Sejarah
Keagungan Sayyidah Khadijah al Kubro as. di Sisi Allah Swt dan Rasul-Nya
Pasuruan, 28 Februari 2026 – Malam ke-10 bulan Ramadhan, Jum’at (27/2), bertepatan dengan malam haul istri Nabi Muhammad Saww, Khadijah Al-Kubra. Momentum ini tidak hanya menjadi ruang spiritual yang penuh makna, tetapi juga menjadi pengingat akan betapa agung kedudukan dan keutamaan Sayidah Khadijah di sisi Allah Swt dan Rasul-Nya.
Melalui kajian malam yang diselenggarakan di Yayasan Ulul Albab Pasuruan dan menghadirkan Ustadz Hud Assegaf, jamaah diajak untuk kembali mengenal, memahami, serta memperdalam kecintaan kepada salah satu wanita termulia dalam sejarah Islam tersebut.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB, diiringi gerimis yang menambah kekhusyukan suasana, diawali dengan pembacaan doa Iftitah.Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat dan penuh penghayatan.
Kedudukan yang Agung di Sisi Allah dan Rasul-Nya
Sebagai seorang Muslim, kita semestinya menyadari bahwa kedudukan Sayidah Khadijah bukan sekadar bagian dari catatan sejarah. Beliau adalah bukti nyata bahwa di balik keteguhan seorang Rasul dalam mengemban risalah, terdapat dukungan luar biasa dari seorang istri yang tulus dan setia.
Harta dan jiwa beliau menjadi pondasi awal tegaknya dakwah Islam. Dengan keikhlasan dan ketabahan yang luar biasa, Sayidah Khadijah mengorbankan seluruh yang dimilikinya demi keberlangsungan perjuangan Islam. Pengorbanan inilah yang menjadi salah satu fondasi penting kejayaan Islam di masa-masa awal yang penuh ujian.
Keimanan yang Melampaui Ukuran Duniawi
Sering kali manusia terjebak dalam ukuran-ukuran duniawi: kekayaan, kekuasaan, atau keberhasilan lahiriah. Namun keutamaan Sayidah Khadijah jauh melampaui itu semua. Kedekatan beliau kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kesediaannya berkorban tanpa pamrih, menjadi cerminan iman yang sejati.
Bahkan menjelang wafatnya, beliau masih merasa belum mampu melakukan lebih banyak untuk Islam dan meminta maaf atas keterbatasannya. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati dan kedalaman pemahaman beliau tentang hakikat pengabdian kepada Allah Swt.
Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa keimanan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita mendekatkan diri dan berbakti kepada Allah serta Rasul-Nya.
Meneladani Keikhlasan dan Keteguhan
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hud Assegaf mengajak jamaah untuk menjadikan momentum haul ini sebagai sarana introspeksi dan peningkatan kualitas iman.
“Malam ini, saat kita merenungkan wafatnya Sayidah Khadijah, marilah kita meneladani beliau. Pengorbanan beliau semata-mata karena Allah. Mari kita tingkatkan keimanan dan kecintaan kita kepada beliau. Semoga kita mampu meneladani keikhlasan, keteguhan, dan kecintaan beliau terhadap Islam. Dan di tengah doa serta ziarah ini, kita juga disadarkan akan pentingnya membangun solidaritas dan doa untuk saudara-saudara kita di Palestina dan Iran dalam menghadapi penjajahan dan kedholiman.”
Ajakan tersebut menegaskan bahwa meneladani Sayidah Khadijah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai perjuangan, solidaritas, dan kepedulian terhadap umat.
Momentum Ramadhan untuk Memperkokoh Iman
Semoga Ramadhan menjadi jalan bagi kita untuk memperkokoh iman dan memperdalam cinta kepada Nabi Muhammad Saww dan Ahlul Bait-nya. Dengan meneladani keikhlasan dan keteguhan Sayidah Khadijah, kita diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih baik, istiqomah dalam kebenaran, serta berkontribusi nyata bagi kemaslahatan umat. [HMP Kota Pasuruan]
