Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rahasia di Balik Bertahannya Kerumunan Malam Masyarakat Iran di Tengah Perang

Published

on

Warga Iran memenuhi ruang publik pada malam hari dalam mobilisasi sosial yang disebut berkembang menjadi simbol solidaritas nasional dan ketahanan masyarakat pascaperang. (Foto: IRNA)

Ahlulbait Indonesia | 14 Mei 2026 — Ketika perang, tekanan ekonomi, dan ancaman ketidakstabilan diperkirakan akan melumpuhkan kehidupan sosial Iran, yang muncul justru fenomena sebaliknya. Jalan-jalan di berbagai kota Iran tetap dipenuhi warga hingga larut malam. Di sejumlah kawasan, masyarakat membangun pos layanan rakyat, menggelar pertemuan lingkungan, pertunjukan budaya, hingga berkumpul bersama keluarga di ruang publik. Di tengah situasi perang, kerumunan malam di Iran berkembang menjadi fenomena sosial yang terus meluas dan bertahan.

Kantor berita Iran, IRNA, dalam laporan khusus yang terbit Rabu (13/5/2026), menyebut fenomena tersebut tidak lagi dapat dipahami sebagai respons emosional sementara akibat perang. Kehadiran masyarakat di jalan kini dinilai telah berubah menjadi salah satu perkembangan sosial dan politik paling penting di Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Mantan Diplomat AS Sebut Tuntutan Trump agar Iran Menyerah “Menggelikan”

IRNA melaporkan jalan-jalan Iran tetap dipenuhi warga meski perang dan tekanan ekonomi terus berlangsung.

IRNA melaporkan jalan-jalan Iran tetap dipenuhi warga meski perang dan tekanan ekonomi terus berlangsung.

Untuk membaca makna di balik mobilisasi sosial itu, IRNA mewawancarai sosiolog dan anggota lembaga riset budaya serta seni Islam Iran, Sayyid Hossein Shahrestani. Dalam wawancara tersebut, Shahrestani menyebut keberlanjutan kehadiran warga di ruang publik sebagai peristiwa yang “mengejutkan dan bertentangan dengan seluruh prediksi awal”.

Menurut Shahrestani, pada fase awal perang berkembang asumsi bahwa serangan mendadak terhadap elite politik dan keamanan Iran akan memicu kepanikan nasional, memperlemah struktur sosial, lalu membuka jalan bagi keruntuhan internal negara.

Namun perkembangan di lapangan bergerak ke arah berbeda. “Pada pekan pertama, kehadiran masyarakat di lapangan telah membongkar seluruh kalkulasi perang,” kata Shahrestani.

Ia menjelaskan bahwa sebelum konflik berkembang luas, sebagian pihak memperkirakan tekanan militer dan psikologis akan mendorong masyarakat menjauh dari negara serta mempercepat proyek perubahan rezim. Shahrestani menyebut skenario tersebut sebagai “model Venezuela”, yakni situasi ketika tekanan eksternal dipadukan dengan keretakan internal untuk mempercepat delegitimasi pemerintahan.

Akan tetapi, menurut dia, yang terjadi justru “180 derajat berbeda” dari perkiraan tersebut.

Alih-alih meninggalkan ruang publik, masyarakat Iran justru turun ke jalan, membangun solidaritas sosial, dan memperlihatkan dukungan kolektif yang mempersempit jarak antara negara dan masyarakat.

Dalam pandangan Shahrestani, situasi itu memberi ruang bagi angkatan bersenjata Iran untuk mengendalikan keadaan dan mencegah pihak penyerang mencapai sasaran strategisnya. “Atas dasar itu, tahap pertama perang dapat dipandang sebagai kemenangan bagi Iran karena pihak penyerang gagal mencapai tujuan utama mereka,” ujarnya.

Baca juga: Iran Kembangkan Teknologi Nano untuk Regenerasi Tulang

Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Iran mendukung kerumunan malam dan solidaritas sosial pascaperang.

Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Iran mendukung kerumunan malam dan solidaritas sosial pascaperang.

Shahrestani kemudian membagi perkembangan kerumunan malam di Iran ke dalam beberapa fase sosial dan politik.

Pada tahap awal, kehadiran masyarakat di jalan lebih bersifat defensif. Warga turun ke ruang publik untuk memastikan jalanan tidak berubah menjadi arena kelompok anti-pemerintah atau pendukung intervensi asing.

Namun setelah situasi relatif terkendali, karakter mobilisasi warga mulai berubah. “Kerumunan malam tidak lagi hanya berfungsi mencegah kekacauan sosial. Kehadiran masyarakat kemudian berkembang menjadi dukungan aktif terhadap kelanjutan perjuangan dan pencapaian hasil maksimal bagi Iran,” katanya.

Menurut Shahrestani, bila tujuan masyarakat hanya mencegah kerusuhan, maka mobilisasi sosial seharusnya berakhir setelah keadaan stabil. Akan tetapi, keberlanjutan kerumunan malam menunjukkan munculnya orientasi sosial dan politik yang lebih luas.

Ia menilai jalanan di Iran kini tidak lagi hanya menjadi ruang solidaritas, tetapi telah berkembang menjadi arena pembentukan arah sosial dan politik baru. “Jalanan saat ini sedang mendikte lahirnya tatanan sosial dan politik baru serta menuntut peran regional yang lebih besar bagi Iran,” ujarnya.

Bagi Shahrestani, masyarakat Iran telah melewati tahap “menghadang ancaman destabilitas” dan mulai memasuki fase redefinisi ruang politik nasional. Situasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang hadir di ruang publik tidak lagi bergerak hanya sebagai massa pendukung, melainkan mulai memandang diri mereka sebagai bagian dari arah politik negara.

