Internasional
Iran Temukan Senjata Balasan dalam Perang Ekonomi Melawan AS

Ahlulbait Indonesia | 14 Mei 2026 — Tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran memasuki babak baru setelah Teheran menunjukkan kemampuan membalas dampak blokade melalui pengaruhnya atas Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Dalam analisis yang terbit pada 9 Mei 2026, Press TV menyebut Iran kini memiliki “pengubah permainan” dalam perang ekonomi melawan Washington.
Baca juga: Paus Leo XIV Anugerahkan Penghargaan Diplomatik Tertinggi Vatikan kepada Dubes Iran
Setelah gagal memaksa Iran menyerah lewat konfrontasi militer langsung, Washington kembali mengandalkan blokade ekonomi untuk menekan Teheran. Namun, strategi tersebut dinilai tidak lagi berjalan sepihak seperti dekade-dekade sebelumnya.
Analisis itu menegaskan Iran berbeda dari negara kecil dengan ekonomi rapuh yang mudah lumpuh akibat embargo. Selama lebih dari empat dekade sejak Revolusi Islam 1979, Iran hidup di bawah sanksi berat dan tekanan maritim yang membentuk ketahanan ekonomi sekaligus mental nasional.
Dalam konflik terbaru yang disebut berlangsung selama 50 hari antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serangan terhadap infrastruktur Iran disebut gagal melumpuhkan fondasi ekonomi maupun memicu kerusuhan domestik. Sebaliknya, Iran memperlihatkan kemampuan serangan balasan dengan jangkauan dan presisi yang lebih maju.
Setelah opsi militer dianggap mahal dan tidak efektif, Washington meningkatkan tekanan melalui blokade ekonomi. Namun kali ini Iran disebut telah menemukan instrumen balasan strategis melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap hari, termasuk distribusi LNG dari Qatar dan negara-negara Teluk menuju Asia dan Eropa.
Setiap upaya Amerika membatasi ekspor minyak Iran kini dinilai berisiko memicu lonjakan harga energi global. Dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Teluk Persia, tetapi juga langsung menghantam harga bahan bakar di Amerika Serikat, biaya produksi industri, hingga anggaran rumah tangga warga Amerika.
Baca juga: Rahasia di Balik Bertahannya Kerumunan Malam Masyarakat Iran di Tengah Perang
Laporan itu menyebut harga bahan bakar di Amerika telah menembus level yang sebelumnya hanya terjadi saat krisis energi besar pada dekade 1970-an dan awal 2000-an. Kondisi tersebut memperbesar tekanan politik terhadap pemerintahan di Gedung Putih.
Selain Selat Hormuz, Iran dan kelompok perlawanan regional juga disebut memiliki opsi lain yang belum sepenuhnya digunakan. Salah satunya adalah Bab el-Mandeb di pintu selatan Laut Merah yang menjadi jalur penting perdagangan energi global. Gangguan di kawasan itu dapat menghambat jalur Terusan Suez bagi pengiriman minyak internasional.
Analisis tersebut juga menyoroti kerentanan jalur pipa minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini menjadi alternatif ekspor minyak Teluk tanpa melewati Hormuz. Iran disebut memiliki kemampuan menjangkau infrastruktur strategis tersebut, meski hingga kini masih menahan diri untuk tidak memperluas eskalasi.
Menurut laporan itu, perubahan terbesar dalam konflik saat ini bukan terletak pada ukuran ekonomi kedua negara. Produk domestik bruto Amerika Serikat memang jauh lebih besar dibanding Iran, tetapi Teheran kini dinilai mampu membuat tekanan ekonomi berbalik menjadi beban bagi Washington sendiri.
Baca juga: Trump Akui Kirim Senjata ke Iran untuk Kerusuhan dan Terorisme
Iran disebut telah membangun mekanisme bertahan melalui penguatan industri domestik, jaringan perdagangan informal, strategi pengelolaan mata uang, serta masyarakat yang terbiasa menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan. Sebaliknya, Amerika Serikat dinilai belum pernah menghadapi situasi blokade energi berkepanjangan yang dapat mengguncang fondasi ekonominya sendiri.
Pada akhirnya, laporan tersebut menyimpulkan bahwa untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun, Amerika Serikat tidak lagi mampu memberikan tekanan tanpa menerima dampak balasan yang setara. Iran disebut telah menemukan instrumen strategis yang dapat menjangkau langsung kepentingan ekonomi Amerika. []
Baca juga: Jubir Kemenlu Iran Skakmat Jurnalis, “Kami Juga Adidaya”






