Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Angka Korban Berubah Misterius, Pentagon Dituding Tutupi Fakta Perang Iran

Published

on

Laporan terbaru mengungkap dugaan manipulasi data korban dalam perang Amerika Serikat melawan Iran, yang disebut sebagai upaya jumlah “menutupi korban” oleh pihak internal pemerintah AS. Media The Intercept dalam laporannya pada Rabu (22/4) menyebutkan bahwa Pentagon secara mengejutkan mengurangi jumlah prajurit yang terluka dalam data resmi selama masa gencatan senjata dua pekan yang disepakati pada 8 April.

Pada hari pertama gencatan senjata berlaku, total korban tewas dan terluka di pihak militer AS tercatat sebanyak 385 personel. Namun, meski pertempuran dihentikan sementara, angka tersebut justru meningkat perlahan hingga mencapai 428 berdasarkan statistik resmi Pentagon. Tidak lama berselang, angka korban terluka tiba-tiba berkurang sebanyak 15 orang tanpa penjelasan publik, sehingga totalnya turun menjadi 413. Bahkan, dalam satu laporan resmi lain, total korban gabungan sempat disebut hanya 411.

Mengutip dua juru bicara Pentagon, laporan tersebut menyebut fenomena ini sebagai bentuk “penutupan data korban”. Sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS), yang digunakan untuk melaporkan data korban kepada Kongres dan presiden, disebut tidak mencatat ratusan korban yang sebenarnya sudah diketahui.

“Angka-angka ini jelas penting. Fakta bahwa mereka tidak ingin publik mengetahuinya menunjukkan sesuatu. Itulah definisi penutupan,” kata seorang pejabat dalam laporan tersebut.

Temuan ini muncul di tengah keputusan Presiden AS Donald Trump yang secara sepihak memperpanjang gencatan senjata dengan Iran hanya beberapa jam sebelum masa berlaku sebelumnya berakhir. Namun di balik itu, laporan juga menyoroti bahwa statistik resmi Pentagon dinilai memberikan gambaran yang bias terhadap kondisi perang yang sebenarnya.

DCAS memang mencatat kematian non-tempur, seperti akibat kecelakaan atau penyakit, tetapi tidak memasukkan data cedera non-tempur dalam perhitungan. Hingga kini, Pentagon belum memberikan penjelasan mengapa kategori tersebut tidak dilaporkan secara transparan.

Dalam wawancara pada Selasa, Trump berulang kali menyatakan bahwa 13 tentara pria tewas dalam konflik tersebut. Namun data DCAS justru menunjukkan bahwa tiga di antaranya adalah perempuan, menimbulkan pertanyaan baru mengenai akurasi pernyataan resmi pemerintah.

Ini bukan kali pertama pemerintahan Trump disorot terkait transparansi data korban militer. Pada masa jabatan pertamanya, pemerintahannya sempat mengambil langkah yang dinilai melemahkan keterbukaan informasi, termasuk menghentikan publikasi cepat data kematian prajurit AS di Afghanistan.

Sementara itu, konflik yang lebih luas telah menelan korban lebih besar di kawasan. Sedikitnya 3.300 orang dilaporkan tewas di Iran dan lebih dari 2.300 di Lebanon, serta menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi. Kelompok Hizbullah dan gerakan Ansarullah juga disebut turut terlibat dalam eskalasi konflik.

Gencatan senjata dua pekan sebelumnya dimediasi oleh Pakistan, namun perundingan tidak langsung di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan lanjutan. Amerika Serikat telah menyatakan kesiapan untuk kembali berunding, tetapi Iran belum mengambil keputusan akhir, dengan menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.[]

Continue Reading