Internasional
Ansarullah Yaman Siap Buka Front Baru untuk Dukung Iran
Ahlulbait Indonesia | Kamis, 26 Maret 2026 — Gerakan Ansarullah Yaman dilaporkan berada dalam posisi siap tempur untuk mendukung Iran jika konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terus meluas. Kesiapan itu disebut mencakup opsi strategis di Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi regional dan kekhawatiran akan terbukanya front perang baru di kawasan Laut Merah.
Press TV pada Kamis (26/3/2026), melaporkan Ansarullah telah berada dalam siaga penuh sejak hari-hari awal agresi terhadap Iran. “Ansarullah dalam keadaan siaga penuh dan siap memasuki medan perang,” demikian isi laporan yang mengutip sumber yang disebut mengetahui perkembangan tersebut.
Menurut sumber itu, Ansarullah siap ikut campur melalui penguasaan Selat Bab al-Mandeb sebagai instrumen tekanan terhadap pihak-pihak yang disebut sebagai agresor.
Bab al-Mandeb Masuk Opsi Tekanan
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu chokepoint maritim terpenting dunia, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memukul arus perdagangan global, energi, dan logistik internasional.
Dalam konteks ini, kesiapan Ansarullah tidak hanya dibaca sebagai ancaman militer, tetapi juga sebagai sinyal tekanan strategis dengan dampak ekonomi dan geopolitik yang jauh lebih luas.
Sumber yang dikutip menyatakan, jika diperlukan untuk lebih “mendisiplinkan” musuh, Ansarullah siap memainkan peran langsung di kawasan perairan tersebut.
“Pasukan heroik Ansarullah sepenuhnya siap untuk memainkan peran yang terampil,” demikian isi laporan tersebut.
Sumber itu juga mengeklaim Ansarullah sebelumnya telah menunjukkan kemampuan untuk menutup Bab al-Mandeb dan menegaskan kendali perlawanan di Laut Merah.
Rekam Jejak Blokade Laut dan Tekanan terhadap Israel
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah 7 Oktober 2023, Ansarullah berulang kali menunjukkan kapasitasnya dalam mengganggu jalur pelayaran dan kepentingan militer lawan.
Kelompok tersebut diketahui pernah memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel, baik yang menuju maupun meninggalkan wilayah pendudukan.
Langkah itu menimbulkan tekanan ekonomi yang cukup besar, memaksa sejumlah kapal mengambil rute yang jauh lebih panjang dengan memutari Tanjung Harapan di Afrika bagian selatan.
Selain tekanan maritim, laporan tersebut juga menyinggung kemungkinan eskalasi ke ranah udara dan serangan terhadap target-target strategis Israel, serta operasi terhadap kapal-kapal militer Amerika di sekitar Yaman.
Namun, sejumlah klaim operasional dalam laporan itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Sinyal Perang Regional Kian Terbuka
Jika keterlibatan langsung Ansarullah benar-benar terjadi, perkembangan ini berpotensi mengubah lanskap konflik dari benturan dua negara menjadi perang kawasan dengan banyak titik tekan sekaligus.
Itu berarti tekanan terhadap Iran tidak lagi hanya dijawab di daratan atau melalui rudal, tetapi juga melalui kontrol jalur laut yang sangat sensitif bagi kepentingan Barat dan Israel.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi terbuka dari Ansarullah terkait rincian keterlibatan militer langsung tersebut. Belum ada pula tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel atas laporan tersebut. []
