Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Badan Keamanan Iran Laporkan Ribuan Korban dalam Kerusuhan yang Dipimpin AS dan Israel

Published

on

Badan Keamanan Iran Laporkan Ribuan Korban dalam Kerusuhan yang Dipimpin AS dan Israel
Markas Direktorat Jenderal Urusan Pajak Teheran Timur yang terbakar di Teheran, Iran, pada 21 Januari 2026. (Foto: AFP)

Ahlulbait Indonesia, 22 Januari 2026 — Otoritas keamanan Iran merilis laporan resmi terkait gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah wilayah negara itu pada awal Januari. Dalam laporan tersebut, Iran menyebut bahwa Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang digambarkan sebagai “kekejaman skala penuh”, dengan total korban jiwa dilaporkan melampaui 3.000 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan.

Melansir Press TV pada Rabu, 21 Januari 2026, Ketua Dewan Keamanan Iran, Ali Larijani, menyampaikan, 2.427 orang tewas dalam rangkaian kerusuhan yang diklaim mendapat dukungan asing. Laporan itu juga mencatat 690 korban tambahan, sehingga total korban jiwa mencapai 3.117 orang.

Baca juga : Cooper dan Al-Sharaa Bahas De-eskalasi dengan SDF serta Dukungan Pemindahan Tahanan ISIS

Menurut laporan tersebut, puncak kekerasan terjadi pada 8 dan 9 Januari, yang disebut sebagai periode dengan eskalasi tertinggi selama rangkaian kerusuhan berlangsung. Dewan Keamanan Iran menyatakan memiliki dokumentasi yang menunjukkan terjadinya aksi kekerasan terorganisir dalam dua hari tersebut, dengan dukungan pihak-pihak yang dinilai bermusuhan terhadap Iran.

Laporan itu menguraikan keterlibatan kelompok-kelompok bersenjata dalam berbagai aksi teror yang menargetkan warga sipil dan aparat keamanan. Selain menimbulkan korban jiwa, kerusuhan juga menyebabkan kerusakan luas terhadap fasilitas publik dan aktivitas ekonomi, mencakup pasar, pertokoan, lembaga keuangan, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur layanan darurat.

Dewan Keamanan Iran menjelaskan bahwa rangkaian peristiwa bermula dari aksi protes damai para pedagang dan kelompok usaha yang terdampak kesulitan ekonomi. Presiden Masoud Pezeshkian disebut sempat menemui perwakilan kelompok tersebut untuk mendengarkan tuntutan mereka, sekaligus menginstruksikan aparat kepolisian agar menerapkan pengendalian diri secara maksimal.

Baca juga : Djibouti Batalkan 1.400 Paspor Pejabat Somaliland Usai Pengakuan Israel

Namun, laporan tersebut menegaskan adanya campur tangan sel-sel terorganisir yang memanfaatkan situasi untuk menggagalkan penyelesaian damai. Kelompok-kelompok ini beralih ke serangan bersenjata dan aksi kekerasan terkoordinasi dengan tujuan menimbulkan korban massal, merusak fasilitas umum, dan mengguncang pusat-pusat kota.

Dalam bagian analisis, Dewan Keamanan Iran menyebut temuan intelijen yang mengaitkan kerusuhan tersebut dengan kegagalan tekanan militer sebelumnya terhadap Iran, yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Setelah upaya militer dinilai tidak mampu melemahkan Iran, fokus disebut bergeser pada penargetan kohesi sosial dan stabilitas internal negara.

“Musuh menyimpulkan bahwa instrumen militer tidak sanggup mematahkan kehendak bangsa Iran. Karena itu, sasaran dialihkan ke penghancuran persatuan sosial dan kemauan kolektif nasional,” demikianpernyataan Ali Larijani.

Dewan Keamanan Iran turut memuji kepemimpinan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pengorbanan aparat keamanan, serta mobilisasi publik pada 12 Januari, ketika jutaan warga turun ke jalan untuk mengecam kekerasan dan menyatakan dukungan terhadap stabilitas nasional.

Situasi keamanan kini terkendali dan aktivitas masyarakat telah kembali normal. Persatuan nasional rakyat Iran kembali disebut sebagai faktor kunci yang menggagalkan apa yang digambarkan sebagai upaya terorganisir untuk mengguncang negara tersebut. [HMP/Press TV]

Baca juga : Media Israel: Status Siaga di “Israel” Akan Berlanjut Selama Beberapa Pekan