Internasional
Elite AS Peringatkan Risiko Invasi Darat ke Iran
Ahlulbait Indonesia | 29 Maret 2026 — Kekhawatiran terhadap kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran kian menguat di Washington. Sejumlah anggota parlemen, mantan pejabat militer, dan analis memperingatkan langkah itu sangat berisiko memicu perang berkepanjangan dengan dampak yang jauh lebih luas di kawasan.
Laporan MSNBC pada Sabtu (28/3/2026) menyebut, meningkatnya kekhawatiran itu muncul di tengah kedatangan sekitar 8.000 personel militer AS ke kawasan Asia Barat. Penambahan pasukan tersebut memicu perdebatan politik baru di Amerika Serikat, terutama terkait arah strategi Washington terhadap Iran.
Sejumlah legislator menilai pengerahan pasukan tambahan tidak akan secara signifikan mengubah kalkulasi strategis Teheran. Sebaliknya, langkah itu dinilai berpotensi memperluas konflik tanpa tujuan akhir yang jelas.
Richard Blumenthal, anggota senior Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata, menilai pengerahan kekuatan semacam itu tidak akan cukup untuk memaksa Iran tunduk pada tekanan Amerika Serikat.
Laporan tersebut menyebut kontingen yang dikirim mencakup pasukan terjun payung dan Marinir, yang dijadwalkan tiba secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Namun, sejumlah pengkritik mengingatkan jumlah itu masih jauh lebih kecil dibanding kekuatan invasi besar yang pernah digunakan Washington saat menyerbu Irak dua dekade lalu.
Kritik juga datang dari kalangan veteran Perang Irak yang kini berada di lingkar politik Partai Demokrat. Mereka menilai misi militer semacam itu berisiko menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik darat baru tanpa strategi keluar yang jelas.
Di tengah perdebatan tersebut, kembali mencuat wacana penargetan Pulau Kharg, wilayah strategis yang menjadi jalur utama ekspor minyak Iran. Gagasan itu sebelumnya sempat muncul dalam lingkaran politik Washington sebagai salah satu opsi untuk menekan Teheran secara ekonomi dan militer.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya disebut pernah mengancam operasi semacam itu. Beberapa tokoh Partai Republik juga secara terbuka mendukung skenario perebutan Pulau Kharg dengan alasan dapat melumpuhkan ekonomi Iran.
Namun, usulan tersebut justru memicu penolakan, termasuk dari sebagian kalangan Partai Republik sendiri. Sejumlah pihak menilai skenario itu terlalu gegabah dan berpotensi membuka babak perang yang lebih besar.
Seorang mantan pejabat senior militer Amerika Serikat yang berbicara kepada MSNBC dengan syarat anonim menyebut gagasan tersebut sangat berbahaya.
“Itu adalah bencana yang akan segera terjadi jika itu adalah misi mereka,” kata pejabat tersebut, merujuk pada kemungkinan operasi untuk merebut Pulau Kharg.
Peringatan serupa disampaikan ilmuwan politik dan pakar Iran dari Universitas Johns Hopkins, Vali Nasr. Menurut dia, serangan terhadap Kharg tidak akan berhenti pada satu target taktis, tetapi berpotensi memicu respons militer besar dari Iran.
“Merebut Kharg berarti menghancurkannya, dan Iran akan merespons dengan eskalasi besar-besaran. Merebut tanah Iran dan menghancurkan depot ekspor minyaknya akan berarti dimulainya perang perlawanan di Iran,” ujar Nasr.
Analisis yang berkembang di Washington juga menyoroti potensi salah kalkulasi dalam membaca kompleksitas medan konflik Iran. Sejumlah pengamat menilai perebutan wilayah strategis seperti Kharg mungkin terlihat terbatas di atas peta, tetapi akan sangat sulit dipertahankan secara militer dalam jangka panjang.
Selain itu, tidak ada jaminan operasi semacam itu akan memaksa kepemimpinan Iran menerima tuntutan politik Amerika Serikat. Sebaliknya, langkah tersebut dinilai bisa memperkuat perlawanan dan memperdalam konflik regional yang sudah berada di titik rawan.
Dengan meningkatnya mobilisasi militer dan menguatnya perdebatan di internal elite Amerika Serikat, wacana invasi darat ke Iran kini bukan lagi sekadar spekulasi pinggiran. Bagi banyak pihak di Washington, itu adalah skenario berisiko tinggi yang bisa berubah menjadi perang besar tanpa jalan keluar yang jelas. []
