Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Keluarga Syahid Ali Larijani Sampaikan Pesan Terbuka kepada Bangsa Iran

Published

on

Kehadiran masyarakat yang tulus dan penuh kesetiaan saat menghadiri upacara pemakaman Syahid Ali Larijani dan Morteza Larijani. (Foto: Al Alam)

Ahlulbait Indonesia | Jumat, 27 Maret 2026 — Keluarga syahid Dr. Ali Larijani dan Dr. Morteza Larijani menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Iran atas kehadiran mereka dalam prosesi pemakaman kedua tokoh tersebut di Teheran dan Qom, Kamis (26/3/2026). Menurut keluarga, dukungan publik menjadi penguat moral di tengah suasana duka sekaligus mencerminkan kuatnya hubungan antara rakyat dan para pelayan negara.

Dalam pernyataan resmi, keluarga menyebut kehadiran masyarakat pada rangkaian penghormatan terakhir itu sebagai bentuk kesetiaan dan kasih sayang yang memberi kekuatan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Kehadiran Anda sekalian yang tulus, setia, dan penuh kasih sayang, dalam upacara perpisahan, pemakaman, dan penguburan jenazah suci para syuhada besar, Dr. Ali Larijani dan putranya yang berbakti, Dr. Morteza Larijani, di Teheran dan Qom, merupakan sumber semangat dan penguat moral bagi kami,” demikian bunyi pernyataan keluarga, seperti dikutip Al Alam.

Keluarga juga menilai dukungan masyarakat pada masa berkabung menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada negara dan pelayanan kepada rakyat tetap mendapat tempat di hati publik Iran.

“Dukungan Anda selama masa-masa sulit ini merupakan penawar bagi hati kami yang berduka dan sekali lagi mengingatkan kami bahwa kejujuran dalam pelayanan dan upaya untuk mengangkat martabat negara tidak akan dilupakan,” tulis keluarga dalam pernyataan tersebut.

Dalam isi pernyataan, keluarga mengenang Syahid Ali Larijani sebagai figur yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk pengabdian kepada agama, negara, dan pembangunan nasional Iran. Mereka menyebut sambutan masyarakat pada prosesi pemakaman sebagai bukti penghormatan atas perjalanan panjang pengabdiannya.

Sementara itu, Syahid Morteza Larijani dikenang sebagai sosok akademisi yang tetap memilih berada di garis pendampingan keluarga pada masa konflik. Keluarga menyebut syahid Morteza gugur saat menjalankan tanggung jawabnya mendampingi sang ayah pada periode yang mereka sebut sebagai Perang 12 Hari.

“Kenangan dan nama syahid Dr. Morteza Larijani akan selalu hidup di hati rakyat negeri ini,” demikian salah satu bagian pernyataan keluarga.

Selain menyampaikan terima kasih kepada masyarakat umum, keluarga juga menyampaikan penghargaan kepada sejumlah tokoh dan unsur resmi Iran yang turut memberi dukungan selama prosesi berkabung. Mereka menyebut Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, para ulama, pejabat nasional, unsur militer, tokoh Front Perlawanan, serta para penjaga tempat-tempat suci yang ikut mengiringi penyelenggaraan penghormatan terakhir.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada warga di berbagai kota Iran yang mengirimkan pesan belasungkawa dan menggelar acara penghormatan. Dalam bagian lain, keluarga menyoroti aspirasi warga Mazandaran yang meminta agar pemakaman digelar di provinsi tersebut.

Meski demikian, keluarga menyatakan tidak dapat memenuhi permintaan itu dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Mazandaran.

Menutup pernyataan, keluarga mendoakan kesehatan, martabat, dan keberhasilan bagi masyarakat Iran, serta berharap dukungan moral rakyat tetap menyertai para pelayan negara di masa mendatang.

Pernyataan keluarga syahid Larijani ini menegaskan satu pesan politik dan sosial yang kuat, bahwa duka keluarga tidak dipisahkan dari ruang publik, melainkan diposisikan sebagai bagian dari relasi emosional antara negara, pengabdian, dan dukungan masyarakat Iran. []