Opini
Harian Kayhan Iran Bongkar “Kolom Kelima”: Suara Dalam Negeri yang Mengulang Agenda Barat
Jakarta, Februari 2026 — Pemimpin redaksi harian Kayhan, Hossein Shariatmadari, menilai munculnya seruan “penyerahan diri” serta gagasan “perubahan paradigma” di tengah tekanan terhadap Republik Islam Iran sebagai indikasi aktifnya kolom kelima. Istilah itu merujuk pada unsur domestik yang dinilai menyuarakan kepentingan musuh dari dalam negeri, terutama saat Iran berada dalam tekanan politik dan keamanan dari Barat.
Pandangan tersebut disampaikan melalui tulisan berbahasa Persia berjudul “ستون پنجمیها را به صف کردهاند” (Sotun-e panjomi-ha ra be saff karde-and, “Mereka Menyusun Barisan Kolom Kelima”) yang dipublikasikan Kayhan pada Minggu (1/2/2026). Artikel itu memadukan rujukan Al-Quran, pembacaan geopolitik, serta kritik terhadap aktor politik internal Iran.
Pada bagian awal tulisan, Shariatmadari menegaskan tidak menempatkan diri sebagai ahli tafsir Al-Quran. Menurutnya, makna mendalam ayat merupakan ranah ulama, tetapi penampakan ayat juga dapat dipakai sebagai petunjuk membaca situasi sosial-politik. Sebagai contoh, ia menyinggung ayat berulang dalam Surah Al-Qamar: “Dan sungguh Kami mudahkan Al-Quran untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
Dari kerangka tersebut, Kayhan mengutip ayat-ayat Surah Al-Ahzab tentang situasi genting ketika musuh mengepung kaum Muslim. Sorotan diarahkan pada gambaran rasa takut, kebimbangan, dan keraguan sebagian pihak saat ancaman memuncak. Menurut tulisan itu, ayat tersebut bukan hanya memuat peristiwa sejarah, tetapi menunjukkan pola sosial yang dapat muncul di masa berbeda.
Tulisan tersebut menyorot bagian ayat yang menyebut kelompok munafik dan orang-orang yang “berpenyakit dalam hati”, yang berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan apa pun kepada kami selain tipu daya.” Dalam pembacaan Shariatmadari, kelompok seperti ini cenderung muncul pada situasi krisis untuk menekan masyarakat agar memilih jalan menyerah.
Dalam konteks politik Iran masa kini, Kayhan menyebut adanya arus politik yang dinilai gentar menghadapi ancaman Amerika. Arus tersebut, menurut tulisan itu, mendorong gagasan penyerahan diri dengan bahasa politik yang dipoles, termasuk istilah “perubahan paradigma”. Istilah itu ditafsirkan sebagai dorongan meninggalkan fondasi sistem politik Iran yang berbasis Islam.
Tulisan itu juga menyebut jaringan yang dikaitkan dengan pergolakan politik 2009, dikenal sebagai “fitnah 88” di Iran, kembali mengeluarkan pernyataan bernada akomodatif. Kayhan menggunakan istilah “Freemason” untuk menggambarkan aktor yang dinilai dipakai dalam proyek tekanan Barat terhadap Iran. Dalam penilaian tersebut, jika unsur dalam negeri bergerak searah dengan agenda musuh, maka perannya layak dibaca sebagai bagian dari kolom barisan kelima.
Argumen itu diperkuat dengan rujukan pada pernyataan Donald Trump dan sejumlah pejabat Barat yang mengaitkan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Laut Oman dengan upaya menekan psikologi Iran. Kayhan menilai sebagian kalangan internal kemudian mengadopsi bahasa yang sama dengan Trump dan Netanyahu, sehingga tekanan eksternal dijadikan alasan untuk mendorong kompromi.
Artikel itu menegaskan, perbedaan politik tidak otomatis bermasalah. Masalah muncul ketika perbedaan berubah menjadi alat perang narasi yang menguntungkan lawan dan melemahkan ketahanan nasional dari dalam.
Sebagai pembanding, tulisan tersebut mengutip lanjutan ayat Surah Al-Ahzab mengenai respons orang beriman. Ayat itu menggambarkan kaum beriman yang justru menguat saat melihat pasukan musuh: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami; Allah dan Rasul-Nya benar.” Dalam pembacaan Kayhan, respons orang beriman adalah keteguhan, bukan kemunduran.
Tulisan itu kemudian mengaitkan gambaran tersebut dengan dukungan publik Iran, termasuk mobilisasi masyarakat yang disebut menunjukkan persatuan nasional dalam “perang 12 hari” serta aksi-aksi besar di ruang publik. Dalam narasi tersebut, rakyat Iran ditempatkan sebagai contoh respons kolektif yang menolak gentar menghadapi tekanan musuh.
Di bagian lain, tulisan Kayhan menyinggung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menjadi sasaran tekanan Barat. Shariatmadari menyebut keputusan Uni Eropa memasukkan IRGC ke daftar teroris sebagai kebijakan yang lahir dari tekanan Amerika dan Israel.
Kayhan lalu memperluas kerangka “mengenal musuh”. Menurut tulisan itu, mengetahui siapa lawan Iran belum cukup. Publik juga perlu memahami strategi musuh (tujuan), taktik musuh (cara), serta kolom kelima, yakni aktor internal yang bergerak sejalan dengan tujuan musuh.
Untuk menjelaskan konsep tersebut, artikel itu merujuk ayat yang menyatakan seseorang dapat dikenali dari “cara bicara”. Dalam tafsir yang digunakan Kayhan, kolom barisan kelima dapat dibaca dari posisi, tindakan, serta pernyataan yang secara konsisten meniru tuntutan musuh, baik secara lisan maupun tertulis.
Menjelang akhir, Kayhan mengajak pembaca membandingkan pernyataan pejabat Amerika, Israel, dan Uni Eropa yang menentang Republik Islam Iran dengan pernyataan tokoh oposisi seperti Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, serta sebagian kalangan reformis. Artikel tersebut menilai kemiripan arah pesan terlihat mencolok.
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa, kolom barisan kelima kerap dipakai untuk menjalankan misi propaganda, terutama membangun persepsi bahwa agenda musuh mewakili suara mayoritas rakyat. Narasi itu lalu diperbesar melalui media dan jaringan propaganda sehingga tekanan eksternal tampak seperti tuntutan domestik.
Tulisan tersebut menutup analisis dengan penegasan bahwa konflik modern tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat bahasa, legitimasi, dan perang narasi. Dalam kerangka Kayhan, kekuatan pertahanan Iran bukan semata persenjataan, melainkan keteguhan prinsip politik dan dukungan sosial.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tensi Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta menguatnya perang narasi mengenai arah kebijakan Teheran di bawah tekanan eksternal. Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak-pihak yang disebut dalam tulisan Kayhan, termasuk tokoh oposisi dan kalangan reformis yang dikaitkan dengan istilah “kolom barisan kelima”. [HMP/Kayhan]
