Jurnal
Analisa Terhadap Partisipasi Pemuda di Dalam Organisasi Ahlulbait

Catatan atas Penelitian Muhammad Mahdi Assegaf tentang Partisipasi Pemuda Ahlulbait
Ahlulbait Indonesia | 3 Juni 2026 — Di banyak organisasi keagamaan, rendahnya partisipasi pemuda kerap dipahami sebagai persoalan loyalitas, militansi, atau melemahnya idealisme generasi muda. Namun penelitian yang dilakukan Muhammad Mahdi Assegaf menghadirkan sudut pandang berbeda. Penelitian ini tidak menempatkan pemuda sebagai pihak yang kurang peduli, melainkan mengarahkan perhatian pada bagaimana organisasi dipersepsi oleh generasi muda.
Melalui penelitian berjudul Analisa Terhadap Partisipasi Pemuda di Dalam Organisasi Ahlulbait yang disusun pada 2022 di bawah bimbingan Ustadz Muhammad Jawad, Muhammad Mahdi Assegaf mencoba menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan pemuda dalam organisasi Ahlulbait. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap pemuda Ahlulbait di sejumlah wilayah Pulau Jawa dengan metode Structural Equation Modeling (SEM).
Baca juga: Laporan Pengabdian PTM Pimwil Muslimah Jabar: Efektivitas Homecare bagi Pasien Kronis di Buaran
Ketika Organisasi Dipandang sebagai Sistem Pengalaman
Salah satu hal yang membuat penelitian ini menarik terletak pada penggunaan Technology Acceptance Model (TAM), sebuah model yang lazim digunakan dalam studi penerimaan teknologi digital. Dalam penelitian ini, organisasi diperlakukan sebagai sebuah sistem yang dapat diterima atau ditolak oleh penggunanya. Organisasi tidak hanya dipandang sebagai ruang ideologis, tetapi juga sebagai pengalaman sosial yang harus terasa mudah, relevan, dan dapat diakses oleh anggotanya.
Pendekatan tersebut membawa penelitian ini keluar dari pola pembacaan konvensional mengenai organisasi keagamaan. Selama ini partisipasi sering dijelaskan melalui faktor ideologi atau kedekatan emosional. Penelitian ini justru memperlihatkan bahwa pengalaman praktis berorganisasi memiliki pengaruh besar terhadap keterlibatan pemuda.
Sikap Menjadi Kunci Utama Partisipasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel attitude atau sikap menjadi faktor utama yang secara langsung memengaruhi niat seseorang untuk aktif dalam organisasi (intention to use). Namun sikap tersebut tidak muncul begitu saja. Sikap terbentuk melalui sejumlah faktor lain, terutama persepsi mengenai kemudahan penggunaan organisasi (perceived ease of use).
Temuan paling penting dari penelitian ini terletak pada fakta bahwa persepsi kemudahan organisasi ternyata lebih berpengaruh dibanding persepsi manfaat organisasi itu sendiri. Dalam model SEM yang digunakan, perceived ease of use terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap sikap anggota. Sementara itu, perceived usefulness atau persepsi kegunaan organisasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pembentukan sikap.
Baca juga: Laporan Monev Menengah DPP ABI: Media sebagai Pilar Penguatan Ormas Ahlulbait Indonesia
Artinya, pemuda tidak otomatis tertarik untuk terlibat hanya karena organisasi dianggap penting atau memiliki tujuan besar. Mereka juga mempertimbangkan apakah organisasi tersebut mudah diakses, mudah dipahami, tidak rumit secara teknis maupun sosial, serta tidak menciptakan beban tambahan bagi anggotanya.
Kritik terhadap Cara Lama Berorganisasi
Dalam konteks ini, penelitian Muhammad Mahdi Assegaf dapat dibaca sebagai kritik terhadap pendekatan organisasi yang terlalu menitikberatkan aspek ideologis tanpa memperhatikan pengalaman partisipasi anggota. Organisasi mungkin memiliki visi besar dan agenda perjuangan yang kuat. Namun apabila proses partisipasinya dianggap rumit, mahal, atau eksklusif, minat keterlibatan pemuda dapat melemah.
Penelitian ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa generasi muda modern cenderung mempertimbangkan efisiensi, aksesibilitas, dan kenyamanan sosial dalam menentukan keterlibatan mereka di suatu organisasi.
Faktor Kemampuan Diri dan Kondisi Sosial Ekonomi
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor self efficacy atau keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya memiliki hubungan penting dengan persepsi kemudahan organisasi. Semakin seseorang merasa mampu secara personal, semakin tinggi pula persepsinya bahwa organisasi mudah untuk diikuti. Hubungan tersebut kemudian memengaruhi sikap dan akhirnya mendorong niat partisipasi.
Selain itu, status sosial ekonomi turut berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan organisasi. Pemuda dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih baik cenderung memiliki akses dan rasa nyaman yang lebih tinggi dalam berpartisipasi. Sebaliknya, hambatan ekonomi dapat menciptakan jarak terhadap organisasi, terutama apabila aktivitas organisasi membutuhkan biaya, mobilitas, atau kapasitas teknis tertentu.
Menariknya, variabel budaya dalam penelitian ini tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap sikap anggota. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa faktor budaya bukan penentu utama keterlibatan pemuda dalam organisasi Ahlulbait, setidaknya dalam konteks responden penelitian ini.
Implikasi bagi Masa Depan Organisasi Ahlulbait
Dari sisi implikasi, penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi praktis bagi organisasi Ahlulbait. Organisasi didorong membangun sistem yang lebih sederhana dan inklusif, mulai dari digitalisasi keanggotaan, penyederhanaan mekanisme partisipasi, pelatihan dasar bagi anggota baru, hingga penguatan komunikasi internal yang lebih terbuka. Penelitian juga menekankan pentingnya memperhatikan kondisi sosial ekonomi anggota agar organisasi tidak secara tidak sadar menciptakan eksklusivitas partisipasi.
Baca juga: Orang Tua Absen, Teknologi Masuk: Aplikasi Monitoring TPQ Jadi Jawaban Baru Pendidikan Nonformal
Catatan Kritis terhadap Penelitian
Meski demikian, penelitian ini tetap memiliki sejumlah keterbatasan. Jumlah responden relatif terbatas dan hanya berfokus pada komunitas Ahlulbait di wilayah Jawa sehingga generalisasi temuan masih perlu dilakukan secara hati-hati. Selain itu, faktor ideologis dan spiritual yang lazim menjadi elemen penting dalam organisasi keagamaan belum banyak dieksplorasi dalam model penelitian ini.
Namun justru di titik tersebut letak kontribusi penting penelitian ini. Muhammad Mahdi Assegaf menghadirkan pendekatan baru dalam membaca partisipasi pemuda. Organisasi tidak cukup hanya memiliki narasi perjuangan, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman partisipasi yang mudah, terbuka, dan manusiawi.
Penutup
Di tengah perubahan karakter generasi muda yang semakin dinamis, pesan utama penelitian ini menjadi cukup jelas. Organisasi yang ingin bertahan tidak cukup hanya memiliki gagasan besar, tetapi juga harus mampu menjadi ruang yang dapat diakses dan dirasakan dekat oleh generasi yang ingin mereka libatkan. []
Baca juga: Litbang DPP ABI Mulai Pemetaan Nasional Kehidupan Beragama Komunitas Ahlulbait
Anda dapat mengunduh naskah penelitian melalui tautan berikut. Analisa Terhadap Partisipasi Pemuda di Dalam Organisasi Ahlulbait.







