Internasional
Trump Akui Kirim Senjata ke Iran untuk Kerusuhan dan Terorisme

Ahlulbait Indonesia | Selasa, 12 Mei 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah mengakui Washington pernah mengirim senjata kepada kelompok-kelompok di dalam wilayah Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump di Oval Office, Senin (11/5/2026) waktu setempat, ketika membahas gelombang kerusuhan dan aktivitas bersenjata yang mengguncang Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan Press TV pada Selasa (12/5/2026), Trump mengatakan kelompok-kelompok tersebut dipersiapkan untuk melakukan aksi melawan pemerintah Iran. Namun, senjata yang dikirim Amerika Serikat disebut tidak sepenuhnya digunakan sesuai rencana Washington.
Baca juga: ABI Lumajang Perkuat Program Ekonomi Kerakyatan dan Konsolidasi Organisasi
“Mereka tidak punya senjata. Mereka tidak punya senapan,” kata Trump kepada wartawan saat menggambarkan kelompok oposisi di Iran. Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan pengakuannya sendiri pada awal tahun ini mengenai pengiriman persenjataan kepada kelompok tertentu di Iran.
Saat itu Trump secara terbuka mengatakan, “Kami mengirim senjata, sangat banyak senjata. Tapi orang-orang yang menerimanya justru menyimpannya sendiri.”
Presiden AS itu kemudian menyebut kelompok Kurdi sebagai pihak yang menerima persenjataan tersebut. Menurut Trump, kelompok itu gagal meneruskan senjata kepada pihak yang diharapkan Washington. “Kelompok Kurdi mengecewakan kami. Mereka terus menerima bantuan. Saya sangat kecewa kepada mereka,” katanya.
Baca juga: DPD ABI Jakarta Timur Hadiri Forum Pencegahan Radikalisme dan Terorisme
Pernyataan Trump membuka kembali pernyataan lama Teheran terhadap Washington terkait keterlibatan Amerika Serikat dalam instabilitas keamanan di Iran. Pemerintah Iran selama ini menegaskan badan intelijen AS dan Israel berada di balik operasi penyusupan, pelatihan kelompok bersenjata, hingga pendanaan aksi kerusuhan di dalam negeri.
Yang mengemuka dari pernyataan Trump bukan hanya pengakuan soal pengiriman senjata, tetapi juga indikasi terbukanya operasi tekanan terhadap Iran melalui dukungan kepada aktor non-negara di dalam wilayah Republik Islam tersebut. Pernyataan itu muncul ketika hubungan Teheran dan Washington berada pada titik paling tegang sejak agresi militer gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Iran sebelumnya mengalami gelombang kerusuhan besar pada akhir Desember hingga awal Januari. Pemerintah Iran menyebut aksi tersebut bermula dari demonstrasi ekonomi, namun berkembang menjadi operasi bersenjata setelah kelompok yang disebut mendapat dukungan asing menyerang aparat keamanan dan warga sipil.
Baca juga: Jubir Kemenlu Iran Skakmat Jurnalis, “Kami Juga Adidaya”

Menurut otoritas Iran, ribuan orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas sepanjang rangkaian kerusuhan dan aksi bersenjata itu. Teheran menilai operasi tersebut dirancang untuk memanfaatkan ketidakpuasan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong destabilisasi politik nasional.
Pemerintah Iran juga menyebut Amerika Serikat menjalankan kebijakan jangka panjang berupa pembiayaan, pelatihan, dan persenjataan kelompok bersenjata di Asia Barat. Kebijakan itu disebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hukum internasional.
Baca juga: F-35 AS Pancarkan Sinyal Darurat 7700 di Selat Hormuz, Tiga Insiden dalam Sepekan Guncang Kawasan
Teheran telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil langkah terhadap apa yang disebut sebagai intervensi langsung Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran.
Pernyataan Trump juga muncul di tengah berlanjutnya tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran. Meski Trump telah mengumumkan gencatan senjata pada 8 April setelah serangan balasan Iran terhadap agresi AS-Israel, Washington hingga kini masih mempertahankan blokade laut terhadap Iran yang oleh Teheran disebut ilegal dan melanggar hukum internasional.
Situasi itu memperlihatkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada tekanan diplomatik dan ekonomi. Pertarungan kedua negara telah bergerak ke ranah operasi keamanan, perang pengaruh, dan dukungan terhadap kelompok nonnegara yang beroperasi di dalam wilayah Iran. []
Baca juga: Iran Kembangkan Teknologi Nano untuk Regenerasi Tulang







