Ikuti Kami Di Medsos

Opini

#Podcast ABI | Ustadz Abdillah: Iran Siaga Penuh, Ancaman Trump Nyata

Published

on

Jakarta, 1 Februari 2026 — Cendekiawan muslim dan pengamat politik Timur Tengah, Ustadz Abdillah Baabud, menilai Iran kini berada dalam status siaga penuh di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Menurutnya, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran bukan hanya retorika dan hal itu berpotensi memicu perang kawasan di Asia Barat.

Pernyataan itu disampaikan Ustadz Abdillah dalam Podcast Media ABI bertajuk “Iran dalam Siaga Penuh: Membaca Arah Konflik Amerika–Iran Saat Ini” yang tayang 31 Januari 2026, dipandu host Billy Joe.

“Iran tidak akan memulai serangan. Tapi sekecil apa pun serangan akan mendapat respons luas kali ini,” kata Ustadz Abdillah.

Ustadz Abdillah menyebut Angkatan Bersenjata Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berada dalam kesiapsiagaan tinggi menyusul eskalasi konflik yang disebutnya belum benar-benar mereda meski perang “12 hari” sebelumnya berakhir.

Eskalasi Pasca Gaza dan Perang 12 Hari

Menurut Ustadz Abdillah, tensi di kawasan meningkat sejak rentetan konflik pasca 7 Oktober dan keterlibatan banyak aktor di Timur Tengah. Ia mengaitkan situasi itu dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berlangsung selama 12 hari.

Ustadz Abdillah juga menyinggung gelombang kerusuhan di Iran yang disebutnya muncul setelah serangan tersebut. Dan menilai kerusuhan terjadi melalui operasi jaringan agen asing, namun menyebut Iran tetap bertahan.

“Republik Islam Iran masih kuat dan rakyat memberikan dukungan besar terhadap pemerintahan, khususnya terhadap Sayid Ali Khamenei,” ujarnya.

Meski menyebut kerusuhan menelan hampir 3.000 korban jiwa, ia menilai kondisi sosial Iran sudah kembali stabil.

“Suasana sudah kondusif, penerbangan berjalan lancar seperti biasa,” katanya.

Ancaman Trump Dinilai Nyata

Menanggapi ultimatum Trump yang meminta Iran kembali ke meja perundingan nuklir dengan ancaman serangan bila menolak, Ustadz Abdillah menegaskan ancaman itu memiliki peluang direalisasikan.

“Ancaman ini nyata. Sudah dibuktikan oleh serangan Amerika selama 12 hari,” ujarnya.

Ditambahkannya, tindakan militer Amerika sebelumnya yang menyasar tokoh-tokoh penting Iran dan sejumlah jenderal dinilainya menunjukkan ancaman Washington tidak berhenti pada perang kata-kata.

Dalam pandangannya, keputusan serangan akan bergantung pada pilihan Washington: bertindak rasional atau justru mengambil kebijakan yang dianggap tidak terukur.

“Kalau mereka ambil keputusan rasional, mereka tidak akan menyerang. Tapi tindakan irasional sangat mungkin,” kata Ustadz Abdillah.

Isu Nuklir Dinilai Dalih Politik

Ustadz Abdillah menilai isu nuklir kembali dipakai sebagai alasan publik untuk membangun legitimasi serangan, meski tujuan utama dinilainya lebih politis.

“Amerika itu negara preman dunia. Mereka punya agenda. Tinggal karang alasan,” ujarnya.

Ustadz Abdillah menyebut pola serupa pernah terjadi di negara lain, termasuk Irak yang diserang dengan narasi “senjata pemusnah massal”. Dalam konteks Iran, ia menilai agenda utama Washington ialah mendorong pergantian rezim.

“Agenda utamanya mengganti rezim di Iran. Alasan tinggal dibuat,” katanya.

Ustadz Abdillah juga menyatakan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dengan alasan agama. Menurutnya, senjata nuklir dinilai haram karena dampaknya bersifat destruktif massal dan mematikan.

AS Dinilai Menahan Serangan karena Kekuatan Iran

Di tengah kabar pengerahan armada militer Amerika Serikat ke kawasan, Ustadz Abdillah menilai satu hal membuat Washington berhitung: Iran memiliki kemampuan serangan balik.

“Satu-satunya yang membuat misi ini tertunda adalah kekuatan Republik Islam Iran,” ujarnya.

Menurutnya, Iran mengembangkan pertahanan selama puluhan tahun sejak Revolusi Islam dengan prinsip memperkuat daya cegah. Ia menyebut penguatan itu bukan untuk agresi, melainkan mencegah penjajahan.

