Internasional
Berangkat ke China, Trump Tulis Surat Rahasia Jika Dirinya Tewas atau Terbunuh

Ahlulbait Indonesia | 14 Mei 2026 — Pejabat senior antiteror Gedung Putih mengungkap Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyiapkan surat rahasia untuk Wakil Presiden JD Vance yang akan dibuka apabila terjadi sesuatu terhadap dirinya.
Pengungkapan tersebut muncul ketika Trump memulai kunjungan diplomatik ke China di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing serta munculnya kekhawatiran baru terkait keamanan presiden AS itu.
Baca juga: Mantan Direktur CIA John Brennan: Saya Lebih Percaya Iran daripada Trump
Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu (14/5/2026), pejabat senior antiteror Gedung Putih Sebastian Gorka mengatakan surat itu disimpan di meja kerja Trump di Gedung Putih sebagai bagian dari protokol suksesi kepresidenan. “Presiden telah menyiapkan seluruh protokol yang diperlukan untuk berbagai kemungkinan,” kata Gorka dalam wawancara podcast tersebut.
Keberadaan surat itu segera menarik perhatian media Amerika, terutama karena muncul ketika Trump akan memasuki usia 80 tahun bulan depan dan setelah dirinya beberapa kali menjadi target percobaan pembunuhan dalam dua tahun terakhir.
Percobaan paling serius terjadi pada Juli 2024 di Butler, Pennsylvania, ketika Trump terluka di bagian telinga akibat penembakan saat kampanye. Dalam insiden tersebut, seorang peserta kampanye tewas. Dua ancaman lain disebut berhasil digagalkan aparat keamanan di West Palm Beach, Florida, dan Washington DC.
Baca juga: Paus Leo XIV Tegaskan Tak Gentar pada Trump
Pengungkapan mengenai surat untuk JD Vance juga bertepatan dengan kehadiran Trump di Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di tengah meningkatnya rivalitas strategis kedua negara.
Sejumlah analis sebelumnya menyoroti tingginya risiko keamanan selama kunjungan tersebut. Namun Gorka menegaskan Presiden AS berada dalam kondisi aman dan seluruh prosedur pengamanan telah dipersiapkan.
Meski isi surat tidak dipublikasikan, keberadaannya dinilai berkaitan dengan mekanisme suksesi kepresidenan Amerika Serikat apabila presiden tewas atau tidak mampu menjalankan tugas negara.
Berdasarkan Amendemen ke-25 Konstitusi AS, wakil presiden akan segera mengambil alih tanggung jawab kepresidenan dalam situasi tersebut. Hingga kini Gedung Putih belum memberikan penjelasan resmi mengenai isi surat maupun prosedur penggunaannya. []