Laporan IRNA juga memuat hasil survei lembaga riset “Namafar” mengenai tingkat partisipasi warga dalam kerumunan malam pascaperang.

Data survei tersebut memperlihatkan fenomena itu bukan mobilisasi terbatas. Sekitar 20 persen responden mengaku telah menghadiri kerumunan malam lebih dari 10 kali, sementara hampir 60 persen menyatakan pernah hadir setidaknya satu kali sejak perang berlangsung.

Baca juga: Subuh Berdarah di Mahyar, Isfahan: Kisah Pasukan Khusus Iran Melumpuhkan MC-130J Commando II AS

Kehadiran warga di jalan disebut memperkuat kohesi nasional dan membentuk tatanan sosial baru di Iran.

Kehadiran warga di jalan disebut memperkuat kohesi nasional dan membentuk tatanan sosial baru di Iran.

Dukungan sosial terhadap kerumunan malam juga terlihat cukup besar, termasuk di kalangan warga yang tidak hadir secara langsung.

Lebih dari 35 persen responden yang tidak pernah ikut dalam kerumunan malam tetap menyatakan memiliki pandangan positif terhadap warga yang turun ke jalan. Adapun kelompok yang sama sekali tidak ikut tercatat sekitar 38 persen dari total responden, dan hanya sebagian kecil dari kelompok itu yang memiliki pandangan negatif terhadap aksi-aksi tersebut.

Berdasarkan temuan tersebut, Shahrestani menyimpulkan bahwa mobilisasi sosial pascaperang di Iran memiliki basis masyarakat yang kuat dan tidak dapat dipandang semata sebagai gerakan institusional negara.

Ia juga menegaskan bahwa warga yang hadir di jalan tidak lagi berasal dari satu kelompok ideologis tertentu. “Kerumunan hari ini bukan hanya representasi satu lapisan sosial atau satu kelompok religius tertentu. Mereka mencerminkan spektrum luas masyarakat Iran, dari berbagai kelas ekonomi, etnis, budaya, dan identitas sosial,” katanya.

Menurut Shahrestani, kondisi tersebut berpotensi memperkuat toleransi sosial dan kohesi nasional Iran, bahkan melampaui dampak langsung perang itu sendiri.

Ia juga menyoroti sikap media Barat terhadap fenomena tersebut. Menurut dia, pendekatan yang paling sering dilakukan media Barat adalah mengabaikan realitas sosial yang sedang berkembang di Iran.

Shahrestani mengatakan demonstrasi kecil yang menentang Republik Islam Iran biasanya cepat memperoleh perhatian media internasional. Sebaliknya, mobilisasi besar masyarakat yang mendukung stabilitas nasional Iran justru cenderung diabaikan.

Ia bahkan menilai skala dan keberlanjutan kerumunan malam di Iran dapat dibandingkan dengan revolusi-revolusi besar dalam sejarah modern. “Bahkan banyak revolusi besar modern tidak memiliki kontinuitas waktu, cakupan geografis, dan keberlanjutan kehadiran rakyat seperti yang terlihat saat ini di Iran,” ujarnya.

Menurut Shahrestani, alasan utama pengabaian tersebut adalah karena “subjek politik” yang muncul di jalan-jalan Iran tidak sesuai dengan narasi dominan media Barat.

Meski demikian, ia menilai fenomena tersebut terlalu besar untuk terus diabaikan. “Persoalan Iran, rakyatnya, dan budayanya kini telah berubah menjadi pertanyaan besar bagi opini publik dunia,” katanya.

Pada bagian akhir wawancara, Shahrestani menekankan bahwa faktor paling penting bagi keberlanjutan kerumunan malam adalah sejauh mana masyarakat merasa benar-benar dilibatkan dalam pembangunan masa depan Iran.

Menurut dia, warga tidak lagi melihat diri mereka hanya sebagai penerima kebijakan negara, tetapi mulai memandang diri sebagai bagian aktif dalam pembentukan masa depan nasional.

Baca juga: Pemimpin Iran: Masa Depan Teluk Persia Tanpa Kehadiran AS

Sosiolog Iran menyebut kerumunan malam warga pascaperang berhasil menggagalkan skenario keruntuhan sosial di Iran.

Sosiolog Iran menyebut kerumunan malam warga pascaperang berhasil menggagalkan skenario keruntuhan sosial di Iran.

Situasi tersebut, kata Shahrestani, mencerminkan tingkat tertinggi partisipasi publik dan pembentukan modal sosial nasional.

Ia juga menggambarkan berbagai aktivitas yang tumbuh di tengah kerumunan malam, mulai dari pendirian pos pelayanan rakyat, pembagian makanan, pertunjukan seni, pembacaan puisi, hingga anak-anak yang melukis bendera Iran.

“Tidak ada perbedaan antara profesor universitas, ibu rumah tangga, pedagang, buruh, atau anak kecil yang menggambar bendera Iran. Semua merasa sedang menjalankan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Shahrestani menilai salah satu dampak paling penting dari fenomena tersebut adalah bangkitnya kembali kehidupan sosial berbasis lingkungan dan komunitas lokal.

Karena itu, ia mengingatkan agar kerumunan malam tidak berubah menjadi kegiatan administratif atau ajang pencitraan lembaga. Menurut dia, kekuatan utama mobilisasi sosial di Iran justru terletak pada karakter spontan dan partisipatifnya.

Di banyak kota Iran, kerumunan malam kini tidak lagi dipahami sebagai reaksi sementara terhadap perang. Jalanan telah berubah menjadi ruang solidaritas sosial, tempat warga merasa memiliki peran langsung dalam menentukan arah masa depan negara mereka. []

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha