Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ratusan Tokoh Yordania Desak Pasukan AS Angkat Kaki, Khawatir Negara Terseret Perang

Published

on

Ratusan tokoh politik, hukum, dan berbagai kalangan di Yordania menyerukan agar pasukan Amerika Serikat ditarik dari negara mereka. Seruan itu disampaikan melalui surat terbuka yang ditandatangani ratusan figur publik dalam sebuah langkah yang dinilai langka di tengah ketatnya pembatasan terhadap kebebasan berpendapat di Yordania.

Laporan The New York Times menyebut surat terbuka tersebut muncul setelah serangkaian serangan rudal dan drone Iran yang menyasar instalasi militer Amerika Serikat di Yordania dalam beberapa pekan terakhir. Situasi itu memicu kekhawatiran bahwa keberadaan pasukan AS justru meningkatkan risiko keamanan bagi Kerajaan Yordania.

Dalam surat tersebut, para penandatangan menilai kehadiran militer Amerika Serikat tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional Yordania.

“Kami meyakini bahwa kehadiran mereka membuat Yordania menghadapi risiko keamanan, politik, dan ekonomi yang tidak melayani kepentingan nasional, serta meningkatkan kemungkinan negara kami terseret ke dalam konflik regional yang bukan menjadi pihaknya,” demikian bunyi surat terbuka tersebut, sebagaimana dikutip The New York Times, pada Rabu, 29 Juli 2026.

Menurut laporan itu, sebagian penandatangan mengaku terdorong menyampaikan sikap tersebut karena merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan negara. Mereka khawatir keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat menjadikan Yordania sebagai sasaran dalam eskalasi konflik kawasan.

The New York Times juga mencatat bahwa pemerintah Yordania selama bertahun-tahun dikenal membatasi ruang kebebasan berekspresi dan kritik terhadap pemerintah. Karena itu, munculnya surat terbuka yang secara langsung menantang kebijakan keamanan negara dinilai sebagai bentuk protes publik yang tidak biasa.

Hingga kini, pemerintah Yordania belum memberikan tanggapan atas surat terbuka tersebut. Juru bicara pemerintah juga tidak merespons permintaan komentar mengenai tuntutan penarikan pasukan Amerika Serikat maupun tudingan bahwa kebebasan berekspresi di negara itu dibatasi.

Laporan tersebut menyebut Yordania saat ini menampung sekitar 4.000 personel militer Amerika Serikat di sejumlah pangkalan. Negara itu juga menjadi salah satu pusat operasi militer AS di Timur Tengah.

Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari lalu, Teheran membalas dengan serangan terhadap Israel dan sejumlah sekutu Washington di kawasan, termasuk Yordania. Sejak itu, sirene peringatan beberapa kali berbunyi di berbagai wilayah kerajaan tersebut akibat ancaman rudal dan drone.

Continue Reading