Daerah
ABI Kediri Hadiri Hardiknas, Tekankan Penguatan Jati Diri Bangsa dalam Pendidikan

Kediri, 2 Mei 2026 — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ahlulbait Indonesia (ABI) Kabupaten Kediri menghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional yang digelar oleh Pesantren Jati Diri Bangsa di Situs Persada Soekarno nDalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat (1/5) malam. Kegiatan yang berlangsung pukul 19.30 hingga 23.00 WIB ini mengangkat tema “Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia.”
Acara diisi dengan rangkaian doa lintas agama, santunan anak yatim, selamatan, pentas seni, serta sarasehan. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 75 peserta dari berbagai organisasi keagamaan, kalangan pendidik, mahasiswa, sejarawan, dan budayawan dari Kediri Raya hingga Kabupaten Jombang.

Ketua Pesantren Jati Diri Bangsa, Suhardono, dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter berbasis jati diri bangsa.
“Pendidikan karakter jati diri bangsa di pesantren yang berada di area Situs Persada Soekarno nDalem Pojok harus terus berjalan dan berkembang. Saat ini, pendidikan jati diri bangsa di negara kita tidak hanya mengalami kemerosotan, tetapi nyaris hilang. Karena itu, di situs ini kami perlu membangun Pesantren Jati Diri Bangsa untuk merajut perdamaian nusantara,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD ABI Kabupaten Kediri yang juga Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kediri, Juwaini, S.P., menegaskan bahwa jati diri bangsa merupakan warisan nilai luhur yang harus dijaga.
“Jati diri bangsa Indonesia adalah nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita dari para leluhur, mencakup ajaran budi pekerti, tata nilai, perilaku, serta budaya rasa malu,” jelasnya.
Ia juga menyinggung makna perdamaian dalam konteks kemerdekaan.
“Perdamaian hanya dapat terwujud jika kemerdekaan itu ada. Seperti semboyan para pahlawan kita, ‘kita cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan’. Artinya, kita tidak boleh berdamai dengan penjajah selama penjajahan itu masih ada, karena penjajah bukan pencipta perdamaian,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan amanat konstitusi UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, sehingga penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan.
“Peri kemanusiaan dan peri keadilan inilah yang menciptakan suasana damai. Namun, perdamaian yang diupayakan terkadang bersifat pragmatis tanpa menyentuh substansi persoalan, sehingga merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain,” tambahnya.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional ini menjadi momentum refleksi bersama akan pentingnya membangun kembali pendidikan berbasis jati diri bangsa sebagai fondasi menuju perdamaian yang berkeadilan. [HMP Kediri]