Ia juga menyinggung perang 12 hari sebagai momen penting yang menurutnya memperlihatkan kemampuan Iran menembus pertahanan Israel melalui serangan rudal.

Poros Perlawanan dan Risiko Perang Regional

Selain kekuatan Iran, Ustadz Abdillah menyebut situasi kali ini berbeda karena Iran dinilai tidak sendirian. Ia menyoroti potensi keterlibatan kelompok-kelompok yang disebutnya sebagai “poros perlawanan”.

Ia menyebut Ansarullah Yaman, Hizbullah, dan Hashd Syabi Irak berpotensi terlibat penuh bila Iran diserang.

“Kalau poros perlawanan turun dengan kekuatan penuh, perang ini tidak akan menghasilkan kemenangan. Yang ada kawasan berkobar,” ujarnya.

Menurutnya, perang skala besar akan menghancurkan stabilitas sosial-politik kawasan dan berdampak pada ekonomi negara-negara sekitar.

“Situasi kondusif akan hilang di kawasan dan ini juga kerugian bagi Amerika,” katanya.

Negara Teluk Dinilai Tidak Berdaulat Penuh

Menanggapi sikap sebagian negara Teluk yang tampak tidak sepenuhnya mendukung serangan, Ustadz Abdillah menilai pernyataan resmi penolakan penggunaan wilayah udara atau pangkalan cenderung bersifat diplomatik.

Ia menilai negara yang mengizinkan pangkalan militer asing berdiri di wilayahnya sulit disebut berdaulat penuh.

“Tidak mungkin berdaulat kalau ada pangkalan militer Amerika,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah negara kawasan mengeluarkan pernyataan penolakan terutama karena khawatir dampak perang meluas.

Dampak Global: Ancaman Krisis Ekonomi Dunia

Ustadz Abdillah memperingatkan perang di Asia Barat berpotensi memicu krisis global, mengingat kawasan tersebut menjadi pusat energi dan jalur strategis ekonomi dunia.

“Kalau kawasan terganggu, ekonomi dunia ikut terganggu. Dunia akan masuk krisis sosial, politik, ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai langkah perang terhadap Iran bahkan tidak menguntungkan dari sudut kalkulasi ekonomi dan politik.

Propaganda dan Politisasi Sektarian

Ustadz Abdillah juga menilai banyak negara memilih diam karena propaganda berkepanjangan yang menggambarkan Iran sebagai ancaman. Ia menyebut propaganda itu bersifat multidimensi, termasuk isu sistem pemerintahan Islam dan isu sektarian Sunni-Syiah.

Menurutnya, sebagian umat Islam terdorong untuk membiarkan serangan terjadi akibat sentimen mazhab, sementara Amerika disebutnya memanfaatkan situasi tersebut.

Skenario Penculikan Pemimpin Disebut Mustahil

Menanggapi kemungkinan operasi penculikan pimpinan seperti yang diklaim dilakukan di Venezuela, Ustadz Abdillah menilai skenario serupa sulit terjadi di Iran.

Ia merujuk sejarah operasi militer Amerika di awal Revolusi Iran yang gagal akibat badai pasir di Tabas. Menurutnya, jika saat Iran masih lemah operasi itu gagal, maka upaya serupa pada kondisi Iran yang lebih kuat akan lebih berisiko bagi Amerika.

“Kalaupun terjadi, kehancuran bagi Amerika,” ujarnya.

Sikap Publik Indonesia: Perkuat Literasi Informasi

Di akhir podcast, Ustadz Abdillah mengajak masyarakat Indonesia aktif mengambil peran di ruang publik, terutama melalui literasi informasi dan pengungkapan agenda geopolitik.

Menurutnya, publik dapat berkontribusi melalui analisis dan penyebaran informasi berbasis data, termasuk dari kalangan akademisi, ulama, ekonom, sejarawan, mahasiswa, serta netizen.

“Tugas kita menggali informasi sebanyak-banyaknya, menemukan fakta, bongkar agenda,” katanya.

Ustadz Abdillah menilai sikap diam hanya memperluas dominasi politik global yang lebih besar. [HMP/ABI]

Catatan Redaksi:
Naskah ini disusun berdasarkan pernyataan narasumber dalam Podcast Media ABI. Untuk informasi lebih lengkap, pembaca dapat menyimak episode berjudul “Iran dalam Siaga Penuh: Membaca Arah Konflik Amerika–Iran Saat Ini”.