Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Tegas Tolak Tekanan AS, Selat Hormuz Tak Akan Dibuka

Published

on

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz di bawah tekanan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Qalibaf melalui akun media sosialnya pada Rabu (22/4), menanggapi dinamika terbaru pascagencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Qalibaf menyebut pembukaan jalur strategis yang menyumbang sekitar seperlima pasokan minyak global itu tidak mungkin dilakukan selama masih terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan untuk menghentikan agresi AS dan Israel terhadap Iran. Ia menilai berbagai tindakan, termasuk pembatasan aktivitas perdagangan Iran di perairan internasional oleh AS serta serangan berulang Israel ke Lebanon, sebagai bukti nyata pelanggaran tersebut.

Menurut Qalibaf, yang juga berperan sebagai negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan Washington, tekanan yang terus diberikan Amerika Serikat tidak akan mengubah posisi Teheran. Ia menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tuntutan sepihak yang dinilai merugikan kepentingan nasionalnya.

Upaya diplomatik sebelumnya yang dimediasi Pakistan dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Putaran pertama perundingan di Islamabad pada 12 April berakhir tanpa hasil, hanya beberapa hari setelah gencatan senjata dua pekan mulai berlaku pada 8 April.

Sejak itu, Iran belum menunjukkan komitmen untuk kembali ke meja perundingan. Pemerintah Iran menilai tuntutan Washington yang dianggap berlebihan, serta keberlanjutan blokade laut terhadap aktivitas ekonomi Iran, menjadi hambatan utama untuk mencapai kesepakatan lanjutan.

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan mendesak Iran agar melonggarkan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz tanpa mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tuntutan tersebut secara tegas ditolak Teheran.

“Amerika Serikat gagal mencapai tujuannya melalui agresi militer, dan tidak akan berhasil melalui tekanan. Satu-satunya jalan adalah menghormati hak-hak bangsa Iran,” ujar Qalibaf.

Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak memperpanjang masa gencatan senjata, sembari menyatakan pihaknya masih menunggu proposal dari Iran untuk melanjutkan putaran kedua perundingan di Islamabad.

Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan sinyal akan menghadiri perundingan lanjutan tersebut, menandakan ketegangan antara kedua negara masih jauh dari mereda.[]

Continue Reading