Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC: Selat Hormuz Berbahaya Akibat Aksi AS dan Israel

Published

on

Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menyatakan Selat Hormuz kini menjadi jalur pelayaran berisiko tinggi. (Press TV}

Ahlulbait Indonesia | 29 Maret 2026 — Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menyatakan Selat Hormuz kini menjadi jalur pelayaran berisiko tinggi. Kondisi tersebut disebut sebagai dampak langsung dari tindakan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Akraminia menegaskan, Selat Hormuz sebelumnya dikenal sebagai jalur laut yang aman dan stabil, termasuk bagi kapal dari luar kawasan. Namun situasi berubah sejak eskalasi militer terhadap Iran.

“Selat Hormuz selalu menjadi jalur yang aman dan damai. Bahkan negara di luar kawasan menggunakannya untuk transit kapal. Setelah agresi ini, situasinya berubah,” kata Akraminia kepada Press TV, Minggu (29/3/2026).

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

Akraminia menilai tidak dapat diterima ketika Iran menghadapi ancaman dan serangan, sementara negara lain tetap menikmati keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Menurutnya, Iran menguasai sebagian besar jalur strategis tersebut, sehingga tidak adil jika tekanan hanya diarahkan kepada Teheran tanpa konsekuensi bagi pihak lain.

Ia juga menyoroti dampak konflik terhadap pasar energi global. Amerika Serikat disebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas meningkatnya harga energi akibat ketidakstabilan di kawasan.

Menurut Akraminia, Washington telah menciptakan ketidakamanan di sebagian wilayah Teluk Persia dan Asia Barat Daya, tetapi tetap mengharapkan stabilitas di wilayah lainnya.

“Tidak mungkin memiliki keamanan di satu sisi, ketidakamanan di sisi lain, dan ketidakberdayaan di sisi lainnya. Itu mustahil,” ujar dia.

Harga Energi dan Dampak Global

Akraminia memperingatkan pasar global akan terus merasakan dampak dari konflik tersebut. Harga energi diperkirakan akan terus meningkat seiring berlanjutnya ketegangan.

Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas.

Iran juga meminta negara-negara di kawasan yang terdampak untuk mengambil sikap terhadap Amerika Serikat. Akraminia menyebut negara-negara tersebut perlu menuntut pertanggungjawaban atas kondisi keamanan yang berkembang.

Seruan ini menunjukkan upaya Iran mendorong tekanan politik regional terhadap Washington di tengah eskalasi yang terus berlangsung.

Beberapa hari setelah konflik meningkat pada 28 Februari, Iran mulai memberlakukan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz.

Otoritas Iran menyatakan jalur tersebut tetap terbuka bagi kapal yang berkoordinasi dengan pihak Iran. Namun, pembatasan diberlakukan terhadap kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.

Langkah ini menambah ketidakpastian di jalur pelayaran global, sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas distribusi energi dunia. []