Opini
Di Beijing Trump Menarik Tangan dan Xi Menarik Masa Depan

Oleh: Muhlisin Turkan
Ahlulbait Indonesia | 15 Mei 2026 — Dunia modern memang luar biasa. Di saat harga minyak bergejolak, perang regional membara, jalur perdagangan global terancam, dan diplomasi internasional berubah menjadi arena gertakan nuklir yang dibungkus konferensi pers, umat manusia tetap berhasil menemukan satu objek analisis paling penting, cara Donald Trump berjabat tangan.
Baca juga: Di Meja Pertemuan, Xi Jinping Kuliahi Trump soal Risiko Konflik China-AS
Dan begitulah sejarah besar abad ini kembali ditentukan. Bukan oleh tank, bukan oleh rudal hipersonik, bukan oleh veto Dewan Keamanan PBB, melainkan oleh tarikan tangan di depan kamera.
Saat Presiden China Xi Jinping menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada Kamis 14 Mei 2026, dunia tampaknya tidak sedang menyaksikan pertemuan dua kepala negara. Yang terlihat justru seperti episode final reality show geopolitik berjudul Who Wants to Dominate the Planet? Trump, seperti biasa, datang dengan jurus legendarisnya. Jurus yang mungkin sudah dipatenkan secara spiritual di Gedung Putih, jabat tangan tarik-ulur. Semacam teknik diplomasi yang percaya bahwa semakin keras seseorang menarik tangan lawan, semakin besar pula legitimasi hegemoninya.
Selama bertahun-tahun, teknik itu cukup berhasil. Banyak pemimpin dunia tampak dipaksa mengikuti koreografi dominasi Trump di depan kamera.
Namun Beijing bukan ruang konferensi biasa. Di sana, Trump tidak berhadapan dengan politisi gugup yang masih mencari posisi di panggung global. Di depannya berdiri Xi Jinping, seorang pemimpin yang memimpin negara dengan cadangan devisa raksasa, industri manufaktur terbesar dunia, dan kesabaran khas sebuah peradaban tua yang telah melewati lebih banyak siklus sejarah dibanding sebagian besar negara modern.
Baca juga: Berangkat ke China, Trump Tulis Surat Rahasia Jika Dirinya Tewas atau Terbunuh
Trump menarik tangan. Xi tidak bergerak. Sederhana. Sunyi. Mematikan. Di titik itulah geopolitik berubah menjadi seni bela diri. Xi tidak perlu menarik balik. Tidak perlu menunjukkan dominasi berlebihan. Tidak perlu ekspresi teatrikal.
Presiden China itu hanya berdiri tenang, tersenyum tipis, dan membiarkan hukum gravitasi mempermalukan ambisi pertunjukan. Internet pun meledak. Para analis bahasa tubuh bermunculan lebih cepat daripada analis ekonomi saat krisis finansial. Semua membedah posisi tangan, sudut bahu, arah telapak, hingga elevasi senyum Xi Jinping seolah nasib peradaban manusia bergantung pada frame video berdurasi tujuh detik.
Tentu saja, dunia tidak berubah hanya karena posisi telapak tangan dua presiden. Namun di era politik visual, simbol sering diperlakukan lebih penting dibanding kebijakan itu sendiri. Dan mungkin memang iya. Karena di era sekarang, citra sering lebih penting dibanding kenyataan. Sebuah jabat tangan bisa diperlakukan seperti referendum global tentang siapa pemilik masa depan. Amerika masih memiliki kapal induk, dolar, Hollywood, dan ratusan pangkalan militer. Namun China memiliki sesuatu yang lebih menakutkan bagi Washington, kesabaran.
Baca juga: China Ingatkan Trump: Jangan Campuri Urusan Internal Iran
Xi tampaknya memahami sesuatu yang mulai hilang dari banyak politisi modern. Kekuasaan terbesar tidak selalu ditunjukkan dengan menarik orang lain. Kadang cukup dengan tidak tertarik ikut drama. Sementara Trump selama ini membangun citra sebagai pria yang selalu mengguncang ruangan, Beijing justru memperlihatkan apa yang terjadi ketika ruangan itu tidak lagi mau terguncang. Dan di situlah mungkin letak ironi terbesar abad ke-21.
Amerika datang membawa koreografi dominasi era televisi. China menjawab dengan ketenangan seorang pemain catur yang tahu lawannya masih sibuk bermain poker. Dunia menyaksikan. Kamera merekam. Media membuat ribuan analisis. Media sosial berubah menjadi arena olimpiade tafsir jabat tangan.
Tetapi barangkali kesimpulan paling brutal justru yang paling sederhana. Trump datang untuk menarik tangan. Xi datang untuk menarik zaman. []
Baca juga: Tembakan di Acara Trump, Insiden Washington Picu Tiga Skenario







