Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Trump Desak Arab Saudi Gabung Kesepakatan Abraham, Sebut Hormuz sebagai “Selat Trump”

Published

on

Donald Trump, mendesak Arab Saudi untuk bergabung dengan Kesepakatan Abraham. (Foto: Al Alam)

Ahlulbait Indonesia | 29 Maret 2026 — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah menyerukan Arab Saudi untuk bergabung dengan Kesepakatan Abraham dan menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” dalam pidatonya di sebuah konferensi ekonomi di Miami, Jumat (27/3/2026).

Dalam pidato tersebut, Trump mendorong normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Seruan itu disampaikan saat Washington terus menghadapi tekanan diplomatik terkait konflik dengan Iran.

“Sudah saatnya Arab Saudi bergabung dengan Kesepakatan Abraham,” kata Trump, seperti dilaporkan Al Mayadeen.

Selain menyinggung normalisasi hubungan Riyadh-Tel Aviv, Trump juga menuai sorotan setelah melontarkan komentar kontroversial soal Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik energi global.

“Mereka harus membuka Selat Trump… maksud saya, Hormuz. Maaf, saya sangat menyesal, sungguh kesalahan yang mengerikan! Berita palsu akan mengklaim saya mengatakannya secara tidak sengaja, tetapi tidak ada kesalahan yang tidak disengaja pada saya,” ujar Trump dalam pidatonya.

Pernyataan itu segera memicu reaksi karena Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama lalu lintas energi dunia dan titik panas dalam rivalitas antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutu-sekutu regional masing-masing.

Trump juga kembali melontarkan kritik terhadap NATO. Dia menyatakan kekecewaan atas sikap aliansi militer tersebut yang dinilai enggan memberi dukungan terhadap operasi militer Amerika Serikat melawan Iran.

“Kita akan mengingat dengan sangat baik keengganan NATO untuk membantu kita,” kata Trump.

Di sisi lain, sejumlah pejabat NATO sebelumnya dilaporkan menyampaikan kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik. Sejumlah negara anggota, termasuk Jerman dan Inggris, disebut tidak ingin terseret lebih jauh dalam konfrontasi terbuka dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, penolakan sebagian sekutu Barat mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko perluasan perang, termasuk dampaknya terhadap keamanan regional, jalur energi, dan stabilitas global.

Laporan yang sama juga menyebut Amerika Serikat belum sepenuhnya leluasa mengoperasikan kapal militernya di kawasan Selat Hormuz di tengah meningkatnya tensi. Sementara itu, Iran terus menegaskan pengaruh dan kontrol strategisnya atas kawasan perairan tersebut.

Pernyataan Trump muncul di saat Washington terus berupaya membangun kembali dukungan politik dan regional di tengah dinamika konflik yang semakin tajam. Seruan kepada Arab Saudi untuk bergabung dalam Kesepakatan Abraham memperlihatkan upaya Amerika Serikat menjaga poros aliansi Timur Tengah tetap solid, meski situasi lapangan terus berubah. []