Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Akhirnya Syahid Imam Khamenei pun “Berkurban”

Published

on

Syahid Imam Ali Khamenei
Iustrasi Syahid Imam Ali Khamenei

Oleh: Ustadz Muhammad Elyas
(Pengajar Hauzah Ilmiah Shiddiqah Zahra Condet, Jakarta Timur)

Ahlulbait Indonesia, 21 Mei 2026— Sejarah agama-agama besar tidak hanya dibangun oleh ajaran, melainkan juga oleh pengorbanan. Jalan para nabi dan para imam pewaris mereka bukanlah jalan yang sunyi dari ujian, tetapi jalan panjang yang dipenuhi luka, kesetiaan, dan penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Dalam tradisi Islam, pengorbanan bukan hanya ritual, melainkan bukti paling nyata dari iman seseorang. Pada hari Arafah, Imam Husain as mengungkapkan:

يا ممسك يد إبراهيم عن ذبح ابنه بعد كبر سنه وفناء عمره

yang kurang lebih berarti, “Wahai Zat yang menahan tangan Ibrahim as yang telah lanjut usia dari menyembelih putranya.”

Nabi Ibrahim as, pada hari yang kini bertepatan dengan Iduladha, mempersembahkan sesuatu yang paling dicintainya, bahkan lebih berharga daripada jiwanya sendiri. Dengan tangannya sendiri, ia bersedia mengorbankan putranya setelah sekian lama menanti karunia seorang anak hingga di usia senja. Ia pun berucap:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِيْ عَلَى الْكِبَرِ اِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبِّيْ لَسَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa.” [QS Ibrahim: 39]

Baca juga: Syahid Imam Khamenei: “Islam Agama Tablig”

Arti Pengorbanan dan Cobaan

Sirah Nabi Ibrahim as yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, menurut Syahid Imam Khamenei qs, mengandung setidaknya dua pelajaran penting:

  1. Itsâr dan pengorbanan merupakan simbol bagi kaum mukmin yang ingin menempuh jalan kebenaran menuju derajat yang tinggi. Kedudukan mulia di sisi Allah tidak mungkin dicapai tanpa pengorbanan dan kesediaan melewati ujian. Terkadang dengan mempertaruhkan nyawa, menyerahkan harta, atau melepaskan jabatan.
  2. Imtihân berarti melewati cobaan. Dengan melaluinya, seseorang atau sebuah bangsa dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Jika gagal melewati ujian itu, ia tidak akan mampu mewujudkan potensi dirinya dan tidak akan mampu mengalahkan dominasi hawa nafsu.
    [Khamenei.ir]

Nabi Musa as pun menghadapi banyak ujian. Salah satu yang paling berat terjadi ketika beliau kembali dari Miqat setelah menjalani puasa selama 40 hari (QS Al-A’raf: 142). Sepulangnya, beliau mendapati Bani Israil telah kembali kufur setelah sebelumnya beriman. Mereka berubah menjadi kaum musyrik yang menyembah anak sapi.

Bayangkan bagaimana perasaan Nabi Musa as saat itu. Beliau terpukul menyaksikan penyimpangan besar tersebut. Sebagaimana diungkap dalam QS Ash-Shaff: 5:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ

“Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian?’”

Apa yang dilakukan Bani Israil terhadap Nabi Musa as merupakan bentuk kedurhakaan besar kepada nabi mereka sendiri.

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh

Ibrah bagi Kaum Mukmin

Sebagai ibrah dari kisah tersebut, QS Al-Ahzab: 69 menyeru:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْاۗ وَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًاۗ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan mereka. Dan dia mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”

Karena itu, seorang mukmin mesti selalu menjaga hubungan yang baik dengan Allah dan Rasul-Nya saw serta terus mendekatkan diri kepada-Nya. Iman dapat bertambah kuat, tetapi juga dapat melemah hingga hilang sama sekali. Oleh sebab itu, iman pasti diuji, sebagaimana yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Allah swt berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ

“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS Ali Imran: 144]

Selain itu, seorang mukmin juga mesti setia kepada pemimpinnya sebagaimana diterangkan dalam QS Al-Maidah: 55, yaitu kepada Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri.

Dalam konsep intizhar (penantian kemunculan) Imam Zaman af, yang berangkat dari firman Allah dalam QS Al-Ahzab: 23, seorang mukmin ketika dihadapkan pada pilihan antara kehidupan Islam dan kepentingan duniawi, harus memilih untuk tetap setia kepada agamanya. Sebagaimana slogan yang dipopulerkan oleh Muqawamah belakangan ini:

“Inna ‘alal ‘ahdi”

“Kami tetap setia pada janji.”

Seorang mukmin tidak boleh berkhianat seperti Bani Israil yang durhaka kepada nabi mereka sendiri.

Baca juga: Pesan Pemimpin Tertinggi Iran dalam Peringatan 40 Hari Syahadah Imam Ali Khamenei

Arti Kesetiaan

Nabi Ibrahim as mengajarkan arti kesetiaan melalui pengorbanannya demi meraih keridaan Allah swt. Dalam konteks ini, teringat ucapan Imam Husain as yang membuat hati kaum mukmin bergetar. Ketika bayi beliau yang kehausan justru disambut musuh dengan anak panah, beliau berkata:

أَرَضِيتَ يَا رَبّ؟ خُذْ حَتَّى تَرْضَى

“Apakah Engkau telah ridha, ya Allah? Terimalah pengorbanan ini hingga Engkau ridha.”

Dalam pandangan para pecinta Ahlul Bait, pengorbanan bukanlah kehilangan yang sia-sia. Pengorbanan merupakan bukti tertinggi dari kesetiaan. Karena itu, syahadah selalu dipandang sebagai kemuliaan. Bagi sosok seperti Imam Ali Khamenei, syahadah bahkan menjadi cita-cita spiritual yang sangat didambakan. Sebagaimana ungkapan para pendahulu suci mereka:

القتل لنا عادة وكرامتنا من الله الشهادة

“Terbunuh adalah kebiasaan bagi kami, sedangkan syahadah adalah kemuliaan dari Allah bagi kami.”

Karena itu, ketika satu per satu para sahabatnya gugur syahid seperti Jenderal Qasim Soleimani, Abu Mahdi al-Muhandis, Sayyid Hasan Nasrallah, Syahid Ayatullah Ibrahim Raisi, dan lainnya, beliau merasakan duka mendalam. Namun pada saat yang sama, ada kerinduan untuk menyusul mereka.

Kerinduan Imam Ali Khamenei kepada para pendahulunya akhirnya terobati dengan meneguk cawan syahadah dalam peristiwa 28 Februari 2026.

Syahid Imam Ali Khamenei bersama keluarganya yang turut syahid bersamanya telah mempersembahkan kesetiaan mereka kepada Islam dan umat Nabi saw. Menyusul para pahlawan Husaini, Ali Larijani dan yang lainnya pun tidak ingin tertinggal untuk berkorban demi mengikuti Sang Pemimpin mereka.

Pada akhirnya, pengorbanan setiap manusia memang berbeda-beda. Tidak semua orang diminta menyerahkan nyawa. Ada yang diuji dengan harta, jabatan, kenyamanan hidup, atau kepentingan pribadinya. Namun hakikatnya tetap sama: kesetiaan selalu menuntut pengorbanan. Dan barangkali di situlah makna terdalam dari kurban, bukan semata tentang apa yang disembelih manusia, tetapi tentang apa yang sanggup dilepaskan demi tetap setia kepada Tuhan dan keyakinannyaa. []

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Kesyahidan Imam Ali Khamenei Membuka Babak Baru Perlawanan Umat