Internasional
Kekerasan terhadap Umat Kristen Palestina Meningkat, Demonstran Desak Kongres AS Bertindak

Ahlulbait Indonesia | 10 Mei 2026 — Gelombang kekerasan dan intimidasi terhadap komunitas Kristen Palestina di wilayah pendudukan kembali menjadi sorotan setelah aksi protes digelar di Capitol Hill, Amerika Serikat, Sabtu (9/5). Para demonstran mengecam minimnya perhatian media arus utama terhadap meningkatnya serangan kelompok pemukim Israel terhadap umat Kristen di Palestina dan kawasan sekitarnya.
Sejumlah aktivis dan tokoh gereja yang turun dalam aksi tersebut, sebagaimana dikutip Press TV, menyoroti eskalasi kekerasan terhadap warga Kristen Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Serangan itu mencakup penyerangan desa-desa Kristen, intimidasi di tempat ibadah, hingga penistaan simbol keagamaan.
Di Yerusalem, aparat kepolisian Israel kembali membatasi akses jemaat Kristen menuju Church of the Holy Sepulchre di kawasan Kota Tua. Di Tepi Barat, kelompok pemukim Israel dilaporkan menyerang warga Kristen di desa Taybeh. “Warga Palestina tidak memiliki hak yang setara. Serangan terhadap desa Kristen Taybeh membuktikan kenyataan itu,” ujar seorang pastor peserta aksi di Capitol Hill.
Laporan lain turut mencatat maraknya pelecehan terhadap umat Kristen Palestina, mulai dari tindakan meludahi di jalan, grafiti bernada penghinaan, intimidasi verbal, hingga ancaman fisik yang kini disebut menjadi pengalaman sehari-hari sebagian warga Kristen di Yerusalem Timur dan wilayah pendudukan lainnya.
Berdasarkan data komunitas gereja, hampir 200 ribu umat Kristen bermukim di Israel. Namun survei terbaru mengungkapkan sekitar separuh warga Kristen berusia di bawah 30 tahun mempertimbangkan untuk pergi, didorong oleh kekerasan, diskriminasi, dan tekanan sosial yang kian menguat seiring menguatnya politik sayap kanan di Israel.
Pengorganisir komunitas Palestina-Amerika, Khader El-Yateem, menyebut kebijakan Israel telah mempersempit ruang hidup komunitas Kristen Palestina secara sistematis. “Pos pemeriksaan, tembok apartheid, dan runtuhnya sektor pariwisata yang selama ini menjadi sumber penghidupan banyak keluarga Kristen Palestina, semua itu membuat kehidupan komunitas ini makin sulit dipertahankan,” katanya.
El-Yateem menambahkan, pembatasan mobilitas membuat banyak warga kesulitan bekerja, mengakses layanan kesehatan, dan menjangkau sekolah. Kekerasan kelompok pemukim Israel pun, menurut dia, telah mencapai tingkat yang tidak lagi dapat ditoleransi.
Ketegangan regional semakin meningkat sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Para aktivis hak asasi manusia menilai konflik tersebut memberi ruang lebih luas bagi kelompok ultranasionalis dan ekstremis Israel untuk bertindak tanpa khawatir akan konsekuensi hukum.
Sorotan internasional juga semakin menguat setelah beredar rekaman seorang tentara Israel yang merusak patung Bunda Maria di Lebanon selatan. Insiden itu memicu kecaman luas dari komunitas gereja dan organisasi hak asasi manusia di Timur Tengah.
Para demonstran di Washington kemudian bergerak menuju kompleks Kongres AS untuk mendesak anggota parlemen mengambil langkah konkret. Mereka menilai tanpa tekanan politik dari Washington, kejahatan kebencian terhadap umat Kristen Palestina akan terus berulang tanpa pencegahan yang efektif. []







