”, yang ditandai menguatnya persatuan masyarakat, dukungan terhadap angkatan bersenjata, dan tekad mempertahankan kemerdekaan negara. Ia mengingatkan agar momentum itu tidak direduksi menjadi perdebatan politik karena, menurutnya, itulah yang diinginkan Amerika dan Israel.

Mengenai strategi pertahanan, Rezaei menegaskan Iran selama ini berupaya mencegah meluasnya konflik dengan tidak menyerang pangkalan Amerika di negara-negara tetangga. Namun, jika perang kembali pecah dan meluas ke tingkat regional, kata dia, Iran akan menyesuaikan responsnya.

Rezaei mengatakan pengendalian Selat Hormuz dilakukan untuk melindungi keamanan nasional Iran sekaligus menjaga stabilitas ekonomi global. Di sisi lain, selalu Amerika berupaya memperoleh kendali atas jalur energi dunia melalui Selat Hormuz guna memengaruhi pasar minyak internasional, sesuatu yang menurut Rezaei tidak akan diterima Iran maupun sejumlah negara besar lainnya.

Rezaei juga menegaskan bahwa Iran mampu meluncurkan hingga 1.000 rudal dan 2.000 drone dalam sehari. Namun, menurutnya, kemampuan tersebut belum digunakan secara penuh karena penerapannya disesuaikan dengan pertimbangan operasional agar memberikan dampak maksimal pada tahap yang dianggap paling menentukan.

Namun menurutnya, jika Amerika kembali melanjutkan perang, Iran akan memasuki fase operasi ofensif sehingga pangkalan dan personel militer Amerika di kawasan tidak lagi memiliki jaminan keamanan. Pada saat yang sama, Rezaei mengimbau negara-negara kawasan, termasuk Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Qatar, untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Menutup pernyataannya, Rezaei mengatakan respons Iran akan ditentukan di medan operasi, bukan melalui retorika politik. Ditegaskannya Teheran kini memiliki dua agenda utama terhadap Amerika Serikat, yakni menuntut ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan serta menjalankan pembalasan yang diperlukan demi keamanan jangka panjang Iran.[]