Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC Ultimatum Israel: Hentikan Serangan ke Gaza dan Lebanon atau Hadapi Serangan Besar

Published

on

IRGC mengeluarkan ultimatum kepada Israel: Hentikan genosida atau hadapi serangan berat. (Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 25 Maret 2026 — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dengan menyatakan operasi militer di Gaza dan Lebanon telah melampaui batas. Dalam pernyataan terbaru, IRGC menegaskan kelanjutan serangan terhadap warga sipil akan memicu respons militer yang lebih luas dari Iran.

Pernyataan yang dikutip Al Alam pada Selasa (24/3) menilai situasi di lapangan menunjukkan peningkatan intensitas serangan terhadap wilayah sipil. IRGC menyebut bahwa Israel memanfaatkan momentum konflik regional dan perhatian global yang terfokus pada ketegangan Iran dengan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan tersebut, IRGC menyebut tindakan militer Israel sebagai pelanggaran serius yang tidak dapat dibiarkan berlanjut. “Kelanjutan genosida tidak lagi dapat ditoleransi,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

IRGC juga mengeluarkan peringatan langsung terkait konsekuensi lanjutan jika operasi militer tetap berlangsung. “Jika kejahatan terhadap warga sipil di Lebanon dan Palestina terus berlanjut, respons Iran akan dilakukan dengan kekuatan yang lebih besar,” tegas IRGC.

Sebagai bagian dari peringatan itu, IRGC menyebut konsentrasi pasukan Israel di wilayah utara Palestina yang diduduki serta Jalur Gaza sebagai target potensial. Area tersebut dinilai akan menjadi sasaran dalam skenario eskalasi berikutnya.

Pernyataan tersebut juga menyinggung kemungkinan penggunaan serangan rudal dan drone dalam skala besar jika situasi tidak berubah. IRGC juga menegaskan kesiapan untuk memperluas cakupan operasi militer tanpa pembatasan tambahan dalam kondisi tertentu.

Ultimatum ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran telah meningkatkan operasi balasan terhadap target yang disebut terkait kepentingan militer lawan.

Situasi kawasan tetap berada dalam fase sangat sensitif dengan risiko eskalasi yang dapat meluas ke berbagai front konflik. []