Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Warga Inggris Marah Tolak Keterlibatan dalam Perang Iran

Published

on

Ratusan pendemo warga Inggris di Bristol, Birmingham, dan London. (Foto: Socialistworker)

Jakarta, 27 April 2026 — Ratusan warga Inggris marah menggelar aksi protes di pangkalan udara RAF Fairford, menuntut pemerintah Inggris menghentikan keterlibatan dalam perang Iran. Aksi berlangsung di Gloucestershire dan diikuti aktivis antiperang dari berbagai kota seperti London, Bristol, dan Birmingham. Para demonstran berbaris menuju pagar pangkalan dan membentuk rantai manusia sebagai simbol penolakan.

Dilansir Viory pada Sabtu, (25/4/2026), peserta aksi mengibarkan bendera Palestina dan Iran. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan “Tidak ada perang AS dari tanah Inggris” serta tuntutan agar tentara Amerika Serikat meninggalkan pangkalan tersebut.

Ratusan aktivis antiperang berkumpul di luar RAF Fairford di Gloucestershire pada hari Sabtu, menuntut diakhirinya penggunaan pangkalan tersebut oleh pasukan AS untuk operasi militer melawan Iran. (Foto: Viory)

Ratusan aktivis antiperang berkumpul di luar RAF Fairford di Gloucestershire pada hari Sabtu, menuntut diakhirinya penggunaan pangkalan tersebut oleh pasukan AS untuk operasi militer melawan Iran. (Foto: Viory)

RAF Fairford dikenal sebagai salah satu pangkalan militer yang digunakan AS di Inggris dan menjadi basis operasional pesawat pembom strategis seperti B-52 dan B-1.

Sejumlah pendemo membawa foto korban sipil, termasuk anak-anak yang tewas dalam serangan awal di wilayah selatan Iran. Aksi ini juga diwarnai kekhawatiran terhadap rapuhnya gencatan senjata dan potensi eskalasi konflik.

Peserta aksi menilai penggunaan pangkalan tersebut menunjukkan keterlibatan Inggris dalam perang dan kejahatan, meski bukan pihak langsung. Mereka menuntut pemerintah menghentikan kerja sama militer yang dinilai berkontribusi pada operasi tersebut.

Perwakilan Campaign for Nuclear Disarmament menyebut RAF Fairford sebagai satu-satunya pangkalan depan pembom strategis AS di Eropa. Mereka menilai perang di Iran meningkatkan kesadaran publik terhadap peran pangkalan tersebut.

Aktivis juga menilai pangkalan ini bagian dari jaringan militer yang lebih luas dan menyerukan agar gerakan anti-perang menargetkan fasilitas lain yang terkait dengan sistem senjata nuklir Inggris.

Sejumlah pengunjuk rasa mengkritik Perdana Menteri Keir Starmer karena dinilai mengizinkan penggunaan pangkalan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap warga sipil di kawasan konflik.

Dalam aksi tersebut, isu Iran juga dikaitkan dengan Palestina serta meningkatnya ketegangan global. Seruan untuk memperluas aksi disampaikan, termasuk rencana demonstrasi pada peringatan Hari Nakba.

Aksi ini mencerminkan meningkatnya penolakan terhadap perang, baik di Inggris maupun di Amerika Serikat. Para demonstran menyerukan penghentian keterlibatan Inggris serta penutupan pangkalan militer yang digunakan dalam operasi tersebut. []