Daerah
Peringatan 7 Hari Ustadz Safwan, Ustadz Miqdad: Kematian adalah Pengingat bagi Semua

Yogyakarta, 25 April 2026 — Ratusan jamaah menghadiri acara tahlil tujuh hari wafatnya Ustadz Andi Muhammad Safwan di Husainiyah Ahlul Bait (AB) Jogja, Jalan Sidikan No. 24, Pandeyan, Umbulharjo, Kamis (24/4).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh DPW ABI Jogjakarta bersama DPW IJABI Jogjakarta, Pesantren Mahasiswa Rausyan Fikr, komunitas ibu-ibu Guyub, serta Majelis Huseiniyah Ahlul Bait Jogja. Rangkaian acara meliputi pembacaan Yasin dan tahlil, doa Kumayl, mauidhoh hasanah, hingga doa Faraj sebagai penutup.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Miqdad menegaskan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun. Jika ada manusia yang layak hidup abadi, maka Rasulullah adalah yang paling berhak, namun beliau tetap wafat. Sebaliknya, jika kedzaliman dianggap bisa memperpanjang usia, maka Fir’aun menjadi contoh yang terbantahkan oleh kenyataan, bahwa kekuasaan tidak menyelamatkannya dari ajal.
“Cukuplah kematian sebagai nasihat,” ujarnya, mengutip sabda Nabi, sekaligus mengarahkan jamaah agar menjadikan duka sebagai ruang evaluasi diri.
Perhatian jamaah juga diarahkan pada satu fakta yang kerap diabaikan, bahwa kematian sering datang tanpa tanda yang dapat dibaca manusia. Menurut Ustadz Miqdad, Almarhum dikenal tanpa riwayat sakit yang menonjol, namun tetap dipanggil lebih dahulu. Realitas ini menegaskan posisi manusia sebagai musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju Tuhan.
Gambaran tersebut diperkuat dengan kisah Rasulullah yang menyebut kehidupan dunia hanya persinggahan singkat, seperti seseorang yang berteduh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Pandangan serupa tercermin dalam pernyataan Nabi Ibrahim tentang perjalanannya menuju Tuhan untuk memperoleh petunjuk.
Kematian, menurut Ustadz Miqdad dalam kerangka itu, bukan akhir melainkan perpindahan dari alam fana menuju kehidupan yang abadi. Yang menjadi pembeda bukan peristiwa kematiannya, melainkan kualitas bekal yang dibawa, yaitu amal saleh dan kesiapan batin.
Refleksi juga mengacu pada teladan Ahlul Bait, di antaranya Imam Sajjad yang menggambarkan betapa kesadaran akan kematian mampu mengguncang ketenangan hidup, hingga membuat seseorang kehilangan selera makan, sulit tidur, dan merasa terus diawasi oleh malaikat maut.
Lebih lanjut Ustadz Miqdad menegaskan, dalam penjelasan yang lebih konseptual, kematian disebut sebagai “kiamat kecil”, sedangkan hari akhir merupakan “kiamat besar”. Keduanya tidak berdiri terpisah, melainkan satu rangkaian yang menuntut kesiapan sejak sekarang.
Kemudian Anggota Dewan Syura ABI itu menjelaskan dialog Nabi dengan seorang Badui kembali diangkat sebagai ilustrasi. Pertanyaan tentang kapan kiamat terjadi tidak dijawab dengan waktu, melainkan dengan pertanyaan balik tentang kesiapan amal. Jawaban sang Badui yang mengakui keterbatasan amal namun memiliki cinta kepada Allah dan Rasul, menjadi penegasan bahwa orientasi hati memiliki posisi menentukan.
“Yang menentukan bukan hanya banyaknya amal, tetapi juga kecintaan kepada Allah, Rasul, dan Ahlul Bait,” tegas Ustadz Miqdad.
Dalam konteks tersebut, almarhum Ustadz Andi Muhammad Safwan menurut Ustadz Miqdad dikenang sebagai sosok yang konsisten mengabdikan hidupnya untuk dakwah, memperkenalkan nilai tauhid, serta menanamkan kecintaan kepada Rasulullah dan Ahlul Bait.
Acara ditutup dengan doa Faraj dalam suasana khidmat. Para jamaah yang hadir dalam majelis memperoleh satu kesadaran yang sulit dihindari, bahwa kematian bukan semata-mata penutup kehidupan, melainkan awal dari pertanggungjawaban, dan waktunya tidak pernah bisa ditawar. []

