Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Ketua Dewan Pakar ABI: Iran di Atas Angin, Tekanan Belum Usai

Published

on

Ketua Dewan Pakar ABI, Sayyid Naufal Ali Bilfaqih menyampaikan pandangan geopolitik Iran dalam forum diskusi ABI di Islamic Cultural Center Jakarta, 11 April 2026. (Dok. ABI)

Jakarta, 12 April 2026 — Ketua Dewan Pakar Ahlulbait Indonesia (ABI) Sayyid Naufal Ali Bilfaqih melihat Iran sedang berada di fase kuat dalam dinamika geopolitik. Pernyataan itu disampaikan dalam forum diskusi usai Halal Bihalal Dewan Syura ABI di Islamic Cultural Center Jakarta, 11 April 2026. Penilaian tersebut bertumpu pada tiga hal utama, yaitu perubahan persepsi global, capaian strategi, dan peluang ekonomi.

Di ranah informasi, menurut Sayyid Naufal perubahan terasa nyata. Arus informasi yang lebih terbuka membuat citra Iran tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh narasi lama. Di sejumlah ruang global, simpati terhadap Iran meningkat, terutama saat isu kemanusiaan terus diangkat. Efeknya terlihat pada opini publik. Namun, perubahan persepsi tidak otomatis menggeser kebijakan negara. Kepentingan strategis tetap menjadi penentu utama arah politik luar negeri.

Pada aspek strategi, Sayyid Naufal menilai Iran berhasil mencapai target, sementara pihak lawan belum. Indikatornya tampak pada ketahanan menghadapi sanksi dan kemampuan menjaga pengaruh di kawasan. Iran juga konsisten membawa isu kemanusiaan ke forum internasional, termasuk sorotan terhadap korban sipil. Pendekatan ini efektif di tingkat opini, tetapi terbentur realitas politik global yang lebih mengedepankan kepentingan daripada moralitas.

Dari sisi ekonomi, Sayyid Naufal melihat adanya sinyal perbaikan. Pencairan sebagian aset yang sebelumnya dibekukan memberi ruang gerak baru. Jika embargo dilonggarkan, kapasitas fiskal Iran berpotensi menguat. Namun, fondasi ekonomi masih dipengaruhi faktor eksternal seperti sanksi, harga energi, dan akses ke sistem keuangan global. Di titik ini, ruang ekspansi masih terbatas.

Sayyid Naufal juga menilai Iran berhasil membangun citra ideologis melalui kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei, yang dipandang merepresentasikan nilai keadilan dan inklusivitas. Pendekatan ini memperkuat basis dukungan tertentu dan memperluas pengaruh non-militer, sejalan dengan meningkatnya simpati global yang dinilai menjadi salah satu penanda posisi Iran saat ini. []