Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

ABI Pekalongan Terima Kunjungan Mahasiswa UIN Walisongo, Bahas Polarisasi Keagamaan

Published

on

Pertemuan Muhammad Sofie Alatas dan mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo, Muhammad Ainunnadlif, pada Senin (11/5/2026), di Sekretariat DPD ABI Kota Pekalongan. (Dok. ABI)

Pekalongan, 11 Mei 2026 — Di tengah menguatnya polarisasi identitas keagamaan di ruang digital dan masih berkembangnya stereotip terhadap mazhab Syiah di sebagian masyarakat, Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kota Pekalongan menerima kunjungan silaturahmi mahasiswa Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Muhammad Ainunnadlif, Senin (11/5/2026), di Sekretariat DPD ABI Kota Pekalongan.

Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu dihadiri Wakil Ketua DPD ABI Kota Pekalongan, Muhammad Sofie Alatas. Dalam suasana dialog yang cair dan terbuka, perbincangan berkembang dari isu hubungan antarmazhab hingga tantangan moderasi beragama di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Muhammad Ainunnadlif, yang tengah menaruh perhatian pada kajian hubungan antarmazhab dalam masyarakat Muslim kontemporer, menilai ruang dialog langsung menjadi penting agar pembahasan mengenai Syiah tidak berhenti pada prasangka dan narasi sepihak.

“Di ruang akademik, sebuah pandangan tidak cukup dinilai dari stigma atau potongan informasi di media sosial. Dialog dan verifikasi langsung penting agar masyarakat tidak terjebak pada generalisasi terhadap kelompok tertentu,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Muhammad Sofie Alatas menyoroti bahwa kesalahpahaman terhadap Syiah sering kali muncul bukan karena perjumpaan langsung, melainkan karena dominasi narasi yang dibangun tanpa ruang klarifikasi yang memadai.

“Banyak orang berbicara tentang Syiah tanpa pernah benar-benar berdialog dengan penganutnya. Akibatnya, yang berkembang bukan pemahaman, tetapi prasangka. Karena itu, Syiah harus dikenalkan lewat dialog dan pendekatan ilmiah, bukan melalui stigma,” katanya.

Selain membahas tantangan hubungan antarmazhab, diskusi juga menyinggung sejumlah titik temu tradisi Syiah dan kalangan Nahdliyin, terutama dalam kecintaan kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW, penghormatan terhadap ulama, tradisi majelis keilmuan, serta komitmen menjaga moderasi dan persatuan sosial.

Menurut Sofie, generasi muda Muslim memiliki peran penting dalam membangun ruang percakapan yang sehat di tengah kecenderungan masyarakat digital yang semakin mudah terjebak dalam polarisasi dan penghakiman sepihak.

“Ketika ruang publik dipenuhi pertengkaran identitas, maka ruang dialog menjadi semakin penting. Perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan, justru bisa menjadi jalan untuk saling memahami,” tambahnya.

Bagi DPD ABI Kota Pekalongan, pertemuan dengan kalangan akademisi dan generasi muda merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi publik yang lebih terbuka dan berkeadaban, sekaligus memperkenalkan tradisi intelektual Ahlul Bait melalui pendekatan ilmiah dan dialogis.

Di tengah mengerasnya polarisasi keagamaan di ruang digital, pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa ruang dialog antar kelompok Islam masih dapat dibangun secara terbuka, kritis, dan saling menghormati. Sesuatu yang hari ini semakin jarang ditemukan, tetapi justru semakin dibutuhkan dalam menjaga kohesi sosial masyarakat Indonesia. []