Daerah
DPW ABI DKI Jakarta Dorong Kemandirian Organisasi melalui Strategi Bisnis Berkelanjutan

Jakarta, 9 Mei 2026 — Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) DKI Jakarta melalui Departemen Pemberdayaan Ekonomi sukses menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dari Data Menjadi Aksi: Jihad Ekonomi Menuju Kemandirian Komunitas yang Inklusif, Kolaboratif, dan Berdampak bagi Umat.” Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Aula Imam Khomeini, ICC Jakarta.
Acara ini dihadiri oleh total 52 peserta, yang terdiri dari 30 peserta offline dan 22 peserta online. Seluruh peserta merupakan representasi dari berbagai unsur strategis organisasi, meliputi pengurus DPP ABI, DPW ABI DKI Jakarta, perwakilan DPD ABI se-Jakarta (Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat), serta jajaran Lembaga Otonom seperti ABI Responsif DKI Jakarta dan Muslimah ABI.

Rangkaian acara diawali dengan registrasi, pembukaan, serta pembacaan data hasil survei ekonomi internal dan sambutan dari DPW ABI DKI Jakarta. Memasuki sesi inti, diskusi dimoderatori oleh Hilmy D. Haq dari Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, dengan menghadirkan dua pakar akademisi sebagai narasumber Dr. Akbar Adhi Utama (Dosen School of Business and Management ITB Bandung) dan Dhaniel Ilyas, M.Sc. (Dosen Faculty of Economics).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang diskusi strategis untuk menjawab tantangan keberlanjutan organisasi masyarakat sipil di tengah perubahan lanskap pendanaan. Selain itu, forum ini menjadi wadah untuk membangun kesadaran pentingnya diversifikasi pendanaan melalui pendekatan bisnis yang tetap selaras dengan nilai dan misi organisasi.

Ketua DPW ABI DKI Jakarta, Anis Muhamad
Dalam sambutannya, Ketua DPW ABI DKI Jakarta, Anis Muhamad, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses panjang yang diawali dengan survei dan pemetaan potensi ekonomi komunitas, serta pelaksanaan FGD lanjutan setelah sebelumnya dilakukan di tingkat DPP ABI.
Menurutnya, FGD ini menjadi ruang pengayaan gagasan dan sumber insight baru agar komunitas mampu mengambil langkah nyata menuju kemandirian ekonomi organisasi.
“Setelah melalui survei, pemetaan potensi ekonomi, dan FGD yang kedua kali ini, komunitas harus berani melangkah maju untuk mewujudkan pembentukan unit usaha produktif ormas yang diharapkan dapat membangun kemandirian finansial dan pendanaan program secara bertahap,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa organisasi tidak boleh takut ataupun khawatir mengalami kegagalan saat memulai unit bisnis organisasi.
“Kita tidak boleh takut atau khawatir gagal dalam memutuskan untuk mulai menjalankan unit bisnis ormas. Saat kunci start sudah di tangan dan diawali dengan survei, pemetaan, serta FGD, maka yang akan kita hadapi ke depan sejatinya adalah keberhasilan. Kalaupun nanti ada kendala atau bahkan kegagalan, pada hakikatnya itu bukan kegagalan, tetapi keberhasilan dalam pembelajaran untuk melangkah maju membuka peluang bisnis dan usaha lainnya,” tambahnya.

Sagaf Basry, ketua panitia
Dalam sambutannya, Sagaf Basry, ketua panitia, menyampaikan bahwa penguatan ekonomi komunitas tidak cukup hanya berbasis semangat gerakan, namun juga memerlukan data, strategi, dan kolaborasi lintas elemen agar mampu menghasilkan dampak nyata bagi komunitas.
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan pentingnya organisasi masyarakat untuk mulai membangun model bisnis berkelanjutan sebagai bagian dari strategi kemandirian organisasi. Selain membahas tantangan pendanaan ormas di Indonesia, forum juga mengulas berbagai peluang pengembangan sektor ekonomi prioritas, strategi penguatan ekonomi berbasis komunitas, hingga pentingnya penggunaan data dalam penyusunan kebijakan dan aksi ekonomi.
Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai langkah awal membangun usaha organisasi, model kolaborasi ekonomi yang inklusif, serta studi kasus pengembangan bisnis yang tetap berpijak pada misi sosial dan pemberdayaan umat.
Melalui forum diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, kegiatan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat gerakan ekonomi ABI di wilayah DKI Jakarta, termasuk pentingnya sinergi antarwilayah, penguatan kapasitas komunitas, serta pengembangan program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak.
DPW ABI DKI Jakarta berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem ekonomi umat yang lebih mandiri, kolaboratif, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Seluruh unsur perwakilan yang hadir secara aktif merumuskan rekomendasi nyata serta rencana tindak lanjut gerakan ekonomi wilayah. Acara ditutup secara resmi dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.
DPW ABI DKI Jakarta berkomitmen untuk mengubah data potensi yang ada menjadi aksi nyata demi mewujudkan kemandirian finansial organisasi dan komunitas yang berdampak luas.

