Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Jalanan Amerika Bergolak, Taruhan Trump-Netanyahu atas Iran Justru Menjadi Bumerang

Published

on

Gelombang aksi demo No Kings berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat AS dengan jutaan warga turun ke jalan memprotes kebijakan Presiden Donald Trump. (Foto: REUTERS)

Ahlulbait Indonesia | 29 Maret 2026 — Jutaan warga di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat turun ke jalan pada Minggu (29/3/2026), mengikuti lebih dari 3.300 aksi serentak bertajuk “No Kings, No War”. Gelombang demonstrasi ini menolak keterlibatan militer AS dalam konflik Iran serta mengkritik sejumlah kebijakan domestik pemerintahan Donald Trump.

Banyak sekali spanduk anti-perang yang dipajang di Kota New York.

Banyak sekali spanduk anti-perang yang dibawa para pendemo di Kota New York.

Aksi yang disebut sebagai putaran ketiga protes “No Kings” tersebut mencerminkan tekanan publik yang kian menguat terhadap kebijakan luar negeri dan dalam negeri pemerintah. Demonstran menyuarakan penolakan terhadap eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran, sekaligus mempersoalkan penegakan hukum imigrasi, termasuk operasi ICE dan insiden penembakan yang menyertainya.

Di berbagai kota, massa membawa spanduk dan plakat bertuliskan“No Kings, No War”. Seruan ini diiringi slogan lain seperti “regime change begins at home” , yang menggambarkan kritik langsung terhadap kepemimpinan nasional.

Penyelenggara dari sejumlah kelompok, termasuk Indivisible, MoveOn Civic Action, serta koalisi yang terhubung dengan ANSWER Coalition, menyebut aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap “korupsi, perang yang tidak masuk akal, dan perpecahan”.

Demonstrasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Di saat yang sama, perdebatan mengenai kebijakan imigrasi dan tata kelola pemerintahan terus memanas di dalam negeri.

Skala mobilisasi ini disebut sebagai salah satu aksi satu hari terbesar dalam sejarah Amerika. Fenomena ini mencerminkan tradisi panjang masyarakat AS dalam menyampaikan protes terbuka terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam situasi krisis global dan polarisasi politik domestik.

Gelombang aksi ini juga menandai meningkatnya sentimen negatif terhadap pemerintahan Trump, yang turut memicu aksi solidaritas di kota-kota besar Eropa. Situasi kian diperberat oleh berlanjutnya konflik dengan Iran, yang menimbulkan tekanan militer sekaligus mengguncang stabilitas ekonomi, terutama melalui lonjakan risiko energi dan pasar global. []