Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ismail Qaani: Sambut Tatanan Baru Timur Tengah Tanpa Israel

Published

on

Komandan Pasukan Quds, Ismail Qaani, menyerukan kepada masyarakat untuk menyambut tatanan baru di Timur Tengah tanpa Israel (Al Mayadeen)

Ahlulbait Indonesia | 30 Maret 2026 — Komandan Pasukan Quds, Ismail Qaani, menyerukan kepada masyarakat untuk menyambut tatanan baru di Timur Tengah. Sebuah tatanan yang menurutnya tidak lagi melibatkan Israel. Seruan ini disampaikan di tengah eskalasi konflik regional yang terus meluas, melibatkan Iran, Israel, Lebanon, Yaman, dan Irak.

Qaani menyebut bahwa Front Perlawanan kini bergerak dalam satu ruang operasi yang terintegrasi.

Mengutip laporan Al Mayadeen, Senin (30/3/2026), Qaani mengatakan aksi militer Hizbullah dan Ansarullah telah membongkar kelemahan janji-janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, terutama terkait upaya memperluas sabuk keamanan di kawasan.

Qaani menilai dinamika terbaru di Timur Tengah menunjukkan perubahan besar dalam peta konflik. Menurutnya, front-front Perlawanan kini tidak lagi bergerak secara terpisah, melainkan dalam koordinasi yang semakin erat.

“Ruang operasi Poros Perlawanan telah menjadi satu,” kata Qaani.

Pernyataan itu memperlihatkan pandangan Iran dan sekutunya mengenai terbentuknya pola konfrontasi regional yang semakin terintegrasi, terutama setelah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Di Yaman, Angkatan Bersenjata yang berafiliasi dengan Ansarullah mengumumkan telah melancarkan dua operasi terhadap target Israel. Kelompok itu juga menyatakan kesiapan memperluas keterlibatan militer sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan sekutunya.

Sementara itu, di Lebanon, Hizbullah dilaporkan meningkatkan operasi militer setelah konflik kembali memanas sejak 2 Maret. Eskalasi berlangsung usai serangan darat Israel di wilayah selatan Lebanon.

Di Irak, kelompok-kelompok Perlawanan juga melancarkan serangkaian serangan terhadap kepentingan Amerika. Sasaran yang disebut mencakup Kedutaan Besar AS di Baghdad, fasilitas konsulat, serta pangkalan militer Victory.

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan konsolidasi lintas front yang semakin terbuka dan terkoordinasi. Situasi tersebut sekaligus menandai pergeseran situasi keamanan Timur Tengah ke fase yang lebih kompleks, lebih cair, dan lebih berisiko. []