Internasional
Surat Terbuka Pezeshkian kepada Rakyat Amerika, Washington Bela Kepentingan AS atau Jadi Proksi Israel?
Ahlulbait Indonesia | 2 April 2026 — Presiden Iran Masoud Pezeshkian melayangkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat dengan satu pertanyaan yang menghantam langsung arah kebijakan Washington. Apakah Amerika benar-benar sedang membela kepentingannya sendiri, atau justru semakin jauh terseret menjadi proksi Israel dalam konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Surat itu dirilis pada Rabu (1/4/2026) dan ditujukan langsung kepada publik Amerika. Isinya tajam, politis, dan terang-terangan menggugat cara Washington memosisikan Iran di tengah eskalasi kawasan.
Sejak awal, satu pesan utama ditegaskan dengan jelas. Iran, menurut Teheran, bukan negara agresor. Meski memiliki sejarah panjang dan pengaruh besar di kawasan, Iran disebut “tidak pernah, dalam sejarah modernnya, memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi”. Sebaliknya, yang dilakukan selama ini disebut hanya menghadapi pihak-pihak yang menyerang.
Surat tersebut juga berupaya menarik garis tegas antara negara dan rakyat Iran. Tidak ada permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk terhadap warga Amerika. “Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga,” tulis Pezeshkian.
Sikap itu disebut bukan manuver politik sesaat, melainkan bagian dari budaya dan kesadaran kolektif bangsa Iran.
Iran Sebut Citra Ancaman Dibentuk demi Kepentingan Politik
Salah satu pokok terpenting dalam surat itu muncul saat Teheran membantah citra Iran sebagai ancaman global. Gambaran tersebut, menurut Pezeshkian, bukan lahir dari realitas, melainkan dibentuk untuk melayani kepentingan politik dan ekonomi pihak-pihak yang diuntungkan dari ketegangan.
Narasi ancaman terhadap Iran, tulisnya, terus dipelihara untuk membenarkan tekanan, mempertahankan dominasi militer, menopang industri persenjataan, dan mengendalikan pasar strategis. “Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman itu tidak ada, maka ancaman itu dibuat-buat,” tulisnya.
Dari titik itu, arah tudingan dibalik. Yang disebut sebagai ancaman nyata di kawasan justru kehadiran militer Amerika Serikat di sekitar Iran.
Atas dasar itu, postur militer Iran dibela sebagai langkah pertahanan, bukan ekspansi.
Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran
Surat tersebut dirilis di tengah memanasnya situasi kawasan, setelah Amerika Serikat dan Israel disebut melancarkan agresi tanpa provokasi terhadap Iran sejak 28 Februari. Washington dalam surat itu disebut menggunakan pangkalan regional dan wilayah negara-negara tetangga Iran untuk melancarkan serangan yang disebut ilegal.
Pezeshkian menegaskan serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 warga sipil Iran, termasuk lebih dari 200 anak-anak. “Serangan-serangan Amerika baru-baru ini yang dilancarkan dari pangkalan-pangkalan ini telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer semacam itu,” tulisnya.
Tidak ada negara, lanjut surat itu, yang akan tinggal diam dalam situasi seperti itu. “Tentu saja, tidak ada negara yang menghadapi kondisi seperti itu akan mengabaikan penguatan kemampuan pertahanannya.”
Pernyataan tersebut sekaligus dipakai untuk menolak anggapan bahwa Iran menjadi pihak yang memulai perang. “Apa yang telah dilakukan Iran, dan terus dilakukan, adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi,” tegas Pezeshkian.
Untuk menjelaskan akar ketegangan Iran dan Amerika, surat itu kembali membuka memori sejarah yang sangat sensitif bagi Teheran, yakni kudeta 1953.
Peristiwa tersebut disebut sebagai “campur tangan Amerika yang ilegal” yang “mengganggu proses demokrasi Iran, mengembalikan kediktatoran, dan menabur ketidakpercayaan yang mendalam” terhadap kebijakan AS.
Bagi Teheran, luka itu belum pernah benar-benar tertutup. Ketidakpercayaan terhadap Washington, menurut surat itu, makin dalam akibat dukungan AS kepada Shah, dukungan terhadap Saddam Hussein pada era 1980-an, sanksi ekonomi yang melumpuhkan, hingga agresi militer yang disebut kembali terjadi saat ini.
Namun di tengah tekanan tersebut, Iran disebut tidak runtuh.
Sebaliknya, negara itu terus berkembang di berbagai bidang. Tingkat melek huruf disebut meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari 90 persen sejak Revolusi Islam 1979. Kemajuan juga diklaim terjadi di sektor teknologi, layanan kesehatan, dan infrastruktur.
“Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri dan tidak bergantung pada narasi yang dibuat-buat,” tulis Pezeshkian.
Pertanyaan Inti, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Pada bagian ini, surat Pezeshkian bergerak dari pembelaan menuju gugatan terbuka. Dampak kemanusiaan dari agresi AS-Israel disorot sebagai sesuatu yang tidak bisa dianggap sepele. Kerusakan terhadap nyawa, rumah, kota, dan masa depan rakyat Iran disebut akan meninggalkan luka yang dalam.
“Ketika perang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada nyawa, rumah, kota, dan masa depan, orang-orang tidak akan tetap acuh tak acuh terhadap mereka yang bertanggung jawab,” tulisnya.
Lalu muncul pertanyaan yang menjadi inti dari seluruh surat tersebut. “Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?”
Pertanyaan itu lalu dipertegas dengan menyinggung pembunuhan anak-anak, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, dan retorika penghancuran total yang disebut hanya akan memperburuk posisi global Amerika Serikat.
“Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom suatu negara ‘hingga kembali ke zaman batu’ memiliki tujuan lain selain semakin merusak kedudukan global Amerika Serikat?”
Kesepakatan Nuklir, Trump, dan Gagalnya Jalur Diplomasi
Jalur diplomasi juga ikut disorot, terutama soal kesepakatan nuklir Iran tahun 2015. Dalam surat itu disebutkan bahwa Iran telah “melakukan negosiasi, mencapai kesepakatan, dan memenuhi semua komitmennya”, sebelum perjanjian tersebut ditinggalkan oleh Donald Trump pada 2018.
Bagi Teheran, keputusan itu bukan hanya perubahan arah kebijakan, melainkan titik balik yang mendorong kawasan semakin dekat ke konfrontasi. “Keputusan untuk menarik diri dari perjanjian itu, meningkatkan ketegangan menuju konfrontasi, dan melancarkan dua tindakan agresi di tengah negosiasi adalah pilihan destruktif yang dibuat oleh pemerintah AS, pilihan yang melayani khayalan seorang agresor asing,” tulis Pezeshkian.
Serangan terhadap infrastruktur Iran juga dikutuk sebagai “kejahatan perang” yang menargetkan warga sipil. Dalam pandangan Teheran, langkah tersebut mencerminkan kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
Israel Disebut Menarik Amerika Lebih Dalam
Bagian paling politis dalam surat itu muncul ketika Pezeshkian menyoroti pengaruh Israel terhadap kebijakan Amerika Serikat.
Washington secara terbuka dipertanyakan, apakah masih bergerak atas kepentingannya sendiri atau sudah terlalu jauh terseret ke dalam agenda Tel Aviv. “Bukankah Amerika juga telah memasuki agresi ini sebagai proksi Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?” tulis Pezeshkian.
Dalam bagian lain, Israel juga disebut tengah membangun narasi ancaman Iran untuk mengalihkan perhatian dunia dari kejahatan terhadap Palestina. “Bukankah benar bahwa Israel, dengan merekayasa ancaman Iran, berupaya mengalihkan perhatian global dari kejahatannya terhadap Palestina?” tulisnya.
Nada surat itu makin tajam ketika Israel disebut sedang berupaya membawa Amerika ke perang yang panjang, mahal, dan menguras nyawa serta uang rakyat AS.
Menurut Pezeshkian, Israel “sekarang bertujuan untuk memerangi Iran hingga tentara Amerika terakhir dan uang pajak Amerika terakhir.” Dari sana, satu pertanyaan diarahkan langsung ke slogan politik Washington. “Apakah ‘Amerika Pertama’ benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?”
Ajakan untuk Melihat Iran di Luar Narasi Resmi
Menjelang akhir surat, publik Amerika diajak untuk melihat Iran di luar narasi resmi yang selama ini dibangun. Warga AS diminta tidak menelan mentah-mentah apa yang disebut sebagai “mesin disinformasi”.
Pezeshkian menyarankan rakyat Amerika berbicara langsung dengan para pengunjung Iran atau melihat kontribusi diaspora Iran di dunia akademik dan teknologi Barat sebagai pembanding atas gambaran yang selama ini beredar.
Di bagian penutup, dunia disebut sedang berada di persimpangan penting. “Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya,” tulisnya.
Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan, menurut surat itu, akan menentukan arah masa depan generasi mendatang.
Sebagai penutup, Pezeshkian menegaskan keyakinan bahwa Iran akan tetap bertahan, seperti yang telah dilaluinya selama ribuan tahun.
“Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang tercoreng dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan bangga,” tulisnya. []
