Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Dubes Arab Saudi Kutuk Serangan Iran ke Pangkalan AS di Teluk, Bungkam saat Iran Diserang

Published

on

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al-Amudi, dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis, 26 Maret 2026 mengecam serangan Iran ke pangkalan AS di Teluk. (Foto: Detiknews)

Ahlulbait Indonesia | Jakarta, Kamis, 26 Maret 2026 Arab Saudi pada Kamis (26/3/2026) mengecam serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk yang disebut turut menyasar wilayah Saudi dan sejumlah negara tetangga. Pengecaman itu disampaikan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al-Amudi, dalam konferensi pers di Jakarta. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Riyadh mempertegas garis diplomatiknya, bersamaan dengan sikap diam negara-negara kawasan atas serangan AS-Israel ke Iran.

Bagi Saudi, pesan yang ingin ditegaskan bukan semata-mata penolakan terhadap serangan Iran, tetapi juga upaya membingkai diri sebagai pihak yang terdampak langsung oleh eskalasi perang. Posisi itu mengemuka di tengah sorotan terhadap keberadaan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk yang selama ini menjadi bagian dari pusat strategis konflik dan berperan dalam operasi terhadap Teheran. Dalam konteks itu, konferensi pers di Jakarta tidak hanya ditujukan kepada audiens diplomatik, tetapi juga kepada opini publik yang kian terpolarisasi oleh perang narasi di Timur Tengah.

“Kami kembali ingin menyampaikan penolakan terhadap serangan yang dilakukan oleh Iran kepada Kerajaan Arab Saudi dan juga kepada negara-negara Arab, serta negara-negara Arab Islam lainnya yang ada di kawasan,” kata Al-Amudi.

Riyadh Jaga Jarak dari Perang, tetapi Taruhannya Kian Dekat

Al-Amudi menegaskan Arab Saudi tidak terlibat dalam perang antara Iran dan Israel, meskipun menurut Riyadh, dampak serangan telah merembet ke kawasan Teluk. Penegasan ini disampaikan di tengah posisi Saudi sebagai mitra utama Amerika Serikat dalam sistem keamanan kawasan, serta keterlibatannya dalam konflik bertahun-tahun dengan Yaman.

“Kami ingin menegaskan kembali bahwa Kerajaan Arab Saudi bukan bagian dari perang ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut juga memperlihatkan dilema strategis Riyadh. Di satu sisi, Saudi tidak ingin terseret langsung ke dalam konfrontasi terbuka. Di sisi lain, posisinya menjadi sulit ketika membiarkan wilayahnya dimanfaatkan AS-Israel sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Bangun Narasi Pelanggaran terhadap Hukum dan Stabilitas

Dalam keterangannya, pihak Saudi menuduh Iran menyerang infrastrutal vital, fasilitas sipil, dan jalur-jalur strategis di kawasan. Tuduhan ini dibingkai bukan hanya sebagai ancaman keamanan, tetapi sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan prinsip bertetangga baik, dua landasan yang kini dipakai Riyadh untuk menggalang legitimasi diplomatik sekaligus menyudutkan Teheran.

Dubes Faisal juga kembali mengecam tindakan Iran yang dianggap memperburuk stabilitas kawasan dan mengabaikan diplomasi.

“Iran terus melakukan serangan tanpa menghiraukan seruan dialog yang diusung Arab Saudi maupun negara Teluk lainnya,” ungkapnya.

Arab Saudi, lanjutnya, menyambut baik sikap komunitas internasional yang melalui Resolusi DK PBB Nomor 2817 mendesak Iran menghentikan serangan serta aksi yang meningkatkan eskalasi.

“Dunia melihat apa yang terjadi dan mendesak Iran menghentikan tindakannya,” katanya. “Kami sangat menolak kebijakan atau politik eskalasi dalam krisis ini. Sikap kami sangat jelas, yakni mengedepankan solusi diplomasi,” kata Al-Amudi.

Dengan menekankan aspek hukum dan diplomasi, Saudi tampak berupaya menggeser pembacaan konflik dari semata-mata benturan militer menjadi persoalan ketertiban kawasan. Ini juga memberi ruang bagi Riyadh untuk bermanuver membangun citra sebagai aktor yang mampu menahan diri, sekaligus tetap menekan Iran di arena politik internasional.

Selat Hormuz dan Ketakutan Lama Pasar Energi

Salah satu penekanan utama Saudi adalah ancaman terhadap lalu lintas pelayaran dan infrastruktur energi di kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Jalur sempit ini selama puluhan tahun menjadi titik paling sensitif dalam geopolitik energi dunia: sempit secara geografis, tetapi sangat luas dampaknya terhadap pasar global.

“Dampaknya sangat jelas, baik terhadap keamanan maupun ekonomi global secara umum,” ujar Al-Amudi.

Bagi Riyadh, menyoroti Hormuz bukan semata-mata bicara soal kapal atau terminal energi. Ini adalah cara Saudi mengirim sinyal kepada pasar, mitra dagang, dan kekuatan besar dunia, terutama AS bahwa konflik ini telah bergerak dari teater militer menuju risiko sistemik yang dapat memukul rantai pasok, harga energi, dan stabilitas ekonomi internasional.

Saat ditanya apakah ketegangan ini berpotensi memicu langkah lebih tegas dari Riyadh, Dubes Faisal menegaskan keamanan wilayah Saudi adalah prioritas. “Jika ada ancaman terhadap Kerajaan Arab Saudi, tentu Saudi tidak akan tinggal diam,” tegasnya.

Jaga Stabilitas Domestik, Termasuk Haji

Di tengah ketegangan tersebut, Saudi juga berupaya menjaga pesan stabilitas ke dalam. Menanggapi kekhawatiran atas dampak konflik terhadap pelaksanaan ibadah haji, Al-Amudi memastikan situasi keamanan di dalam negeri tetap terkendali dan agenda penyelenggaraan berjalan sesuai rencana.

“Arab Saudi sampai saat ini dalam keadaan aman dan stabil,” katanya.

Pada akhirnya, pernyataan Saudi di Jakarta bukan hanya kecaman diplomatik rutin. Hal ini memperlihatkan bagaimana Riyadh sedang berusaha mengelola tiga dilema sekaligus, tetap menjaga kedekatan dengan AS-Israel, menjaga persepsi publik di dunia Islam agar tidak terkesan memihak agresor, serta mempertahankan citra sebagai pusat stabilitas di kawasan yang makin tak stabil. Di Timur Tengah, sering kali yang paling menentukan bukan siapa yang pertama menembak, melainkan siapa yang paling berhasil membingkai perang di mata dunia. []