Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Ayatullah Khamenei dan Rumus Perang Regional: Deterensi yang Membuat AS Berhitung Ulang

Published

on

Foto ilustrasi. (sumber: Poros Perlawanan)

Oleh: Muhlisin Turkan

Ahlulbait Indonesia, 2 Februari 2026 — Pidato Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Khamenei, di Husainiyah Imam Khomeini, Teheran, Minggu (1/2/2026), memuat pesan strategis yang tegas: jika Amerika Serikat memulai perang, konflik tidak akan berhenti di Iran. Eskalasi diperkirakan menjalar dan berubah menjadi perang regional.

“Amerika harus tahu, jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” kata Ayatullah Khamenei.

Di Timur Tengah, perang jarang berhenti di negara yang pertama kali ditembak.

Peringatan itu memperlihatkan rumus deterensi Teheran. Iran tidak hanya mengandalkan kemampuan militer, tetapi mengunci perang dalam logika geopolitik. Menyerang Iran berarti membuka pintu instabilitas luas di kawasan.

Ancaman Perang Regional dan Perangkap Eskalasi

Sebagian pihak menganggap ancaman perang regional cuma gertakan. Namun di Timur Tengah, gertakan berubah menjadi fakta bukan karena niat, melainkan karena rantai eskalasi yang sulit dikendalikan.

Sejarah memberi pengingat. Amerika menggempur Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003 dengan asumsi operasi militer dapat ditutup dengan cepat. Dua perang itu justru memicu instabilitas berkepanjangan, perang milisi, serta ruang kacau yang kemudian melahirkan ISIS.

Iran membaca pengalaman tersebut sebagai pelajaran: Washington mungkin punya kekuatan untuk memulai perang, tetapi kerap kesulitan mengendalikan babak setelahnya.

Poros Perlawanan: Deterensi Multi-Front Iran

Jika deterensi klasik bertumpu pada pangkalan dan kapal induk, Iran mengembangkan model jaringan. Di kawasan, Teheran memiliki ekosistem Poros Perlawanan yang memperluas efek konflik: Hizbullah di Lebanon, Hashd al-Shaabi di Irak, Ansarullah/Houthi di Yaman, serta kelompok-kelompok Perlawanan di Gaza.

Inilah sebabnya “perang regional” bukan slogan kosong. Rumusnya sederhana, jika satu front meledak, front lain bisa ikut menyala. Serangan terhadap Iran berpotensi meluas menjadi krisis multi-front, bukan semata karena respons Teheran, tetapi karena struktur aliansi kawasan memang saling mengunci.

Selat Hormuz: Risiko Energi Global

Kekuatan Iran bukan hanya militer. Geografi juga menjadi senjata. Iran berada di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia. Dalam situasi krisis, pasar bereaksi lebih cepat dibanding tank atau kapal. Harga minyak dapat melonjak, ekonomi global terguncang, lalu negara-negara kawasan ikut panik.

Serangan terhadap fasilitas Aramco pada 2019 membuktikan satu hal: energi adalah senjata, dan kawasan bisa terguncang tanpa perang terbuka. Dalam hitungan jam, pasar bereaksi dan alarm keamanan energi global ikut berbunyi.

Situasi ini menciptakan tekanan politik tambahan bagi Washington. Perang melawan Iran bukan hanya berisiko secara militer, tetapi juga dapat memukul stabilitas ekonomi global.

Revolusi sebagai Identitas Politik Iran

Dalam pidatonya, Pemimpin Revolusi kembali menegaskan makna 12 Bahman sebagai titik balik Revolusi Islam, kembalinya Imam Khomeini dan lahirnya Republik Islam yang mengakhiri monarki Pahlavi.

Bagi Iran, revolusi bukan semata persoalan sejarah. Revolusi menjadi legitimasi politik sekaligus identitas negara. Karena itu, konflik dengan Amerika tidak dipahami sebagai dinamika diplomatik semata, melainkan benturan prinsip antara kedaulatan versus dominasi.

Konflik Struktural Iran-AS

Ayatullah Khamenei menyebut akar konflik Iran-Amerika sebagai persoalan mendasar. Menurutnya, permusuhan puluhan tahun terjadi karena Amerika ingin menguasai Iran, sementara rakyat dan sistem Republik Islam menolaknya.

“AS ingin menelan Iran, tapi rakyat Iran dan Republik Islam jadi penghalangnya,” ujar Ayatullah Khamenei.

Dalam pandangan Teheran, konflik ini bersifat struktural. Konsekuensinya jelas: normalisasi penuh sulit terjadi, sedangkan negosiasi hanya berfungsi sebagai manajemen konflik, bukan jalan damai permanen.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung pola ancaman para pejabat Amerika, termasuk frasa yang berulang digunakan Washington.

“Ancaman-ancaman terbaru dari pejabat AS mengulang pola lama, termasuk ungkapan ‘semua opsi ada di meja’,” katanya.

Kerusuhan Januari 2026 dan Perang Hibrida

Pada bagian lain, Ayatullah Khamenei menyinggung kerusuhan Januari 2026 yang disebutnya sebagai desain Amerika dan Zionis, termasuk pola “kudeta semu” serta keterlibatan CIA dan Mossad.

Pernyataan ini memperlihatkan strategi politik Iran: protes tidak dibiarkan menjadi isu sosial-ekonomi, tetapi diposisikan sebagai ancaman keamanan nasional. Dalam kerangka Teheran, instabilitas domestik bukan hanya persoalan protes, tetapi bagian dari perang hibrida. Ketika tekanan ekonomi, media, dan mobilisasi jalanan digabung, targetnya sama: melemahkan Iran tanpa invasi.

Pendekatan ini memudahkan pemerintah membangun legitimasi tindakan penindakan, sekaligus mempersempit ruang simpati publik terhadap oposisi dan kelompok yang dianggap terlibat kerusuhan.

Garis Merah Teheran

Pada penutup pidatonya, Pemimpin Tertinggi menegaskan Iran tidak menginginkan perang. Namun Iran menyatakan siap memberi respons keras jika diserang.

“Kami bukan pihak yang memulai dan tidak ingin menyerang negara mana pun. Namun bangsa Iran akan memberikan pukulan keras terhadap siapa pun yang ingin menyerang dan mengganggu,” tegas Ayatullah Khamenei.

Pernyataan itu memperjelas garis merah Teheran. Iran berupaya membuat perang melawan Iran tidak lagi menarik sebagai opsi, karena konsekuensi regional dan global dipastikan meningkat.

Ketakutan sebagai Formula Stabilitas

Amerika memiliki kekuatan militer terbesar di dunia. Namun Timur Tengah bukan medan yang dapat dikendalikan seperti operasi singkat. Kawasan ini dipenuhi simpul konflik, jaringan aliansi, serta efek domino yang mudah memicu eskalasi.

Iran memanfaatkan realitas tersebut untuk memperkuat deterensi dan menggunakan jaringan Poros Perlawanan, posisi strategis Selat Hormuz, serta risiko guncangan energi global sebagai penambah biaya perang.

Di kawasan ini, perdamaian jarang lahir dari kesepakatan. Perdamaian lebih sering lahir dari ketakutan kolektif terhadap konsekuensi perang.

Inilah mengapa pidato Ayatullah Khamenei bukan pidato biasa. Ini peringatan strategis. Amerika boleh sanggup memulai perang. Namun setelah itu, pertanyaannya bukan lagi siapa menang, melainkan siapa sanggup menghentikannya. [HMP/MT]