Ikuti Kami Di Medsos

Pendidikan

Nick Butterworth dan Pesan bagi Orang Tua: Luangkan Waktu untuk Bercerita kepada Anak

Published

on

Anak tidak harus lancar membaca untuk mencintai cerita. Luangkan waktu untuk membacakan buku dan menemani mereka mengenal dunia. (Ilustrasi anak sedang membaca buku. Shutterstock/Issaret Yatsomboon)
Anak tidak harus lancar membaca untuk mencintai cerita. Luangkan waktu untuk membacakan buku dan menemani mereka mengenal dunia. (Ilustrasi anak sedang membaca buku. Shutterstock/Issaret Yatsomboon)

Oleh: Muhlisin Turkan

Media ABI, 20 Oktober 2026 — Nick Butterworth baru belajar membaca pada usia delapan atau sembilan tahun. Kini, di usia 80 tahun, ia dikenal sebagai penulis buku anak dan pencipta seri Percy the Park Keeper. Kecintaannya pada cerita tumbuh sejak kecil, ketika ibu dan neneknya meluangkan waktu untuk membacakan buku, jauh sebelum ia mampu membaca sendiri.

Melalui Moby-Dick, Tom Brown’s School Days, dan Alice in Wonderland, Butterworth mengenal dunia yang sebelumnya hanya hadir dalam imajinasinya. Ia menikmati cerita sebelum mampu membaca secara mandiri. Pengalaman itu menumbuhkan kecintaannya pada bahasa dan imajinasi, yang kelak berkembang menjadi perjalanan panjangnya sebagai penulis.

Baca juga: Reaksi Ulama terhadap Pelarangan Hijab

Pengalaman Butterworth mengingatkan bahwa anak tidak harus menunggu lancar membaca untuk mulai mengenal buku dan cerita. Ketika orang tua meluangkan waktu untuk membacakan kisah, anak memperoleh kesempatan mengenal bahasa, mengembangkan imajinasi, dan menikmati kedekatan bersama orang-orang terdekatnya.

Meluangkan Waktu untuk Bercerita

Kesibukan sehari-hari kerap menyita perhatian orang tua. Pekerjaan, urusan rumah tangga, dan berbagai tanggung jawab membuat waktu bersama anak harus dibagi dengan banyak hal. Dalam keadaan seperti ini, bercerita mungkin tampak sebagai kegiatan kecil yang bisa ditunda. Padahal, beberapa menit untuk membacakan buku atau mendengarkan cerita anak dapat menjadi bagian berarti dari kedekatan keluarga.

Bercerita tidak harus selalu menggunakan buku. Orang tua dapat membagikan pengalaman masa kecil, kisah keluarga, peristiwa sehari-hari, atau cerita yang mengandung nilai kebaikan. Anak juga dapat diajak memilih cerita, menebak kelanjutannya, dan menyampaikan pendapat tentang tokoh yang mereka dengar. Percakapan semacam ini memberi ruang bagi anak untuk bertanya, berimajinasi, dan mengungkapkan pikirannya.

Yang terpenting bukanlah panjang cerita atau banyaknya buku yang selesai dibacakan, melainkan perhatian yang diberikan kepada anak. Ketika orang tua bersedia mendengarkan pertanyaan dan menanggapi rasa ingin tahu mereka, anak mendapat kesempatan untuk merasa dihargai. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membuat cerita menjadi bagian alami dari kehidupan keluarga.

Cerita Membuka Jalan Menuju Pengetahuan

Di tengah arus informasi yang semakin deras, anak-anak membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan membaca kata-kata. Mereka juga perlu belajar memahami makna, mengajukan pertanyaan, dan menilai informasi secara cermat. Kebiasaan mendengarkan dan mendiskusikan cerita dapat menjadi salah satu langkah awal untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.

Saat membacakan cerita, orang tua dapat bertanya mengapa seorang tokoh mengambil keputusan tertentu, bagaimana perasaan tokoh lain, atau apa yang mungkin terjadi jika situasinya berbeda. Pertanyaan sederhana ini mengajak anak berpikir tanpa mengubah waktu bercerita menjadi pelajaran formal.

Baca juga: Pandu ABI Jepara Tanamkan Keteladanan Sayyidah Zainab a.s. kepada Anak Usia Dini

Ketika anak mulai mampu membaca sendiri, kebiasaan itu dapat berkembang menjadi kegiatan membaca bersama, bertukar pendapat tentang buku, atau menuliskan pengalaman mereka. Membaca memperkenalkan anak pada gagasan dan pengalaman baru, sedangkan berbicara dan menulis membantu mereka mengungkapkan pemahaman dengan kata-kata sendiri.

Bercerita tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan anak. Namun, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari lingkungan keluarga yang mendukung kemampuan berbahasa, rasa ingin tahu, dan kedekatan emosional. Buku tidak harus selalu menjadi pusatnya. Kisah sederhana tentang pengalaman keluarga atau kejadian di sekitar rumah pun dapat menjadi awal percakapan yang bermakna.

Dari Cerita di Rumah hingga Budaya Membaca

Kecintaan Butterworth pada cerita tidak berhenti pada pengalaman masa kecilnya. Bertahun-tahun kemudian, ia turut membantu mendukung pendirian perpustakaan di Lionwood Infant School, Norwich, Inggris. Ia menyumbangkan karya seni untuk dilelang guna mengumpulkan dana, serta menyumbangkan buku dan membaca bersama anak-anak. Perpustakaan tersebut dirancang tanpa layar digital agar anak-anak dapat berfokus pada bacaan.

Ada hubungan yang kuat antara pengalaman masa kecil Butterworth dan keterlibatannya dalam proyek perpustakaan itu. Dahulu, ibu dan neneknya membukakan dunia cerita baginya. Kemudian, ia ikut membantu menyediakan kesempatan agar anak-anak lain dapat menemukan dunia serupa melalui buku.

Kisah ini mengingatkan bahwa budaya membaca tidak cukup dibangun dengan menyediakan buku atau meminta anak rajin belajar. Anak perlu memperoleh kesempatan untuk merasakan bahwa cerita itu menyenangkan, pengetahuan itu menarik, dan membaca dapat menjadi kegiatan yang dinikmati bersama orang-orang terdekatnya.

Orang tua tidak harus menjadi pendongeng ulung atau memiliki banyak buku. Mereka dapat memulainya dengan cerita sederhana dan waktu yang realistis, lalu menjadikannya kebiasaan. Konsistensi dan perhatian sering kali lebih berarti daripada kegiatan besar yang hanya dilakukan sesekali.

Perjalanan Butterworth bermula dari cerita yang dibacakan orang-orang terdekatnya ketika ia belum mampu membaca sendiri. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi penulis yang menghadirkan cerita bagi anak-anak lain. Kisahnya memperlihatkan bagaimana pengalaman sederhana di rumah dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak dalam mengenal dunia.

Di tengah kesibukan sehari-hari, luangkanlah waktu untuk bercerita kepada anak-anak. Bacakan buku, ceritakan pengalaman, atau dengarkan kisah yang ingin mereka bagikan. Kita tidak pernah tahu sejauh mana sebuah cerita sederhana akan menemani perjalanan hidup mereka. []

Baca juga: Transformasi Guru Madrasah Diniyah, Profesional dalam Mengajar, Teladan dalam Bersikap