Internasional
IRGC Luncurkan Gelombang ke-80 Operasi Janji Sejati 4, Sasar Target Israel dan Pangkalan AS
Ahlulbait Indonesia | 25 Maret 2026 — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan gelombang ke-80 Operasi Janji Sejati 4 dengan sasaran target strategis di wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan. Operasi terbaru ini sebagai bagian dari dukungan Iran terhadap Hizbullah dan warga Lebanon selatan di tengah eskalasi konflik regional yang terus meluas.
Laporan Al Mayadeen pada Rabu (25/3/26), menyebut gelombang serangan kali ini diarahkan ke sejumlah pusat militer dan titik strategis di wilayah utara Palestina yang diduduki, di bawah serangan rudal intensif Angkatan Udara IRGC.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Hubungan Masyarakat IRGC menegaskan operasi tersebut diluncurkan untuk mendukung front perlawanan di Lebanon selatan. “Operasi ini diluncurkan untuk mendukung Perlawanan Islam di Lebanon dan rakyat Lebanon selatan,” tulis IRGC.
IRGC juga menyebut serangan ini sebagai pembuka dari rangkaian operasi lanjutan yang sebelumnya telah diumumkan terhadap Israel. Fokus serangan diarahkan pada konsentrasi pasukan dan pusat dukungan militer di wilayah utara Palestina yang diduduki serta Jalur Gaza.
Salah satu target utama yang disebut dalam operasi ini adalah markas komando militer Israel di utara kota Safed, yang disebut memiliki peran dalam pengendalian operasi di front utara. Di saat yang sama, IRGC memperluas cakupan target ke sejumlah titik lain di jantung wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan Bnei Brak.
Operasi juga menjangkau aset militer Amerika Serikat di kawasan. IRGC menyebut pangkalan Ali Al Salem dan Arifjan di Kuwait, Al Azraq di Yordania, serta Sheikh Isa di Bahrain sebagai bagian dari sasaran serangan.
Menurut IRGC, operasi dijalankan dengan kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat, rudal presisi, serta drone bunuh diri. “Gelombang ini masih berlanjut,” demikian pernyataan tersebut.
Beberapa jam sebelum pengumuman gelombang ke-80, IRGC juga melaporkan serangan terhadap Eilat dan fasilitas penerima satelit yang disebut mendukung kebutuhan operasional militer Israel.
Dalam perkembangan terpisah, militer Iran menyatakan telah menyerang markas pasukan Amerika Serikat di bandara Erbil menggunakan rudal permukaan ke permukaan. Lokasi itu disebut sebagai salah satu pusat komando dan dukungan terpenting Washington di kawasan.
Rangkaian operasi ini menjadi bagian dari respons Iran terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari. Tehran menyatakan langkah tersebut dijalankan dalam kerangka hak membela diri dan respons terhadap agresi yang terus berlanjut.
Di front Lebanon, Hizbullah juga dilaporkan terus meningkatkan operasi terhadap target Israel seiring intensifikasi serangan sejak awal Maret. Situasi tersebut memperlihatkan konflik tidak lagi bergerak dalam pola terbatas, melainkan berkembang menjadi tekanan lintas-front yang semakin terkoordinasi.
Sejauh ini, medan konflik kini tidak lagi terpusat pada satu titik, melainkan telah berubah menjadi gelanggang tekanan regional yang bergerak serentak dari beberapa front sekaligus. []
